Saat Rumah Kami Tenggelam, Iman Kami Mengapung"

Ahmad Wahyudi
Chapter #6

SAAT TUBUH MELEMAH, CINTA DIUJI

Malam itu hujan tidak turun, tapi udara tetap dingin.

Farid pulang lebih lambat dari biasanya. Langkahnya berat, napasnya terdengar pendek. Bajunya basah oleh keringat yang sudah dingin, wajahnya pucat seperti orang yang terlalu lama menahan sesuatu.

Anisa yang sedang melipat pakaian langsung berdiri.

“Mas… kok wajahnya pucat begitu?”

Farid mencoba tersenyum.

“Cuma capek…”

Belum sempat ia duduk sempurna, pandangannya berkunang-kunang. Dunia seperti berputar pelan, lalu tubuhnya limbung.

“Mas!” teriak Anisa panik.

Ia memapah suaminya ke tikar. Tangannya gemetar. Bukan hanya karena takut, tapi karena bayangan terburuk tiba-tiba menyerbu pikirannya.

Demam Farid tinggi malam itu. Tubuhnya panas, napasnya berat. Anisa duduk di sampingnya sepanjang malam, mengompres dahi suaminya dengan kain basah, mengganti air berkali-kali.

Lampu redup. Rumah sunyi. Hanya suara napas Farid dan detak jantung Anisa yang terasa terlalu keras.

Ia menatap wajah suaminya lama.

“Ya Allah… jangan uji aku dengan kehilangan orang yang Engkau titipkan ini…” bisiknya sambil menangis pelan.

Itu bukan tangis keras. Bukan tangis panik. Tapi tangis seseorang yang tahu ia tak punya siapa-siapa lagi di kota ini selain lelaki yang terbaring lemah di depannya.

Subuh datang pelan. Farid membuka mata dengan lemah.

Lihat selengkapnya