Saam sedang menulis rencana skenarionya, dalam ceritanya ada tokoh yang bernama Adam dan Sadam. Keduanya sangat bertolak belakang dari sikap atau hal apa pun juga, bukan sahabat dan bukannya juga teman, mereka hanya satu kampus yang berbeda jurusan. Mengenal pun hanya sebatas tahu satu sama lain dari spanduk kampus kala mereka berprestasi di jurusannya masing-masing, mahasiswa memang hanya mahasiswa nyatanya Sadam menjadi sangar kala tahu cewek kampus yang dia incar selama ini satu mobil dengan Adam. Kaki Syabila sedang terluka dan dia tidak dapat menginjak rem jadi Adam hanya membantu saja mengantarnya pulang sebagai teman satu kelas di fakultasnya, Adam sendiri hanya anak kos sederhana yang tidak mempunyai kendaraan di kota. Setelah mengantarkan Syabil pulang dia mendapati kabar kurang mengenakan dari kampung, tanpa berkemas banyak dan tanpa pamit pada teman-teman kosnya dia pun naik bus Garut dengan wajah pucat. Adam tidak dapat menyembunyikan tatapan kosong itu sampai tidak sadar ditawari air mineral oleh sopir bus cadangan.
“Beberapa menit lalu sepertinya ada yang mencarimu dek, kasar sekali orangnya. Saya sudah amankan dia agar tidak menaiki bus ini, lalu dia naik motornya kembali. Apakah kamu takut padanya?” Adam menoleh sedikit dan dia mengangguk, seolah paham dengan apa yang dibicarakan sopir itu. Hingga malam tiba dalam perjalanan, Adam tertidur di bus dan tidak tahu bus yang dia tumpangi melewati kecelakaan motor dengan sedan putih. Penumpang motor itu adalah Sadam, ternyata dia mengikuti bus yang ditumpangi Adam. Sebegitu obsesinya pada Syabila hingga ingin mencari kebenaran pada Adam, Sadam tidak dapat masuk tol karena dia mengejar dengan sepeda motor jadi dia melewati jalan biasa, tidak sangka dia kuat menyusul bus itu. Namun nyalinya ternyata terhenti sampai di situ saja, dia dilarikan ke rumah sakit dan harus amputasi kaki kiri. Lebih gila lagi dia hendak meminta tanggung jawab pada Adam dengan meminta alamat rumahnya di Garut pada teman-teman Adam. Mereka tahu alamatnya tetapi tidak tahu letak alamat pastinya, teman-teman Adam kira Sadam sama bingungnya Adam menghilang tanpa kabar. Sadam tidak berani menampakkan dirinya yang sekarang pada teman-teman kampusnya jadi dia hanya mengabari lewat ponselnya dia kecelakaan ringan. Sebagai anak pejabat tentu saat masuk berita pelat dan wajahnya disensor.
Namun saat Sadam tiba di kediaman Adam dia mendapati bendera kuning, Bapak Adam meninggal dunia. Sejak saat itu bagi Sadam itu menjadi titik awal untuk dirinya berubah, tidak selamaya hal sepele harus dibuat rumit. Dia tidak masuk ke rumah Adam, lantas Emak Adam menyambutnya dan berterima kasih sudah melayat. Dalam mobil itu Emak Adam melihat kaki Sadam yang ditutupi kain, sopirnya keluar untuk meminta maaf dan memberikan uang duka. Emak Adam menolaknya tetapi sopir Sadam memasukannya ke dalam saku daster Emak Adam, Emak Adam sudah tegar dengan kepergian suaminya karena selama ini jantungnya tidak sehat. Dia berusaha tegar dan mampir ke warung untuk membeli kopi kesukaan Adam, tetapi ternyata setelah sekembalinya dari warung di samping sudah ada mobil Sadam di sana. Sadam tidak lama di sana dan kemudian dia pamit pergi. Emak Adam tidak sehangat mamanya di rumah, seumur hidup Sadam belum pernah merasakan apa itu kehangatan seorang ibu dan apa itu kehangatan seorang ayah, baginya keluarga adalah dongeng yang hanya lewat di matanya.
Adam pindah kuliah karena emaknya tidak sanggup membiayainya di kota setelah kepergian bapaknya, lalu Sadam pun dipindahkan ke luar negeri oleh orang tuanya. Kaki Sadam yang hilang sebelah itu tidak boleh terendus media dan dia belajar menggunakan kaki palsu dari bagian mata kakinya.
Delapan tahun berlalu, mereka bertemu kembali dalam pekerjaan masing-masing. Namun pertemuan itu Sadam bilang pada Adam seperti lagu lama merebut ceweknya, mereka jatuh cinta pada perempuan yang sama. Namun setelah mereka tahu ternyata perempuan mereka memang sama, sama karena kembar.
“Wahh plot twist yang ter-ter, cerita apa ini?” Saam sedang berbincang dengan investornya, lalu tidak lama mereka bersepakat film itu akan segera dibuat. Saam tersenyum lebar kala waktunya masih banyak, dia ingin menjemput Mayrin Hanum.
“Ada yang kulewati saat tidak dapat melihatmu beberapa tahun ini, aku tidak sanggup naik kereta karena terus mengingatmu. Akhirnya aku punya mobil sendiri karenamu.” Tulis Mayrin di jurnalnya. Sekarang Mayrin dan Saam berjalan di atas rel tua, Mayrin tertunduk sampai lorong bekas kereta itu usai.