Air akhirnya pergi.
Bukan dengan suara perpisahan, bukan dengan pelukan hangat, tapi dengan meninggalkan jejak luka di setiap sudut rumah kecil mereka. Lumpur tipis melekat di lantai, dinding bernoda, dan bau lembap yang menolak hilang seolah ingin mengingatkan: kalian baru saja diuji.
Farid berdiri lama di tengah ruang tamu yang kini kosong. Lemari rusak. Kasur tak lagi layak. Buku-buku basah mengerut seperti mimpi yang tak sempat diselamatkan.
“Aku harusnya bisa jaga kamu lebih baik…” bisiknya tanpa menoleh.
Anisa yang sedang memeras kain pel berhenti sejenak. Tangannya dingin, tapi suaranya hangat.
“Mas menjaga aku dengan iman, bukan dengan tembok.”
Farid memejamkan mata. Kalimat itu terasa seperti pelukan yang tidak terlihat.
Hari-hari setelah banjir justru lebih sunyi dari malam saat air datang. Tidak ada suara hujan, tidak ada teriakan panik—hanya suara hati yang mulai dihantui pertanyaan.
Uang menipis. Tabungan habis untuk memperbaiki hal-hal kecil yang tak lagi bisa ditunda. Dapur sunyi. Dompet ringan.
Malam itu mereka duduk berdua di lantai yang sudah kering, beralaskan tikar tipis. Lampu redup. Hening panjang.
“Kalau hidup terus begini… kamu menyesal ikut aku ke sini?” Farid bertanya pelan, suaranya seperti seseorang yang takut mendengar jawabannya sendiri.
Anisa menoleh. Matanya teduh, meski lelah belum sepenuhnya pergi.
“Aku tidak menikah untuk hidup mudah, Mas. Aku menikah untuk berjalan ke Allah bersamamu.”
Jawaban itu tidak menghilangkan masalah. Tapi menguatkan bahu yang hampir runtuh.
Keesokan harinya, telepon dari Bangil datang.