SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #14

Menuju Bahagia Itu Rumit

Dulu, setelah kabur meninggalkan hutang pada Mayrin Munah dan Dendra tanpa nama panjang, mereka tiba di Sumatra Utara dan memulai hidup baru dengan identitas lain. Seiring waktu berjalan, Toko yang serba ada itu akhirnya mengikuti zaman modern yang melayani berbagai transaksi transfer ke antarbank mau pun aplikasi keuangan lainnya. Mereka nyaris tidak ada komunikasi sebagai suami-istri selain mengurus tokonya, mereka hanya bekerja, tidur dan itu-itu saja berputar. Tidak ada waktu berdua, karena ada kesalahan kecil mereka bertengkar berulang kali kemudian bercerai. Namun, satu tahun bercerai nyatanya rujuk kembali dan berniat pulang ke Jakarta untuk mencari keberadaan anaknya yang kini sedikit mengganti namanya menjadi Mayrin Hanum dan si bungsu yang memiliki nama panjang Dendra Hanam, mereka tidak memiliki kontak Zahra. Pada akhirnya mereka menemukan kediaman anaknya dari hasil memperlihatkan foto Mayrin pada orang-orang, mereka tidak berani pergi ke bekas apartemen lama karena mungkin identitasnya akan dikenali.

Setelah penangkapan kedua orang tuanya itu, Mayrin mengecek CCTV dan melihat ada orang tuanya tanpa masker sebelum penangkapan ada di draft lanjutannya, cinta bukan tentang siapa yang saling mencintai, bukan tentang siapa yang melukai. Lebih dari itu, sebab keterbatasan rasa makhluk biasa cinta dapat menjadi benci. Mayrin dan adiknya teramat membenci keluarga mereka sendiri, anak tidak dapat memilih siapa orang tuanya. Namun atas saran om dan tantenya, Mayrin dan Dendra menemui orang tuanya.

“Kenapa Papa dan Mama melakukan ini?” Sambil menangis, Mayrin dielus punggung belakangnya oleh tantenya, sementara itu Dendra tidak dapat mengatakan apa pun karena terlalu kecewa pada orang yang seharusnya memberikan contoh yang baik.

Awalnya orang tua mereka akan menyerahkan diri setelah mengamankan aset-asetnya untuk Mayrin dan Dendra, tetapi identitasnya terekspos kala mereka sedang menikmati hidangan di sebuah restoran dan detektif yang sedang makan di sana melihatnya. Menghapus alis arsirannya, melepas tahi lalat dan hijabnya. Sementara papa Mayrin membuka rambut palsu dan gigi palsunya. Memang sangat sulit menangkap mereka selama ini, apalagi Mama Mayrin pernah melakukan bedah wajah hingga kerutannya hilang. Namun lambat laun, wajah aslinya kembali lagi.

 

Mayrin sedang dalam masalah di stasiun radio, sebagai yang bertanggung jawab atas anak asuhan training penyiarnya yang terdengar gugup saat siaran menggantikannya. Pikirannya memang kalut, sampai tidak dapat sempat menyiapkan script untuk siarannya, niat si anak training-nya baik untuk menggantikan tetapi dia lupa untuk menjadi seorang Mayrin Hanum harus menyiapkan mental yang cukup. Saat itu semua terkena damprat bagai genangan air yang mengenai kendaraan di jalanan, Mayrin akan segera mengundurkan diri sebagai bentuk tanggung jawabnya.

“Masalah ya masalah, tanggung jawab ya tanggung jawab! Enak saja kamu bilang akan mengundurkan diri, itu adalah bentuk ketidaktanggungjawaban kamu sebagai penyiar radio senior di sini! Saya harap kamu mengambil cuti untuk waktu yang lama, suruh calon suamimu menggantikan sebentar! Apa bagusnya sih menjadi sutradara, di balik layar!”

“Loh, Pak? Kan penyiar radio juga di balik layar.” Mendengar atasannya itu Mayrin yang pikirannya kacau menjadi sedikit terhibur, dia berusaha menahan tawanya.

“Ya pokoknya kalau kamu gak mampu balikin si Saam ke mari, gaji kamu saya potong!”

“Lah Pak!”

“Sana kamu pergi cuti, bikin repot saja!” Rekannya menguping di luar pintu pimpinan, mereka kira Mayrin akan dipecat ternyata malah sebaliknya. “Kalian yang nguping di sana kalau gak mau saya pecat kerja yang bener!” Semua bergegas bubar.

 

Pada akhirnya Mayrin terkenal sebagai anak koruptor hingga cuti mengudara, restoran Dendra sepi, tetapi meskipun begitu masih banyak fans Mayrin tetap mendukungnya. Ada beberapa telepon teror saat penyiar sedang mengudara, mereka selalu menegaskan penyiarnya sangat terhormat dan tidak mungkin terlibat dalam masalah. Jika ada masalah pun sudah diberhentikan, saat itu segmen selanjutnya yang seharusnya Mayrin Hanum tetapi digantikan Saam sebagai penyiar tamu juga sebagai calon suaminya. Amat berat baginya untuk mengatakan sesuatu dalam siaran, tetapi dia harus melakukan itu.

“Sebagai orang yang dekat dengan Mayrin Hanum sejak dulu, bahkan sebelum menjadi training saya sangat tahu bagaimana orang yang kucintai ini. Saya harap masyarakat khususnya para pendengar mendukungnya, bukan malah berspekulasi apa pun. Apa kalian tidak merasa selama ini Mayrin Hanum sudah menghibur banyak orang, sekarang giliran kita yang menghiburnya dengan mengirim tulisan atau kata-kata manis untuknya. Saya rasa sudah cukup, di sini saya sebagai penyiar tamu. Mari dengarkan lagu yang satu ini.” Mayrin mendengarkan siaran Saam bersama Sketsa yang selalu Saam panggil Essa, dia menangis pelan di kamarnya. Kemudian Dendra bilang ada teman lamanya yang datang, Mayrin menghapus air matanya dan karena terkejut siapa yang datang kali ini, bahkan sampai menyebut teman lama.

“Ya beginilah aku, hanya melihatmu dari jauh selama ini, aku adalah orang yang paling bahagia jika suatu saat nanti menikah dengan laki-laki baik.” Mayrin seperti bulu kuduknya naik karena terkejut oleh suara Mayta teman lamanya yang dia lupakan, Mayrin memeluk Mayta yang berdiri di batas pintu rumahnya. “Maaf ya aku seperti menerobos masuk rumahmu dan malah tahu dari tv rumahmu di sini. Teman macam apa aku ini?”

“Gak penting tau gak! Malah seharusnya aku yang minta maaf udah lupain kamu sejak pergi dari kosan bapakmu. Kenapa bulu kudukku naik dan jantungku hampir copot May, aku senang banget kamu ada di sini. Kamu masih merekam suara gak?”

Lihat selengkapnya