“Menemui Mayrin?” Saam sedang bertopang dagu di ruang kerja rumahnya, menemui Mayrin setelah 6 tahun berlalu adalah sesuatu hal yang terlalu terburu-buru baginya. Saam juga amat malu jika menghubungi Dendra, tetapi petir di siang bolong itu seperti pertanda karena tiba-tiba Dendra meneleponnya. Saam berusaha membuat tenggorokannya rileks dan jangan kepedean dulu. Sekali lagi petir di siang bolong, bedanya itu adalah sebuah kabar baik bukan kabar sebaliknya. Lagi pula itu juga salahnya sendiri mengapa tidak memegang erat Mayrin saat dia harus pergi mencari keluarganya. Saam memulai dari 0 lagi pendekatan pada Myrin, itu lebih sulit mendapatkannya dibanding saat kali pertama dia merayu Mayrin karena dulu dia sedang masa nurut-nurutnya pada laki-laki yang pernah bekerja di toko musik itu.
“Kak Mayrin sering melamun gara-gara Kakak,” Saam menyeruput kopinya.
“Itu memang salah Kakak,”
“Kak Mayrin tidak seterbuka itu padaku atau pada kak Martin,”
“Martin sekali pun?” Dendra mengangguk. “ Loh bukannya mereka sangat dekat?”
“Dekat sebagai adik-kakak, tetapi Kak Martin tidak ikut campur soal hati apalagi sekarang dia sudah menikah,”
“Martin menikah?” tanya Saam dengan mimik wajah yes.
“Sudah cukup lama Kak Martin menikah, dia sudah punya jagoan kecilnya.”
“Baguslah kalau begitu,”