Dan janganlah kamu mendekati zina, (zina) itu sungguh perbuatan keji dan suatu jalan yang buruk.
-Q.S. Al-isra :32-
“Hey,” Aprilia merangkul Ali dari belakang membuat Ali terhentak.
“Kita jadikan pergi?” tanya Aprilia mendekat pada Ali.
“Emmh iyah jadi,” Ali melepaskan rangkulan Aprilia sedikit merasa tidak nyaman.
“Ayo.” Aprilia berseru ia lalu menggandeng tangan Ali. Ali refleks Ali melepaskan tangan Aprilia, teringat perkataan Viga.
“Eh kenapa?” Aprilia memandang Ali heran,
“Eu, aku mau ngambil motor dulu.” Ucap Ali terlihat gelisah, Ali lalu bergegas menuju parkiran.
Perkataan Viga ternyata masuk kedalam fikiran Ali, Ali begitu gelisah setiap kali bersentuhan dengan Aprilia, Viga memang benar ia tak bisa menghindari untuk tidak bersentuhan dengan Aprilia. Ali mencoba untuk bersikap biasa meski ia tak bisa menampik ada perasaan bersalah juga takut didalam dirinya.
Tak berselang lama Ali dan Aprilia sudah berboncengan diatas motor melesat membelah jalanan kota, Matahari mulai menjorok kearah barat menampakan semburat senja yang menyenangkan dipandang mata.
Ali fokus memperhatikan bahu jalan, tak ada yang aneh hingga saat Aprilia kembali memeluknya dari belakang hal biasa yang sering mereka lakukan, bahkan Ali lah yang pertama kali meminta Aprilia untuk melakukannya.
Namun berbeda dengan hari itu, ingatannya kembali membawanya pada sosok Viga yang seolah menjadi lonceng pengingat setiap kali ia bersentuhan dengan Aprilia, Ali gelisah namun ia hanya mampu terdiam.
Hari itu Ali memang sudah berjanji untuk pergi bersama Aprilia, mereka pergi ke berbagai tempat menonton film di bioskop, makan bersama, dan melakukan hal-hal yang biasa pasangan kekasih lakukan. Karena terlalu sibuk dengan Aprilia Ali mulai lupa dengan nasihat Viga, ia kembali terbiasa dengan jarak dianatara dirinya dengan Aprilia. Begitupun dengan Aprilia yang seperti sudah terbiasa menyentuh maupun disentuh oleh Ali.
Waktu terus bergulir, perlahan sinar mentari hilang ditelan sang malam. Sudah seharian sepasang kekasih itu menghabiskan waktunya bersama, Ali dan Aprilia lalu memutuskan untuk pulang namun alam seperti hendak menguji dua insan yang sedang dimabuk cinta itu.
Awan kelabu menggantung diangkasa yang menghitam, berat ia tak mampu menahan dirinya. Ribuan rintik hujan menghujam seisi bumi, kilat menyambar dengan gemuruh yang memekakkan telinga.
“Deras banget ujannya,” Ali berucap, matanya menatap langit yang menggelap.
Hari sudah malam, Ali dan Aprilia berteduh disebuah emperan ruko yang tutup, derasnya hujan membuat suasana kala itu sudah begitu sepi.
“Kenapa.?” Ali bertanya kala terus Aprilia menatapnya. Aprilia tersenyum malu.