Musik dari game terdengar, Mayrin mem-pause karena dia harus mencari sesuatu dari lemarinya. “Mungkin aku harus membeli lemari, pakaianku sudah tidak muat di sini.” Mayrin Hanum hectic di kamarnya, dia sedang cuti siaran beberapa hari dan sedang membereskan kamarnya. Dia mengambil ponselnya untuk mematikan game yang dia pause, sudah lama sejak membereskan rumah bahkan kamarnya. Dia mencari CD yang ingin diputar dan akhirnya ketemu, lantas dia lanjut mencari pakaian yang tidak akan dipakai lagi, Mayrin menyimpan pakaiannya secara menumpuk jadi agak kesulitan saat menyortirnya. Bukan hanya pakaian lama yang Mayrin temukan dia juga menemukan barang-barang pemberian Saam. Mayrin kesal, mengapa dia masih menyimpan itu padahal pemberinya saja pergi entah ke mana tanpa memberi tahu apa alasannya. Dia seperti disuruh menyelam tetapi di lautan dingin yang akan membuat dirinya membeku, kepergian Saam memang menyiksa dirinya. Sampai kapan pun Mayrin adalah kekasih tanpa ikatannya Saam, sekarang dia seperti ditinggalkan selamanya tanpa sebuah kepastian.
Dahulu.
“Kamu tahu? Saat yang kurindukan adalah menghabiskan waktu bersamamu, ditemani gemericik hujan crat, crat, crat. bukankah kita selalu menginjak genangan air? Saam, sebab aku tahu hatimu untukku. Aku lebih memilih menghindar dari rasa yang akan menjerumuskan kita pada dosa, tetapi aku akan selalu ada untukmu. Saam pergilah! Tanda seru lembut untukmu, tetapi jangan lari dari perasaan kita berdua, sebab aku tahu kamu pasti akan kembali dalam waktu yang telah Tuhan skenariokan untuk kebahagiaan kita.” Dia ingat betul dengan ucapannya pada Saam dalam taman Lili saat Saam pergi kuliah beasiswa ke luar kota jauh sebelum kepergiannya saat ini. Mayrin juga mengingat saat itu Saam belum menanyakan namanya padahal sering bertemu. Padahal sejak pertemuan kali ketiga Saam memperkenalkan namanya dan bahkan setelah itu juga, Saam bilang mau apa pun nama Mayrin tetap sesuai seperti dirinya yang memiliki wajah kecil imut. Sekarang Mayrin sering kesal sendiri kenapa menurut saja dia sedikit mengubah namanya.
“Boleh kutahu namamu?”
“Mayrin Munah, kamu dapat memanggilku Munah,”
“Mengapa Munah? Atau mengapa tidak Mayrin saja?”
“Mudah diingat!”
“Oke, aku anggap Hanum saja namamu,”
“Mengapa Hanum? Itu bukanlah namaku!”
“Namamu jika dibalik seperti itu,” senyum keduanya mengundang gerimis tetapi bukan garis melengkung, melainkan garis condong, dan cepat berubah menjadi hujan lebat.
“Sam indah bertemu dengan Samudra yang tampan ini. Mengapa namamu Sam? Mengapa pendek sekali? Mamamu menyukai ikan? Apa kamu dilahirkan di pantai saat kedua orang tuamu sedang piknik?” pertanyaan Mayrin saat akhir dari pelatihan penyiar radio kemudian jalan-jalan satu bus.
“Hahaha pertanyaanmu konyol sekali!”
“Ayo habiskan jagung bakarmu Sam!”
“Tapi kamu harus memanggilku sedikit panjang! Tidak boleh pendek!”
“Maksudnya?”
“Dalam namaku huruf a setelah S kan?”
“Iya!” Mayrin Munah tertuju pada kertas yang dipraktikan Saam dengan penanya.
“Namaku memang pendek, tetapi namaku sedikit berbeda seperti yang kamu pikirkan. Bukan Sam yang dibaca pendek, tetapi Saam yang dibaca panjang. Masukan dua a oke?!” Bibir Mayrin menggerutu, betapa rumitnya Saam dengan itu.
Selepas tidak sengaja menemukan barang-barang dari Saam dan melihatnya sebentar, lantas Mayrin menyimpan itu di depan rumah menunggu jadwal tukang sampah mengangkutnya. Setelah dirasa seluruh ruangan sudah rapih dan wangi lalu dia mengambil handuk kimononya di lemari, terlihat tangannya saja dari arah kamar mandi yang melempar pakaian tidurnya pada keranjang baju kotor. “Owh belum selesai, aku lupa memasukan pakaian barusan dan pakain kotor lainnya ke mesin cuci.” Suaranya sedikit blubuk-blubuk karena sempat menenggelamkan wajahnya juga. Suara musik terdengar ke kamar mandinya, Mayrin berendam air hangat di bathtub. Sudah lama baginya tidak mengambil cuti seperti itu, dia memikirkan rencana besok untuk pergi ke toko meubel mencari sesuatu yang bagus, selain mencari lemarinya dia juga berencana membeli sofa karena sudah lumayan usang. “Atau apakah aku beli penutup sofa saja? Aku senang sekali boros karena furnitur, em.”
Dendra pulang kuliah dan melihat kotak dengan barang-barang kakaknya, dia tahu itu dari Saam. Dendra selalu menyimpan semua benda yang dibuang Mayrin saat kesal pada Saam di ruang penyimpanan seperti gudang, iya gudang tetapi tertata rapi. Dendra baru sadar mobil kakaknya terparkir di depan rumah. Dia berpikir mungkin kakaknya pulang mengambil sesuatu karena cenderung pelupa, tetapi saat masuk dia mendengar slow music.
“Apa kakak bersemedi di bathtub? Kebiasaan!” Dendra merasa aroma rumah kini berbeda dan tata letaknya juga diubah. “Apa kakak tahu hari ini aku mengundang si Kembar Empat? Ah masa bodoh, aku harus belanja beberapa bahan karena persediaan di lemari es habis.” Dendra melempar tasnya di ranjang dan mengambil uang sakunya di lemari. “Kak, aku mengundang teman kuliah dan mau masak. Sekarang aku ke Swalayan depan rumah dulu sekalian belanja bulanan.” Dengan nada kencangnya, tetapi Mayrin tidak mendengarnya. “Kakak lagi budeg.” Menggelengkan kepalanya dan keluar kembali untuk ke swalayan.
Mayrin selesai memanjakan dirinya lalu keluar kamarnya, dia melihat pintu kamar Dendra terbuka. Namun saat melihat ke kamarnya, Dendra tidak ada. “Tapi tas kuliahnya ada di ranjang, pergi ke mana lagi dia?” Mayrin menutup pintu kamar Dendra dan mengambil camilan di dapur, sekembalinya bersama camilan setoples matanya tertuju pada jendela yang gordennya terbuka sedikit dan Mayrin sudah tidak melihat kotak kardus yang dia simpan di sana 20 menitan yang lalu. “Apa pengangkut sampah mengubah jadwalnya?”
Mayrin tidak mau melamun selepas mandi, tetapi pikirannya saat ini memang dipenuhi Saam. Hingga dia mengingat awal pertemuannya bersama Saam jauh sebelum menjadi penyiar radio. Menurutnya hal paling lucu kala Mayrin masih anak SMA dan Saam sudah bekerja di toko musik tiga tahun lamannya, Mayrin melihat informasi perekrutan penyiar radio lulusan SMA di depan toko musik tempat Saam bekerja. Mereka bertemu kembali sebagai calon penyiar atau staf radio, setelah semakin dekat Saam memberikan hadiah itu tepat di ulang tahunnya yang ke 26, itu adalah sebuah video saat Mayrin SMA kali pertama ke toko musik dulu. Saam meminta video itu dari CCTV toko musik bosnya dan dia simpan beberapa tahun lamanya, saat ini Mayrin menonton ulang itu. Tidak kuasa jika itu dia buang, sebab Mayrin tidak punya cukup foto atau video kenangan saat dirinya memakai seragam SMA. Mayrin mencintai sekaligus membenci masa-masa sekolah karena tanpa foto orang tuanya sedikit pun, yang selalu ada hanyalah om dan tantenya.
Syok kuat dengan kepergian Saam tanpa kabar, selama ini Martin selalu menemani Mayrin ke mana pun jika dia sedang merindukan Saam. Mayrin merasa dirinya harus mencari keberadaan Saam dengan menyelam mungkin atau berjalan di gurun panas, mencari kabar Saam memang sesulit itu. Lamunannya saat itu buyar karena tutup toples camilannya jatuh, lantas Mayrin membereskan itu dan bersiap-siap mendengarkan siaran rekamannya. Siaran rekamannya dapat dihitung beberapa kali, Mayrin lebih suka siaran secara live karena dapat secara langsung mendengar curahan hati pendengarnya.
Dendra mulai memasak dan aromanya tercium ke kamarnya, perutnya keroncongan tetapi malas keluar kamar. Tidak lama setelah itu siaran rekamannya dimulai dan membesarkan volume, Mayrin mendengar suara cengengesan yang sepertinya bukan hanya adiknya. Dia keluar kamar dan terkejut ada empat cowok yang wajahnya sama, Mayrin menyapa teman-teman Dendra dan mereka terkesima ternyata seperti itu bentuk wajah suara dari radio yang sering mereka putar.
“Kakak kalau itu yang sedang siaran suara kakak lalu kenapa kakak ada di sini?” tanya Raffa, Dendra ikut bingungnya seperti Cowok Kembar Empat.
“Itu prerecorded live namanya, kakak mengambil cuti beberapa hari,”
“Iya itu bagus kakak harus istirahat, Kak pasti bingung ya teman Dendra banyak? Sebenarnya mereka satu orang, tetapi harus membelah diri kayak Amuba. Kenapa tidak seribu saja sama dengan Kage Bunshin no Jutsu Naruto!”
“Kamu terlalu banyak nonton kartun, btw kakak lapar nih! Kakak diberi jatah gak?”
“Gak ada makanan buat kakak sore ini!” Dendra bercanda dan Mayrin cemberut sambil berjalan memeluk toples camilan yang sudah habis ke dapur, dia makan sendirian di sana. Dia tahu setelah lagu yang terputar ini dia akan membacakan pesan dari pendengarnya. Dia sedang nostalgia masa SMA-nya, dan Mayrin Hanum bercerita tentang Guru IPA-nya yang bernama Bu Ruth. Jika kesal dengan tugas-tugas Kimia teman-temannya sering mengatakan Burut, tetapi dia selalu menegaskan itu adalah penghinaan pada guru mereka. Tabel Periodik Unsur memang asyik jika disingkat, tetapi untuk Bu Ruth tanpa Sahanaya itu tidak elok jika diolok demikian. Mayrin menyarankan memanggilnya Prof., tentu teman-temannya terkekeh dengan sarannya. Bu Ruth memang tidak mau dipanggil Prof. karena menurutnya ini bukan kampus, tetapi semisal sekolah itu adalah kampus juga dia merasa enggan dipanggil Prof. meskipun dia sudah Profesor. “Ibu” saja panggilan untuk dirinya, itu sudah menghormati dirinya sebagai tenaga pendidik.
Kelas Mayrin memang tipe yang menyelesaikan masalah sendiri, jadi mereka mendengar keluhan Mayrin pada jam kosong guru yang tidak dapat masuk. Pengakuan teman sekelas Mayrin, mereka masih kekanak-kanakan selama ini. Mayrin baru mendengar sebutan itu saat teman-temannya membuat kejutan ulang tahun untuk dirinya, Bu Ruth tiba di kelas untuk mengeceknya sebagai wali kelas karena khawatir memakai telur atau terigu dan kelas menjadi kotor. Bu Ruth hanya memberi saran itu, tetapi teman satu kelas Mayrin agak kesal dengan nasihat yang dianggap nora itu. Bukannya senang diberi kejutan dan konfeti kelap-kelip yang berhamburan di kelas, Mayrin malah bete karena teman-temannya tidak menerima nasihat Bu Ruth.
“Hei Bu Ruth dan teman-teman angkatan 12, apa kabar? Maaf dan terima kasih untuk masa lalu yang tidak dapat terlupakan.” Mayrin Hanum menyapa guru dan temannya di SMA. Dendra dan Cowok Kembar Empat ikut terhanyut suasana Mayrin dalam siaran rekaman sore itu. Bahkan Cowok Kembar Empat berfoto bersama Mayrin Hanum, menurut mereka lumayan tidak butuh usaha yang ribet karena dia adalah kakak temannya. Lalu atas saran Dendra dia menyuruh kakaknya untuk menelepon Bu Ruth di luar siaran, Dendra bilang Bu Ruth sudah lama pindah ke Bali diboyong suaminya. Tentu Mayrin enggan meneleponnya karena takut mengganggu aktivitas Bu Ruth, sebenarnya Mayrin merasa sekarang sudah tidak dekat lagi dengan gurunya itu.
Sesuai rencana selama cuti satu pekan, hari itu Mayrin hunting barang-barang estetik. Dia membeli beberapa furnitur dan meminta agar segera dikirim ke rumahnya. Dendra yang baru pulang dari suatu tempat karena tidak ada jadwal kuliah pun terkejut mengapa ada paket sebesar itu, lalu dia masuk kamar kakaknya yang terbuka. Mayrin Hanum sedang mengecek tabungan dan rencana jasa tukang renovasi kamarnya dan Dendra melihat itu dari belakang.
“Uang segitu ditabung aja, memang mau didekor kayak apa sih?”
“Ya yang simple aja tapi estetik,”
“Kakak udah keracunan anak zaman ya, pake estetik-estetik segala!”
“Ya bosan aja suasananya gini mulu, kemarin sebagian barang-barang yang gak penting sudah kakak buang tetapi tetap aja masih terasa sumpek.” Mayrin tidak tahu saja barang-barang buangannya disimpan Dendra di gudang tanpa sepengetahuannya, Dendra nyengir di balik perkataan kakaknya. “Dek hubungi Carla dong,”
“Buat apaan?”
“Bilang pesan bunga paling cantik, kakak lagi males ngambil ponsel di tas,”
“Ok.”
Tanpa Dendra tahu mereka ke arah pemakaman umum, dulu Dendra baru berusia 2 tahun dan tidak ingat kakek dari mamanya. “Salim, ini kakek kamu dari Mama.”
“Dari Mama?”
“Mama dan Tante Zahra beda papa,”
“Hah? Kenapa Kakak baru cerita sekarang? Pantas saja tante zahra kebulean gitu dan beda sama mama kita, jadi kakek yang di Australia kakek tiri?” Mayrin mengangguk.
“Kakak dilarang menceritakan ini padamu sebenarnya, tapi kakak kira kamu harus tahu kakek kamu yang ini. Semua utang Mama-Papa sudah lunas, cicilan rumah sudah lunas, tabungan biaya kuliah kamu bertambah itu semua dari kakek mama kita. Mama kabur dan anggap saja ini sebagai ganti utang Mama-Papa, tapi kakak menganggap ini uang kakek, ya memang uang kakek, anggap saja uang kakek untuk cucunya.” Dendra mengangguk, sekarang dia sudah tidak sensitif lagi jika mendengar papa-mamanya diceritakan.
Waktu begitu cepat, Mayrin sudah mulai siaran lagi. Dia menyapa pendengar kemudian telepon masuk padahal belum segmen tanya jawab dan curhat, ternyata itu Bu Ruth. Tempo hari saat Mayrin berniat menelepon Bu Ruth tetapi tidak jadi, pada saat itu Bu Ruth sedang dalam keadaan repot untuk berbicara secara detail. Bu Ruth mendengar siarannya Mayrin, posisinya menyetir dan menjemput anaknya di TK. Mayrin seperti tahu waktu, dan kepekaan itu seharusnya dimiliki semua orang. Menelepon orang itu lebih baik izin terlebih dahulu. Sekaramg Bu Ruth menelepon dengan nomor berbeda, pihak radio semula tidak menyangka karena mungkin itu pendengar lain yang meneleponnya. Mayrin langsung mengenali suara Bu Ruth karena dulu dia juga sering menelepon gurunya itu, curhat-curhat sedikit.
“Sekarang gantian Ibu yang meneleponmu, bagaimana kabarmu?”
“Aku baik-baik saja Bu, Ibu? Jangan bilang Ibu juga pendengar setia juga?”
“Ya, sesekali tidak terlalu sering juga,”
“Aku bersyukur Ibu baik-baik saja.” Obrolan itu membahas Mayrin Hanum yang terkenal baik oleh guru-gurunya hingga mereka tahu dirinya sekarang seorang penyiar radio. Pembahasan di akhir pekan itu memang masih seputar kisah masa lalu. Baru saja cuti biasanya Mayrin segar bugar pikirannya, tetapi suasana hatinya menjadi mellow padahal sejak dari rumah dia sudah menyiapkan tenaga semangat dan tidak sendu seharian.
Seperti biasa jika akhir pekan tiba Mayrin Hanum siaran bersama Martin Max. Sebagai penggila Martin Max yang sekarang menjadi kakak angkatnya, setiap hari dia melihat Martin mengudara di studio. Dulu saat masih anak baru dia agak enggan masuk ke dalam studio karena malu rasanya. Mayrin hanya melihat Martin dari lorong luar studio yang berkaca, itu pun di belakang Penulis Naskah Radio. Mimpinya seperti obsesi jika suatu saat nanti punya tabungan banyak dia pasti kuliah Broadcasting karena ingin menjadi seperti Martin Max. Dan semua itu terwujud sekarang. Dulu dan sekarang tidak ada bedanya, masih saja pipinya merona jika di hadapan Martin.
Martin mengajak Mayrin makan di restoran terdekat, mereka sedang bercerita masa lalu. Si pemalu itu, Martin suka tertawa jika mengingat poni rambut Mayrin dulu. menutupi hampir semu wajahnya dengan kopi, pipinya amat memerah.
“Ah kakak sudah!”
“Iya deh iya!”