Ini tentang Empat Gadis, dunia seolah tertawa keras dengan outfit yang mereka kenakan karena dirasa lusuh. Namun, itu semua sudah tidak berlaku lagi karena mereka mengubah penampilan dan mengatakan “Tidak ingin seperti dahulu lagi.” Penyebab dari perubahan mereka begitu simpel, Empat Gadis tersebut sekarang mindset-nya lebih dewasa dan beranggapan karena sekarang mahasiswi jadi akan lebih baik berpenampilan keren agar move on dari mereka yang masih SMA dulu. Ternyata tidak sia-sia hasilnya, mereka puas dengan tampilan barunya. Selalu berempat sejak lama, membuat mereka memiliki tabungan bersama dan pergi ke salon. Pemilik salon bilang mereka sering membuat konten mengubah style pelanggan dan terkadang juga memakai model dari orang-orang yang mereka tawari. Kebetulan yang membuat beruntung itu membuat mereka mendapatkan free tagihan dan set pakaian juga aksesoris yang mereka kenakan saat syutingnya.
Saat ini Empat Gadis tersebut sedang dalam pertemuan calon mahasiswa-mahasiswi baru, dan satu angkatan dengan Dendra. Sesekali Dendra melihat ke arah samping kanannya karena para laki-laki di sampingnya heboh membicarakan Empat Gadis tersebut, sementara itu para gadis melihat ke arah Dendra karena di sampingnya ada Cowok Kembar Empat yang tidak kalah populernya dengan Empat Gadis cantik yang ikut kegirangan dengan ketampanan si Kembar Empat.
“Dari banyaknya fakultas, kenapa sih harus satu kelompok dengan dua orang ini!” Tangan Dendra menunjuk orang yang dia maksud dengan pulpennya.
“Maksudmu tidak mau satu kelompok denganku?” tanya Ryana. “Seharusnya kamu beruntung!”
“Bukan itu maksudku! Itu kamu bisa melihatnya sendiri kan? Bahkan dia tidak ada di kursinya setelah pembagian kelompok.”
“Sorry, sorry! Gue ke toilet barusan.” Dendra menggelengkan kepalanya. Dendra satu kelompok dengan Rafly si bungsu Cowok Kembar Empat dan Ryana dari Tiga Cewek itu. Dendra titunjuk sebagai ketua yang beranggotakan lima belas mahasiswa-mahasiswi dari berbagai jurusan. Pihak kampus dan pengurus BEM sengaja memisahkan Cowok Kembar Empat agar adil dan untuk itu pun berlaku juga untuk si Empat Gadis, sesudah pembagian kelompok sebelum masa ospek itu para mahasiswa dan mahasiswi yang belum resmi itu dipersilakan berkeliling kampus sebagai pengenalan lingkungan perkuliahan.
Dendra mencari sendiri fakultasnya, sejujurnya Dendra pusing dengan peta kampusnya karena terlalu luas. Bukan Dendra jika hanya berdiam sendiri dan kebingungan, dia malah mengikuti para cewek yang sedang membicarakan jurusan konsentrasi Tata Boga, mereka kebanyakan ingin menjadi ahli pastry sedangkan Dendra ingin konsentrasi pada masakan internasional. Dia tahu biaya kuliahnya mahal, tetapi mengapa tidak dijalani saja. Lagi pula utang orang tuanya sudah dilunasi kakaknya, Mayrin Hanum sangat mendukung apa pun jurusan kuliah yang Dendra ambil.
Dendra dan mahasiswa Tata Boga lainnya melihat kakak tingkat yang sedang cooking battle, mereka tidak sabar memulai kelas di semester awal.
Sementara itu si Cowok Kembar Empat sedang mencari kelas jurusan bagian DKV, Desain Komunikasi Visual. Mereka malah nyasar ke Fakultas Seni Tari salah satu mantan Bad Girl’s yaitu Lya. Namun memang dasar kompak, Ryana yang mengambil jurusan Seni Pertunjukan, Bunga kelas Fashion Design, dan Mawar kelas Pastry mereka seperti mengantar satu sama lain ke kelas jurusan yang mereka ambil.
“Hey wanita-wanita cantik permisi! Jurusan DKV di mana ya?” tanya si sulung dari Cowok Kembar Empat itu.
“Tuh belok kanan!” jawab Mawar.
“Emang aku buta apa? Itu kan TOILET!” Berbicara dengan nada tekanan pada wajah Mawar.
“Haha! Mantan Bad Girl’s ngeyel banget sih!” ucap Dendra saat melewati Fakultas Seni.
“Apa gak bisa baca? Lihat di atas kepala kalian!” kata Bunga.
“Owh ini kelasnya? Kelas kalian? Ini kan kelas jurusan lain, maksudnya jurusan cewek centil!”
“Anak baru Kembar Empat, hah kenapa sih harus satu kampus?” tanya Bunga.
“IQ kami tidak jauh berbeda, wajah kami sama, otomatis kampus pun harus sama, meskipun gak harus satu fakultas sebenarnya, yaaa ibarat nangis satu, nangis semua,” jawab Raffy.
“Kalian juga Jurusan DKV?” tanya Raffly.
“B U K A N!!!” jawab kompak cewek riweh.
“Lalu???” tanya Raffly lagi.
“Yang jelas kami anak baru juga,” jawab Mawar.
“Mau tahu jawabannya?” tanya Ryana.
“Oooo-gaah!” jawab Cowok Kembar Empat.
“Owh yaa sudah, ayo girl’s kita capcus!” ucap Ryana.
“Heh kalian mau ke mana? Gak mau kenalan dulu sama kami?” Dalam tolehan mantan Bad Girl’s mereka baru sadar dengan ketampanan Cowok Kembar Empat, dalam pembagian kelompok Pekan Ospek dua jam lalu mereka hanya melihat dari arah samping. Cowok Kembar Empat mengulurkan tangan perkenalan. “Gue Raffy yang lahir setelah Raffa.”
“Gue Raffa, kakaknya mereka bertiga.”
“Gue Rafly yang paling bontot.”
”Gue Rafla kembar part III, tapi kok kalian gak ngenalin diri? Malah melongo gitu?”
“Mungkin kita terlalu tampan, mereka jadi terdiam seperti patung, Broth yukk ahh kita cari lagi kelas kita!” kata Raffa.
Selepas Cowok Kembar Empat melewati mereka, mantan Bad Girl’s masih melongo dalam kesunyian “AAAAAAAAAA gantenggg.” Cowok Kembar Empat terkejut dan membalikan badan.
“Gue Lya,”
“Gue Bunga,”
“Gue Mawar,”
“Gue Ryana, ehh tunggu kok mendadak jadi gue-elo sih? Ahhh pasti kalian juga terhipnotis karena kecantikkan kita kan?”
“Apaan sih cewwk sama aja kali! Terus itu gue-elu wajarlah itu kan bahasa kita sehari-hari,” jawab si Bontot.
“Ah masaaa?” tanya Lya.
“AAAAAAAAAAA gantenggg,” tiba-tiba wanita seisi kampus berteriak. Peristiwa ini sampai masuk koran, sebab kebetulan ada media yang sedang meliput kampus mereka.
Mayrin melihat Dendra sedang mempersiapkan atribut pekan pengenalan mahasiswa baru esok hari, ya semuanya berjalan dengan lancar kecuali hari terakhirnya karena dia terlambat gara-gara macet. Dendra dihukum bernyanyi Goyang Dombret sambil makan keripik dan kue, kebetulan dia memang belum sempat sarapan.
“Anak Tata Boga kok gak sempat masak?”
“Kakak belum dengar ya? Bahkan chef juga kalau pulang dan kelelahan mereka lebih memilih beli makanan daripada memasak!”