Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"

Ahmad Wahyudi
Chapter #3

DOA YANG MENGAPUNG DI ATAS AIR

(Malam Itu, Rumah Mereka Tenggelam… Tapi Langit Justru Membuka Pintu)

Tak ada matahari yang pamit sore itu. Langit menggantung kelabu seperti menahan tangis yang belum sempat jatuh. Magrib datang tanpa cahaya, tanpa warna, hanya ditemani genangan air yang diam-diam menguasai lantai rumah kecil Farid dan Anisa.

Air setinggi mata kaki merayap dingin, memeluk kaki mereka dengan keheningan yang menusuk. Bau lembap menusuk dada. Dinding basah. Kasur terangkat. Dunia mereka seperti runtuh perlahan, tanpa suara keras, tanpa peringatan.

Tapi di tengah sunyi yang menyesakkan itu, adzan tetap terdengar. Pelan. Jauh. Teredam air dan angin. Namun cukup untuk menggetarkan sesuatu yang tidak ikut tenggelam: iman.

Farid menatap papan kayu yang ia susun di atas dua kursi plastik. Sebuah “pulau kecil” di tengah lautan ujian.

“Kita shalat di sini saja ya, Nisa…” suaranya pelan, tapi di dalam dadanya badai sedang bergemuruh.

Anisa mengangguk. Tangannya terangkat membawa sajadah kecil yang seharian dijemur. Masih lembap. Masih dingin. Tapi cukup untuk menjadi tempat bersujud.

Mereka berdiri berdampingan di atas papan sempit itu. Di bawah mereka, air tenang seperti cermin gelap, seakan ingin memantulkan ketakutan mereka sendiri.

Tak ada lampu terang. Tak ada kipas. Tak ada kenyamanan. Hanya cahaya senja yang hampir mati dan suara tetes air dari atap yang seperti detak jam terakhir sebelum hati menyerah.

Lalu Farid mengangkat tangannya.

“Allahu Akbar…”

Suaranya bergetar. Bukan karena dingin. Tapi karena ia tahu, ini bukan sekadar shalat. Ini adalah garis terakhir antara putus asa dan percaya.

Lihat selengkapnya