Malam kedua setelah banjir selalu lebih sunyi daripada malam pertama.
Bukan karena airnya sudah surut—justru karena tubuh mulai benar-benar merasakan lelah, dan hati mulai pelan-pelan mengerti bahwa ini bukan mimpi buruk semalam, melainkan ujian yang nyata.
Farid duduk di tangga kecil depan kontrakan, memandangi air yang masih menggenang di halaman. Lampu jalan di ujung gang memantulkan cahaya kuning redup di permukaan air keruh, membuat lingkungan itu terlihat seperti kota yang tenggelam dalam kesedihan.
Di dalam rumah, Anisa memeras kain pel satu-satunya yang mereka punya. Tangannya merah, kukunya dipenuhi sisa lumpur yang sulit hilang.
Ia berhenti sejenak, memandangi ruang tamu yang masih berbau apek. Dindingnya menyisakan garis kecokelatan bekas tinggi air semalam—sebuah tanda yang seolah ingin berkata: kalian pernah sampai di titik ini.
“Mas…” panggilnya pelan.
Farid menoleh.
“Ya?”
“Kita masih punya beras sedikit… tapi lauknya tinggal telur satu.”
Farid mengangguk pelan.
“Kita bagi dua saja.”
Anisa tersenyum kecil.
“Kita bagi tiga.”
Farid mengernyit.
“Tiga?”
Anisa menunjuk dada suaminya.
“Satu buat Mas, satu buat aku… satu buat sabar kita malam ini.”
Farid tertawa pelan, tapi matanya basah.
Mereka makan di lantai beralas koran kering yang berhasil diselamatkan. Nasi hangat, telur dadar tipis, dan air putih.
Tidak ada keluhan.
Hanya sesekali Farid memandang istrinya diam-diam, melihat bagaimana perempuan itu makan pelan agar suaminya tidak sadar ia menyisakan bagian untuknya.
Setelah makan, listrik kembali padam. Mereka duduk berdampingan, hanya diterangi cahaya lilin kecil.
Angin malam masuk lewat jendela tanpa kaca. Dingin merayap pelan.
Anisa menggigil.
Farid melepas jaket tipisnya dan menyelimutkan ke bahu istrinya.
“Kamu pakai saja.”
“Mas nanti kedinginan.”
“Aku sudah biasa.”
Anisa menatapnya lama.
“Mas belum biasa… tapi Mas selalu pura-pura kuat.”
Farid terdiam. Kata-kata itu menembus lebih dalam dari udara dingin.
Di luar, suara air menetes dari atap ke genangan menciptakan irama sunyi yang panjang.
“Apa Mas menyesal menikah denganku?” tanya Anisa tiba-tiba.
Farid langsung menoleh cepat.
“Kenapa kamu tanya begitu?”
Anisa menunduk.
“Aku cuma takut… hidup Mas jadi lebih berat sejak bersamaku.”
Farid memegang tangan istrinya erat.
“Hidupku memang berat sekarang… tapi hatiku lebih tenang. Dan itu karena kamu.”
Air mata Anisa jatuh tanpa suara.
Mereka tidak punya kasur kering malam itu, hanya tikar plastik tipis yang separuh masih lembap. Mereka duduk bersandar ke dinding, kaki diselonjorkan, berbagi selimut tipis.
Dingin tidak hilang.
Lelah tidak hilang.
Masalah belum selesai.
Tapi malam itu, untuk pertama kalinya sejak banjir, Farid merasa rumah itu kembali hidup.
Bukan karena dindingnya.
Bukan karena lantainya.
Tapi karena pelukan yang menghangatkan di tengah genangan.
Dan di sela sunyi malam itu, Farid berbisik dalam hati:
Ya Allah… jika ini cara-Mu mengajarkan kami tentang makna bersama, jangan biarkan kami belajar sendirian.
Malam makin larut, tapi perut tidak mengenal waktu.
Sekitar pukul sembilan, Farid merasakan perutnya kembali perih. Bukan lapar yang biasa—tapi lapar yang datang karena tubuh sudah terlalu lelah.
Anisa melihat suaminya memegang perut pelan.
“Mas belum kenyang ya tadi?” tanyanya lembut.
Farid menggeleng cepat.
“Sudah, kok.”