Langit Bangil sore itu menggantung kelabu seperti menahan sesuatu yang tak jadi jatuh. Udara lembap, angin pelan, dan halaman rumah orang tua Farid terasa lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada suara ayam berkokok, tidak ada tetangga yang menyapa. Seolah sore itu ikut mengerti bahwa sebuah perpisahan sedang terjadi.
Farid berdiri di ambang pintu dengan tas kecil di tangan kirinya dan tangan kanan menggenggam jemari Anisa. Hangat, tapi gemetar. Bukan karena ragu pada pernikahannya, melainkan karena beratnya meninggalkan restu yang belum sepenuhnya turun.
Ayah Farid berdiri di teras, kedua tangannya terlipat di dada. Wajahnya tegas, tapi mata tuanya menyimpan kegelisahan yang tak sempat ia sembunyikan.
“Bapak bukan tidak setuju kamu menikah, Rid…” suaranya berat, tertahan.
“Tapi kamu membawa perempuan sejauh itu. Budaya beda. Latar belakang beda. Kamu tahu sendiri… masa lalu di Kalimantan itu bukan cerita kecil.”
Kata masa lalu itu menggantung seperti bayangan panjang yang tidak pernah benar-benar pergi dari ingatan generasi mereka.
Farid menunduk hormat. Ia tidak ingin melawan. Ia juga tidak ingin ayahnya merasa dikalahkan.
“Farid tidak menikah dengan masa lalu siapa pun, Pak,” katanya pelan, hampir bergetar.
“Farid menikah dengan iman dan akhlaknya.”
Ibunya berdiri di belakang ayahnya, memegang ujung kerudung dengan jari gemetar. Mata itu basah, tapi bibirnya memaksa tersenyum.
“Ibu cuma takut kamu hidup susah, Nak…” bisiknya lirih.
Farid mendekat, menyalami tangan ibunya lebih lama dari biasanya.
“Doakan saja, Bu. Kalau kami dekat dengan Allah, kami tidak akan benar-benar susah.”
Di sisi Farid, Anisa berdiri dengan kepala sedikit menunduk. Ia bukan tidak mendengar semua keraguan itu. Ia hanya memilih tidak membalas dengan pembelaan.
Hatinya sudah lebih dulu menyerahkan semuanya pada Allah.
Di Kutai Kartanegara, beberapa hari sebelumnya, perpisahan juga tidak ringan.
Bibinya memeluk Anisa lama sekali, seakan memeluk anak sendiri yang hendak pergi ke negeri jauh.
“Kamu yakin, Nisa? Orang Jawa itu keras. Dan mereka… sering takut pada kita. Kamu nanti sendirian.”
Anisa tersenyum dengan mata yang sudah basah sebelum tangis benar-benar jatuh.
“Aku tidak sendirian, Bi. Aku bersama suamiku. Dan bersama Allah.”
Kalimat itu sederhana, tapi menjadi bekal paling kuat yang ia bawa menyeberangi laut.
Sebulan pertama di kota, hidup mereka tidak mewah, tapi cukup hangat. Kontrakan kecil di pinggir kota itu berdinding tipis, atap seng, dan lantai semen yang dingin saat malam. Tapi di dalamnya ada suara tawa pelan, ada doa yang dibaca bersama, dan ada dua hati yang masih belajar menyebut kata kita tanpa canggung.
Sampai malam itu datang.
Hujan turun sejak sore, awalnya pelan. Mereka bahkan sempat minum teh sambil mendengarkan suara rintik di atap seng.
“Aku suka suara hujan,” kata Anisa waktu itu.
“Tenang.”
Farid tersenyum.
“Kalau deras, bisa jadi repot.”
Anisa tertawa kecil.
“Mas ini realistis sekali.”
Menjelang Isya, suara hujan berubah. Bukan lagi rintik, tapi derap deras seperti ribuan kaki berlari di atas atap. Angin mulai masuk lewat celah jendela.
Lalu Anisa melihatnya.
Air tipis merayap masuk dari bawah pintu.
“Mas…” suaranya berubah pelan.
“Air masuk.”
Farid bangkit cepat. Membuka pintu sedikit. Air di luar sudah setinggi mata kaki.
Belum sempat mereka berpikir panjang, arus kecil mulai masuk deras.