SAAM HANUM

Ana Dzikriani Thaibah
Chapter #16

Saam dan Hanum

Undangan yang seharusnya disebar satu bulan lalu harus ditimpa dengan tanggal dan bulan yang berbeda, banyak kerugian yang dialami oleh Mayrin dan Saam. Belum lagi menjadwal ulang booking gedung dan catering. Meskipun semuanya ditangani WO, tetapi mereka juga ikut stres. Karena pasti jadwal booking gedung sudah penuh semua, uang tidak dapat kembali, jadi mereka memilih hari kerja bukan akhir pekan karena untuk jadwal booking gedung kosong yang tersedia hanya di tahun yang akan datang. Orang-orang terdekat mereka saling menghibur calon pengantin yang banyak rintangannya ini, Mayrin Hanum ingin fokus ke pernikahan saja. Namun dia selalu tahu berita terkini, papa-mamanya masuk sidang perkara H-1 sebelum hari pernikahannya. Ingin masa bodoh, tetapi Mayrin kepikiran hingga berat badannya turun. Om dan tantenya melihat sidang perkara tanpa didampingi keponakan atau anak kakaknya itu, mereka sangat paham luka akan anak-anaknya selama ini. Namun mama kandung yang tinggal di Australia datang untuknya dan Mama Mayrin menangis. Mama kandungnya penuh sesal mengapa selalu mengabaikan anak perempuan sulungnya dan lebih mengutamakan Zahra sejak dulu.

 

Pernikahan itu berjalan dengan lancar, sebenarnya bisa saja papanya yang menikahkan Mayrin. Namun dia enggan meminta itu pada papanya sendiri, papa mamanya menyesal atas perbuatan mereka selama ini. Mayrin mau pun Dendra tidak mau tahu lagi soal orang tuanya apalagi vonisnya nanti, mereka bukannya membuang tetapi perlu waktu untuk semua itu. Mayrin akan selalu mengingat itu seumur hidup, sang wali pernikahan adalah adiknya bukan papanya sendiri, lagi pula dia sudah terlalu lama kehilangan sosok papa-mamanya sejak lama.

Mama Saam akhirnya dapat pergi dengan tenang setelah Saam menikah dengan wanita yang dicintainya, dia bangun dan merasa sehat di hari perniakhannya Saam dan Mayrin. Di kursi roda hotel, melihat suaminya yang terpaksa harus ditinggalkannya dulu dia sudah bahagia, suaminya juga sudah lebih menerima hal apa pun. Dulu dia ingin menemui istrinya yang belum dia ceraikan secara sah, tetapi sekarang saat orang yang pernah menjadi belahan jiwanya itu pergi hatinya lebih teriris. Bukan lagi cerai hidup tetapi cerai mati. Akan lebih menyakitkan lagi jika kewarganegaraannya dia urus dan tidak ada alasan lagi untuk kembali ke Indonesia.

 

Lihat selengkapnya