SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #10

Nowella

Dia Nowella Zephanie Smith, yang sudah tiba lebih dulu di Indonesia dari Saam. Sebagai Warga Negara New Zealand yang berusia 20 tahunan dan masih berkuliah, dia datang ke Indonesia karena untuk keperluan skripsinya. Saam tidak terlalu panik atau bagaimana dengan Nowella di Indonesia, karena dia orangnya memang suka eksplor berbagai hal. Saat masih di New Zealand Nowella sudah banyak mengulik hal tentang Indonesia, penginapan, orang-orang seperti Tour Guide. Sebenarnya di New Zealand juga dia punya teman dari Indonesia, dulu dalam pikiran Nowella dia kira Asia itu hanya China, Jepang, dan Korea saja ternyata Asia itu luas dan terbagi lagi menjadi beberapa bagian.

 

Pagi berselimut hujan itu dia berkali-kali berganti Angkutan Kota, sebab yang dia tumpangi selalu mogok. Seorang teman yang melihat dia kemudian memberhentikan dan memanggilnya untuk bersama di roda dua tetapi sial malah terkena razia, dia menemani temannya itu.

“Baris! Baris!“ Dalam antrean polisi mencatat bukti pelanggaran orang-orang yang terkena tilang.

“Sorry!” dalam perjalanan setelah terkena razia.

“Untuk apa?” Jawabnya terdengar bahwa dia memang seorang turis meskipun mulai lancar berbahasa Indonesia.

“Telah membawamu dalam kesalahanku, lain kali aku akan bawa helm cadangan, tampaknya kamu kedinginan?” Terlihat dari spion motornya.

“Iya, kamu juga harus membawa jas hujan cadangan, hidup itu bukan untuk satu orang saja.” Sembari membetulkan penutup kepala sweater-nya.

“Mengapa memilih Indonesia sebagai bahan skripsi?” tanya laki-laki itu dengan kencang.

“Aku suka budaya baru, kamu tahu? Kakakku orang sini, dia blasteran,”

“Oh ya?”

“July?”

“Ya Nowell?”

“Aku berhenti saja di persimpangan, di depan Butik itu,”

“Mengapa? Memang sebenarnya kamu mau ke mana?”

“Itu butik ibu kosan, ada hal yang harus aku katakan padanya,”

“Lalu kamu tidak melanjutkan penelitian hari ini?”

“Ya mau, tapi aku mau mengambil pakaian yang aku pesan di sana,”

 

Ibu kosan yang juga punya butik itu membuatkan teh, sembari menghangatkan tubuhnya, Nowella mencoba pakain lain di butik itu. 

“Apakah kamu satu jurusan dengan Neng Bule juga? Kalian sedang liburan semester?”

“Iya Bu, disebut liburan tetapi kami sebenarnya penelitian. Ibu sudah lama membuka butik ini?”

“Ibu baru memulainya tiga bulan terakhir ini, pemilik sebelumnya menjual pada Ibu.”

“Ibu sepertinya aku harus potong rambut.” ucap Nowella sambil mengeringkan rambut panjang lepeknya. “ Aku ingin terlihat seperti Barbie.” lantas Julian dan Ibu kosan tertawa, padahal Nowella sama cantiknya seperti Barbie.

Nowella menjajal pakain yang cocok untuknya, tetapi Julian bilang itu roknya kependekan. Terlebih lagi mereka akan pergi setelah hujan reda, mereka memang sering jalan bersama sejak di New Zealand pun. Kalau tahu akan begini, pasti Julian akan membawa mobilnya sendiri tetapi sekali lagi dia teramat membenci kemacetan, jadi menurutnya lebih baik bersama motornya jika pulang ke Jakarta.

Setelah penelitiannya selesai Nowella kembali lagi ke New Zealand, tetapi dia tidak menemukan kakaknya Saam di sana. Papanya bilang dia mencari keberadaan mama kandungnya di Palembang, selama di Indonesia Saam hanya bertemu Nowella dua kali saja dan tidak menjelaskan hal apa pun kegiantan apa setelah dia kembali dari New Zealand. Saam hanya membantu pindahan Nowella ke apartemen kakaknya, setelah itu Nowella tidak bertanya akan pergi ke mana kakaknya dengan koper kecilnya.

“Urusan kecil.” Saam selalu berkata itu pada adiknya.

 

Satu tahun kemudian Nowella balik lagi ke Indonesia, dia tidak merasa ada tanda-tanda kakaknya di sana. Namun kamar mandinya basah, sebagai tanda kakaknya sering pulang mungkin sekarang. Lantas Nowella menemukan surat dari Rumah Sakit Kanker, terdapat sebuah nama yang asing baginya.

“Who is sick?” Kemudian Nowella mendengar suara pintu terbuka, kakaknya pulang bersama seorang perempuan paruh baya.

“Are you here?” Nowella mengangguk. “Is this your Mom too.” Nowella berjalan perlahan menuju mama kandung kakaknya dan duduk berlutut sambil memegang tangannya, terlihat banyak bekas infusan. Dia sudah terlalu lama menderita sendirian, dipisahkan dari suaminya dan kabur ke Singapura. Dia sempat memiliki usaha di sana, tetapi tidak berjalan mulus hingga dirinya pernah menjadi pembantu juga. Karena bekerja banting tulang dia kelelahan sampai terkena kanker, sebenarnya itu riwayat dari keluaragnya. Sempat diobati majikannya, tetapi pada akhirnya dia dimasukan ke rumah singgah lansia tanpa keluarga yang mengenalinya. Itu pun jika karena bukan majikannya pasti Mama Saam sudah tinggal di jalanan, dia membayarkan uang perawatannya selama ini. Saam sangat serius mencari mamanya, satu tahun lalu jika dia mengikuti hatinya pasti akan menemui Mayrin terlebih dahulu. Namun hidupnya tidak akan tenang jika mamanya belum dia temukan, menerjang New Zealand saja sudah pernah, masa hanya untuk mencari mamanya tidak bisa.

 

Nowella menghubungi Julian, semenjak wisuda tahun lalu mereka belum bertemu kembali. Kabarnya Julian mengambil kuliah di Amerika, tetapi Nowella belum tahu Julian mengambil jurusan apa di sana. Jawaban Julian tidak jelas karena dia sedang dalam pelayaran di kapal pesiar pribadinya, yang pasti posisinya sekarang bukan sedang di daratan.

“Aku masih di perairan Indonesia, memangnya kenapa?”

“Aku sedang di Indonesia, di apartemen kakakku,”

“Aku pasti akan menemuimu di sana, mau berapa hari di Indonesia?”

“Aku tidak tahu, hanya saja aku ingin tinggal di sini bersama kakakku. Mungkin aku akan mengambil magister di sini,”

Lihat selengkapnya