Beberapa bulan telah berlalu sejak pertemuan pertama Senja dan Sore di pantai yang dihiasi langit jingga. Hari itu ternyata bukan sekadar pertemuan biasa, melainkan awal dari sebuah persahabatan yang perlahan tumbuh menjadi kebiasaan yang tak dapat dipisahkan. Hampir setiap sore, setelah pulang sekolah, Senja akan berlari pulang secepat mungkin hanya untuk mengganti seragamnya, lalu mengayuh sepeda menuju pantai dengan senyum yang tak pernah absen menghiasi wajahnya. Di sisi lain, Sore selalu datang beberapa menit lebih awal sambil membawa ember kecil atau layang-layang, seolah ia yakin bahwa sahabat barunya pasti akan datang. Dan benar saja, belum lama ia menunggu, suara bel sepeda Senja selalu terdengar dari kejauhan, membuat senyumnya mengembang sebelum anak laki-laki itu benar-benar tiba.
"Kamu telat tiga menit," ujar Sore sambil melipat kedua tangan di depan dada, berpura-pura kesal.
Senja menghentikan sepedanya dengan napas yang sedikit terengah. "Aku tadi disuruh Mama beli roti dulu."
"Alasan."
"Beneran."
"Kalau bohong?"
"Aku traktir es krim."
Sore langsung tertawa. "Nah, kalau gitu aku maafin."
Mereka berdua kembali tertawa, seolah percakapan sederhana itu sudah cukup membuat sore mereka menjadi menyenangkan.
Hari demi hari berlalu dengan cara yang hampir selalu sama, tetapi tidak pernah terasa membosankan. Kadang mereka bermain pasir di pantai, kadang berlari mengejar ombak, kadang menerbangkan layang-layang hingga matahari benar-benar tenggelam. Di hari lain, mereka memilih pergi ke taman kota yang tidak jauh dari rumah mereka. Di sana terdapat pohon-pohon besar yang membuat udara terasa sejuk meski matahari masih bersinar hangat. Mereka sering menghabiskan waktu di taman itu sambil memberi makan burung merpati atau berlomba siapa yang bisa berlari mengelilingi taman paling cepat.
"Yang kalah beli es lilin!" teriak Sore sambil mulai berlari.
"Eh, curang! Belum mulai!" Senja langsung mengejarnya sambil tertawa.
"Kamu lambat!"
"Tunggu saja!"
Anak-anak lain yang sedang bermain di taman ikut memperhatikan mereka. Beberapa bahkan tersenyum melihat tingkah dua sahabat kecil itu yang tak pernah kehabisan energi. Terkadang mereka ikut bermain bersama, tetapi pada akhirnya Senja dan Sore selalu kembali berjalan berdampingan. Rasanya, keduanya memang sudah menjadi pasangan sahabat yang sulit dipisahkan.
Bahkan para pedagang di sekitar taman mulai mengenal mereka.
"Eh, Senja sama Sore datang lagi," sapa seorang penjual balon sambil melambaikan tangan.
"Iya, Om!" jawab Sore ceria.
"Kalian nggak capek main terus?"
"Nggak!" jawab mereka bersamaan.
Penjual balon itu tertawa kecil. "Kalian memang kompak."
Tidak hanya penjual balon, penjaga warung, penjual cilok, hingga tukang es keliling pun hafal dengan wajah mereka. Setiap kali melihat salah satu dari mereka datang sendirian, pertanyaan pertama yang selalu muncul adalah, "Lho, temannya mana?"
Hal itu membuat Senja dan Sore saling menatap, lalu tertawa kecil.
Suatu sore, setelah puas bermain di taman, mereka duduk di bangku kayu sambil menikmati es lilin rasa stroberi. Angin berembus pelan, membuat daun-daun bergoyang lembut di atas kepala mereka.
"Senja."
"Hm?"
"Kalau nanti kita udah gede..."
"Iya?"
"Kamu jangan lupa sama aku ya."
Senja memandang wajah sahabatnya dengan bingung.
"Memangnya kenapa aku harus lupa?"
"Soalnya orang kalau udah gede biasanya punya teman baru."