Langit mulai berubah warna ketika matahari perlahan menuruni peraduannya. Semburat jingga menyelimuti cakrawala, memantulkan cahaya keemasan di permukaan laut yang tenang. Ombak kecil berkejaran menuju bibir pantai, meninggalkan buih putih yang segera menghilang ketika pasir menyerapnya kembali. Angin sore berembus lembut, membawa aroma asin laut yang menenangkan sekaligus suara burung camar yang sesekali melintas di atas langit.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar delapan tahun duduk sendirian di atas batu karang yang tidak terlalu besar. Kedua kakinya diayun perlahan, sementara matanya tak pernah lepas memandangi matahari yang semakin rendah. Wajahnya dipenuhi rasa kagum, seolah-olah pemandangan itu adalah sesuatu yang tidak pernah membosankan untuk dilihat setiap hari.
Namanya Senja.
Sejak kecil, ia selalu menyukai saat matahari hendak tenggelam. Baginya, senja bukanlah pertanda hari akan berakhir, melainkan saat langit berubah menjadi lukisan paling indah yang tidak pernah dibuat oleh manusia.
"Ayah bilang setiap sore langit selalu berbeda," gumam Senja pelan sambil tersenyum. "Makanya aku nggak pernah bosan lihatnya."
Ia memeluk kedua lututnya sambil terus memandang ke arah laut.
Tak lama kemudian, pandangannya tertuju pada seorang anak perempuan yang sedang berlari-lari di tepi pantai. Rambutnya yang sebahu tertiup angin, sementara tawanya terdengar jelas meski bercampur suara ombak. Gadis kecil itu tampak sibuk mengejar ombak yang datang, lalu berlari mundur setiap kali air hampir mengenai kakinya.
Sesekali ia membungkuk mengambil kerang, lalu memasukkannya ke dalam ember kecil berwarna kuning yang sudah hampir penuh.
Senja memperhatikannya cukup lama.
Anak itu tampak sangat ceria.
Entah mengapa, Senja merasa ingin mengajaknya berbicara. Namun seperti biasanya, rasa malu lebih dulu muncul.
"Apa dia mau berteman ya?" batinnya.
Ia menunduk sejenak, menggambar garis-garis kecil di pasir menggunakan ujung sandal.
Setelah mengumpulkan keberanian beberapa menit, Senja akhirnya berdiri. Ia menepuk-nepuk celananya yang dipenuhi pasir, lalu berjalan perlahan menghampiri gadis kecil itu.
Semakin dekat jaraknya, langkahnya justru semakin pelan.
Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.
Anak perempuan itu baru menyadari keberadaan Senja ketika ia berdiri sekitar dua meter darinya.
"Hmm?" Gadis itu memiringkan kepala sambil tersenyum ramah.
Senja langsung menunduk gugup.
"H-hi..."
Gadis itu terkekeh pelan.
"Hai juga."
Senja menggaruk belakang kepalanya.
"Na... namaku Senja."
Senyum gadis kecil itu semakin lebar.
"Iya, salam kenal ya. Nama kamu bagus juga."
Senja sedikit terkejut.
"Bagus?"
"Iya."
Gadis itu mengangguk mantap.
"Soalnya kayak langit sekarang."
Senja spontan menoleh ke arah matahari yang mulai tenggelam.
"Iya ya..."
"Aku Sore."
Kali ini giliran Senja yang tersenyum.
"Namamu juga bagus."
"Hehe."
Mereka berdua saling diam beberapa detik.
Suasana yang awalnya canggung perlahan berubah menjadi nyaman berkat suara ombak yang terus menemani.
"Apa kamu sendirian ke sini?" tanya Sore sambil mengambil satu kerang lagi.
"Iya."
"Nggak takut?"
Senja menggeleng.
"Aku sering ke sini."
"Sendiri?"
"Iya."
"Kenapa?"
Senja menatap kembali langit.
"Soalnya aku suka lihat matahari terbenam."
Sore ikut memandang cakrawala.
"Aku juga suka."
"Serius?"
"Iya."
"Habis itu ngapain?"
"Aku cari kerang."
Sore mengangkat ember kecilnya dengan bangga.
"Lihat."
Senja melihat isi ember yang dipenuhi berbagai macam kerang berwarna putih, krem, hingga merah muda.
"Banyak sekali."
"Iya."
"Aku mau bikin hiasan."
"Wah..."
"Kamu mau bantu cari?"
Mata Senja berbinar.
"Boleh?"
"Tentu."