Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"

Ahmad Wahyudi
Chapter #5

DI BALIK SENYUM, ADA PENGORBANAN


Tidak semua perjuangan bersuara.

Ada yang berjalan pelan, tersembunyi di balik senyum yang sengaja dipaksakan agar pasangan tidak ikut merasa hancur.

Sejak air surut dan realita datang tanpa ampun, Farid mulai pulang lebih malam dari biasanya. Bajunya berbau debu gudang, tangannya kasar oleh kerja tambahan yang tak pernah ia ceritakan dengan lengkap.

“Mas capek?” tanya Anisa suatu malam, saat melihat suaminya duduk lama tanpa bicara.

Farid tersenyum kecil, senyum yang terlalu ringan untuk wajah selelah itu.

“Capek itu biasa. Yang penting kita masih bisa makan.”

Anisa tahu itu bukan jawaban jujur. Tapi ia juga tahu, harga diri seorang suami kadang lebih rapuh dari tubuhnya.

Malam itu, setelah Farid tertidur karena kelelahan, Anisa duduk di dekat jendela. Lampu kecil menyala redup. Di pangkuannya ada kain bekas dan jarum yang ia beli diam-diam dari sisa uang belanja.

Tangannya belum terbiasa menjahit. Beberapa kali jarum menusuk jarinya sendiri. Tapi ia hanya meniup pelan luka kecil itu, lalu melanjutkan.

“Kalau Mas berjuang di luar… aku harus berjuang di dalam,” bisiknya.

Pesanan pertama datang dari tetangga: mengecilkan baju sekolah anaknya. Uangnya tak seberapa, tapi cukup untuk membeli beras dan minyak goreng.

Keesokan harinya, Farid pulang membawa uang tambahan hasil kerja malam. Ia meletakkannya di meja kecil.

“Lumayan buat bayar listrik,” katanya pelan.

Anisa tersenyum dan menyodorkan belanjaan yang sudah ia beli lebih dulu.

Farid mengernyit.

Lihat selengkapnya