Aroma cokelat hangat memenuhi ruang tamu rumah Sore. Hujan yang semula turun rintik kini berubah menjadi lebih deras, membuat suara tetesan air di atas genting berpadu dengan gelegar petir yang terdengar sayup dari kejauhan. Senja duduk dengan handuk kecil di atas kepalanya, sementara Sore sibuk menggosok rambutnya sendiri hingga berantakan. Melihat rambut sahabatnya yang berdiri ke segala arah, Senja tak kuasa menahan tawa.
"Apa?" tanya Sore sambil mengernyitkan dahi.
"Rambutmu."
"Kenapa rambutku?"
"Kayak sapu."
Sore spontan mengambil bantal sofa lalu melemparkannya ke arah Senja. Anak laki-laki itu tertawa sambil menangkis bantal tersebut.
"Jahat."
"Siapa suruh ngeledek?"
"Kan lucu."
"Lucu buat kamu."
Ibu Sore keluar dari dapur sambil membawa dua cangkir cokelat hangat dan sepiring pisang goreng yang masih mengepulkan uap. Beliau meletakkannya di atas meja ruang tamu, lalu memandang kedua anak itu dengan senyum yang tak pernah hilang setiap kali melihat mereka bersama.
"Sudah, jangan berantem. Tadi katanya sahabatan."
"Kami nggak berantem, Tante," jawab Senja sambil tersenyum malu.
"Iya, Ma. Ini cuma bercanda."
"Kalau begitu, habiskan cokelatnya. Nanti masuk angin."
"Siap!" jawab mereka hampir bersamaan.
Ibu Sore menggeleng pelan. "Kalau melihat kalian begini, rasanya seperti melihat anak kembar yang dipisahkan sejak lahir."
Kalimat itu membuat mereka saling berpandangan sebelum akhirnya tertawa kecil.
Beberapa menit kemudian, hujan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Senja sebenarnya berniat pulang sebelum langit benar-benar gelap, tetapi ibu Sore melarangnya.
"Tunggu sampai hujannya reda saja. Mama kamu sudah Tante telepon. Katanya tidak apa-apa kalau kamu di sini dulu."
"Baik, Tante."
"Kalau bosan, main saja di kamar Sore."
Sore langsung berdiri sambil menarik tangan Senja.
"Ayo."
"Kemana?"
"Ke kamarku."
Kamar Sore tidak terlalu besar, tetapi terasa hangat. Dindingnya dipenuhi gambar bunga dan beberapa hasil lukisan sederhana yang dibuatnya sendiri. Di sudut ruangan terdapat rak kecil berisi buku cerita, boneka, dan kotak berisi kerang-kerang yang mereka kumpulkan bersama di pantai.
"Lihat."
Sore membuka kotak itu dengan hati-hati.
"Kerangnya sudah banyak."
Senja memperhatikan isi kotak itu dengan mata berbinar. Hampir setiap kerang memiliki kenangan tersendiri.
"Yang ini waktu kita cari sampai kena ombak."
"Iya."
"Kalau yang ini waktu aku jatuh."
"Iya, terus kamu nangis."
"Aku nggak nangis."
Sore menahan tawa. "Bohong."
"Cuma sedikit."
"Itu namanya nangis."
Senja akhirnya ikut tertawa. Ia sadar tak mungkin menang berdebat dengan Sore jika menyangkut kejadian-kejadian yang mereka alami bersama. Gadis kecil itu selalu mengingat semuanya dengan sangat baik.
"Aku mau simpan semuanya sampai besar nanti," kata Sore sambil menutup kembali kotak tersebut.
"Kenapa?"
"Supaya kalau kita sudah dewasa, kita masih ingat waktu kecil."
Senja mengangguk pelan.
"Iya ya."
"Nanti kalau kita sudah kerja, sudah kuliah, atau sudah punya keluarga sendiri, kita buka lagi kotak ini."
"Kamu yakin kita masih ketemu?"