Menarik kesimpulan dari wajah-wajah sendu, tersenyum tetapi tidak mendapati lengkungan itu di sisi bibirnya. Menangis, tetapi air mata tidak mengalir di pipinya. Berbicara, tetapi terhalang keraguan. Mulut seperti terkunci, dan berakhir menutupi wajah dengan sepuluh jarinya. Mayrin mulai membuka hati untuk orang lain tetapi selalu tidak berhasil. Menarik diri dari laki-laki setelah Saam, tidak juga. Malahan Mayrin antusias saat dikenalkan pada teman SMA Martin, dan Martin tahu hati Mayrin hanya untuk Saam. Lain di bibir lain di hati, itulah Mayrin. Meskipun lima tahun sudah Saam menghilang dari kehidupannya yang paling tahu perasaanya adalah dirinya dan Martin tidak mau ikut campur lagi soal hati Mayrin.
Jika tahu akan begini, pasti dulu saat Saam pamitan padanya dia akan tegas jangan membuat Mayrin menunggu terlalu lama. Martin tidak tahu Saam akan pergi tanpa kabar, sebab Martin hanya dititipi Mayrin saja. Mayrin memang sudah terbiasa dengan kepergian Saam, terkadang Mayrin berpikir penyebab kepergian Saam saat itu salah satunya karena ucapannya yang selalu meminta izin untuk pergi pada Mayrin, tetapi Mayrin malah kesal dan benar-benar menyuruhnya pergi. Mayrin juga tahu dia salah karena tidak bertanya apa alasan sebenarnya Saam harus pergi saat itu, seharusnya jika ucapan Mayrin sudah Saam anggap angin lalu sekarang bukankah dia harus pulang pada hadapan Mayrin, kecuali jika Saam menganggap itu serius tanpa berpikir matang-matang dan tidak akan pernah kembali sampai kapan pun. Sekarang ini Mayrin sedang menulis dalam jurnal yang selalu dia bawa setiap hari, lantas menutup jurnalnya kemudian Mayrin menopang dagu dengan kepalan kedua tangannya. Menarik napas, memasang earphone, dan mulai mengudara dengan sandiwara suaranya.
Di sudut lain ada yang sedang reunian kampus setelah wisuda satu tahun lalu, Dendra sedang kedatangan Cowok Kembar Empat. Mereka sudah menjadi apa yang mereka mau, Mantan Bad Girl’s akan datang tetapi belum kunjung tiba juga.
“Maklum cewek dandannya lama,” Dendra melihat jam tangannya. “Gak terlalu telat sih, kayaknya sebentar lagi mereka sampai,”
“Dra, kok gue penasaran selama ini kok lo tahu sih Empat Cewek bawel mantan Bad Girl’s?” tanya Raffa.
“Gue satu kelas saat SMA dengan mereka guys, dari SMP malah. Dulu mereka tuh cupu banget dan sering jadi bahan iseng anak kelas. Gue ada loh fotonya, bentar yaa Gue nyetel radio dulu, kakak gue sedang On Air.”
“Request, request, request!” Kompak Cowok Kembar Empat sambil memukul-mukul meja.
“Maaf terlambat, ada-ada aja mobil gue bocor ban,” Mawar terlihat semakin cantik.
“Gimana kabar kalian?” Lya salam kepal tangan pada Cowok Kembar Empat.
“Loh bentar, ini suara Kak Mayrin Hanum kan?” Bunga juga sering mendengarkan radio.
“Iya itu kakak gue,”
“Hah? Mantan Bad Girl’s terkejut.” Dendra memang privasi soal keluarganya saat SMA, sampai-sampai mantan Bad Girl’s juga baru tahu itu.
Mayrin Hanum terdengar bahagia hari ini, dan dia tidak tahu Dendra meneleponnya.
“Mari dengarkan ada penelepon selanjutnya, sepertinya saya mengenal nomornya, dan ini hooow ternyata adikku. Hei Dik tumben menelepon? Sedang di mana?”
“Kak...” suara Dendra tertutupi kebisingan musik dan obrolan Cowok Kembar Empat yang berebut menguping suara Mayrin Hanum dari dekat,”
“Apakah ada Cowok Kembar Empat? Kecilkan volumenya ya!”
“Kak Mayrin, kami sedang bersama Dendra juga ada fans lain kakak,”
“Hei halo! Ini sahabat Dendra yang mana? Biasanya Dia tidak pernah mengajak teman perempaun ke rumah,”
“Kami temannya sejak SMP sampai kuliah, memang baru kali ini main ke rumah Dendra karena dulu tidak terlalu akrab,”
“Begitu rupaya, anggap rumah sendiri saja ya. Lagu apa yang mau kalian dengar siang ini?”
“Shela On 7,” jawab Raffy.
“Lagu terbaru,” Ryana ambigu dengan jawabannya karena tidak disebutkan nama penyanyi atau judul lagunya.
“Sebutin judulnya,” Raffa menyungkurkan kepala Ryana.
“Aduh!” jawab Ryana lumayan kesal.
“Baiklah tunggu sebentar ya, terima kasih sudah request. Have fun in your day!”
Dendra tidak sengaja bertemu Charissa saat pulang dari Caffe-nya, dia tidak menyangka Charissa masih bekerja di Taman Bunga Keluarga milik Carla Gyta. Charissa bilang dia sempat istirahat satu tahun karena kecelakaan motor yang membuat kaki kirinya patah, penyembuhan yang lama itu membuat hidup Charissa tidak ada semangat hidup. Namun semua itu sirna kala dia bertemu dokter tampan di rumah sakit tempat penyembuhannya, Charissa bilang jika bukan karena kecelakaan itu dia pasti tidak akan menemukan seseorang yang berharga dalam hidupnya.
“Wah, kenapa aku menolakmu dulu ya?”