SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #13

I Hope

Begitu banyak pertanyaan, kemudian mulutnya mengeluarkan bunyi “Ashh, hacu… hacu… hacu… mengapa baru muncul?” Mayrin berkata dalam hatinya, dia memang punya banyak alergi dan salah satunya selain alergi serbuk bunga dia pun alergi dingin. Mayrin terlalu lama berenang di resort itu, katanya sayang mumpun sedang liburan tim penyiar. Dia satu kamar dengan anak magang yang hobinya fotografer, Mayrin terkejut dirinya sangat estetik alami karena dipotret secara diam-diam. Lantas, karena dia sudah lama sejak membuka media sosial Mayrin Hanum pun menyapa penggemarnya lewat postingan itu.

“Wahh Kak Mayrin tampaknya sudah ingat pssword-nya,”

“Kak, lumutan tuh akun. Kalau butuh asisten medsos boleh dong rekrut aku,”

“Kak, kapan fansign lagi?”

“Kak, kapan nikah? Aku mau datang ah kalau kakak nikah.”

 

Membaca komentar-komentar seperti di atas membuat Mayrin Hanum senang, sudah lama sejak jumpa fans lima tahun lalu selain dalam peranyaan ulang tahun frekuensi stasiun radio. Mayrin memang punya fans tersendiri, dia pun mencoba melihat kalender kapan hari yang cocok untuk berjumpa dengan fans-nya. Kemudian Mayrin Hanum terkejut, followers-nya sudah 1 juta lebih. Lantas dia mengecek DM, ternyata banyak tawaran endorsmen dan Brand Ambassador. Mayrin terdiam sejenak karena memang butuh waktu untuk mencerna semua itu, dalam pikirannya berkecamuk ternyata dia cukup terkenal, padahal hanya seorang penyiar radio. Ternyata tim kreatif yang selalu membuat reels tentang penyiar-penyiarnya, itu menjadikan Mayrin Hanum dan penyiar lainnya dikenal banyak orang. Tim kreatif dan anak-anak magang memang sekarang sangat mengerti pasar, memang tujuannya agar akun stasiun mereka besar. Namun itu juga memberikan dampak luar biasa bagi akun para penyiar. Mayrin memang agak gaptek, akunnya dibuatkan perusahaan penyiar. Mayrin ingin belajar cara membuat video pendek dan potretan cantik, meskipun dia penyuka barang estetik itu belum tentu jago mengedit foto dan videonya.

Lantas Mayri membicarakan itu dengan Dendra anak muda yang paham permedsosan, Dendra mentertawakan kakaknya itu. Sudah berulang kali Dendra memberi tahu agar Mayrin sering mengecek akun sosial medianya meskipun tidak memposting apa pun, Mayrin terlalu sibuk untuk sekadar membuka semua itu.

“Kak, bukannya aku gak mau bantuin kakak. Tahu sendiri kan aku masih merintis restoranku, aku punya ide buat rekrut salah satu dari si kembar buat jadi asisten kakak. Eh, tapi kalau salah satu dari mereka mau, mereka photografer yang sibuk soalnya. Jadi kalau kakak mau bekerja sama dengan brand di-handle asisten kakak, kesempatan gak datang dua kali kak. Serius deh! Kak, Saam juga kan seperti beralih profesi kan. Yaaa meskipun dia masih bekerja di balik layar,”

“Hubungi si kembar! Ah ngapain juga bahas si Saam!”

“Ok, aku rekomendasikan salah satu dari mereka karena sudah pasti orang baik. Kak, di dunia ini jangan mudah percaya pada siapa pun!”

“Termasuk si Saam!”

“Kaakkk? Kakak masih belum menerima Kak Saam?”

“Entahlah!”

Lihat selengkapnya