Selama kurang lebih tiga puluh tahun hidupnya, Saam hanya menebak mungkin salah satu orang tuanya ada di New Zealand. Sebab, lukisan yang dia pegang sejak lama menggambarkan ikon New Zealand. Sebenarnya itu pun belum pasti, Saam pergi ke New Zealand hanya mengikuti kata hatinya. Entah dia akan bertemu kedua orang tua atau salah satunya dari mereka, yang pasti Saam hanya ingin tahu asal-usul dirinya. Ibu panti selalu selalu menghindar atau tidak menjawab apa pun jika Saam bertanya tentang keluarga atau dia dulu diambil dari mana hingga sampai di pantu asuhan.
Saam memang anak yang cerdas, sejak lama sudah berpikir masa depan karena dia tahu bukan tulen Indonesia jadi harus pandai berbahasa Inggris. Dibantu ibu panti, Saam memang belajar Bahasa Inggris hingga kelulusan di Kademi Bimbel Dua Bahasa itu ibu panti menghadiri untuk kelulusan Saam. Terkadang Saam merasa bersalah pada Ibu panti karena dia tidak terus terang akan pergi ke New Zealand, yang dia tahu Saam hanya pergi untuk waktu lama dan tidak tahu akan pergi ke mana. Berbulan-bulan di New Zealand hingga membeli rumah di sana, Saam menyadari bahwa menemukan keluarganya jauh lebih sulit dari apa yang dia bayangkan, lebih tangguh dari mengerti perasaan Mayrin.
Matahari sore mulai meredup di Auckland Domain, angin musim gugur begitu hebatnya hingga dedaunan jatuh dengan indah. Saam duduk di salah satu taman kota tertua itu, menghela napas karena pencarian itu belum membuahkan hasil. Sudah dia tanya berulang kali pada pihak polisi dia mencari keluarga, tetapi jika hanya membawa lukisan lama siapa yang tahu? Terlebih lagi lukisannya tidak bernama. Pun pada kolektor seni, dia tidak menemukan jawaban pasti. Malah pernah ada yang mau membeli lukisannya, Saam tahu maksudnya itu akan dicuri dan diganti nama pelukisnya. Meskipun lukisan yang dia simpan selama ini tidak bernama, bukan berarti tidak ada si pelukisnya. Dia hanya tersembunyi di balik itu.
“Ah ini tepat di sini lukisan ini,” Saam akhirnya sampai pada tempat yang dilukiskan itu.
“My dad’s painting?” seorang perempuan yang awalnya sedang memberikan makan burung-burung di sana semakin dekat pada arah Saam, dan saat bangun dari jongkoknya dia melihat lukisan yang dipegang Saam, Saam bergegas menutup dan memeluknya.
“What? What do you mean? This belongs to my parents!” Perempuan itu menarik buku lukisan Saam hingga tepat di tangannya, perdebatan lebih tegang lagi hingga orang-orang di sana melihatnya. Saksi melihat Saam mengeluarkan itu di tasnya karena dia sedang piknik kecil-kecilan, lantas perempuan itu mengatakan pencuri pada Saam. Saam semakin bingung, lalu sebagai bukti kuat dia memperlihatkan foto kecil dirinya saat di kamar panti asuhan memegang buku itu. “You’re the real thief!” Barulah perempuan itu menyerah dan pergi begitu saja, tentu disuraki orang-orang di sana.
Saam mengedit foto dan video selama di New Zealand, dia kesal saat melihat perempuan yang mengaku buku lukisannya itu punya ayahnya. Lantas, Saam menjatuhkan kamera yang tidak sengaja dia sikut karena baru sadar. “Ayahnya? Dia bilang ayahnya? Hah apakah ini sebuah petunjuk?” Berulang kali Saam memeriksa foto dan videonya, perempuan itu terekam dan terfoto lumayan banyak dan wajahnya jelas. Sekarang Saam sudah mau satu tahun di sana, mungkin itu petunjuk awal. Namun saat Saam datang lagi ke sana dia tidak menemukan perempuan itu hingga satu bulan berlalu, perempuan itu juga sebenarnya merasa bersalah mengapa mengumpat pada orang yang baru dia kenal dan terlenbih lagi laki-laki itu orang Asia. Dia masih belum bisa membedakan kulit Asia.
“Maybe he’s Asian, but does’t he also have blood from this land?”
“From what land?” Papanya bertanya. Lantas perempuan itu bertanya apa ada yang mencuri lukisannya, papanya tidak merasa begitu. Namun dia ingat ada lukisannya hilang saat di Indonesia.