Hari telah berganti, sang surya kembali menghangatkan semesta dengan cahayanya, hari itu Ali bertekad ingin menyudahi rasa bersalahnya walau ia sendiri tak tau bagaimana caranya, saat itu yang Ali fikirkan ia hanya ingin bertemu dengan Viga.
Ali berjalan cepat melewati koridor suasana kampus cukup sepi tak terlalu banyak mahasiswa, namun ia cukup sulit menemukan Viga terlebih sedari malam Viga sendiri tak bisa dihubungi, ia lalu bergegas menuju ruang kelasnya namun sesampainya didepan kelas ia justru melihat Aprilia disana, mengingat kejadian semalam untuk pertama kalinya Ali enggan bertemu dengan Aprilia, Ali rasa ia perlu menjaga jarak dengan Aprilia.
Ali menyadari sikapnya perlahan merubah Aprilia menjadi tidak baik, dalam benaknya saat itu Ali hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Viga walau Ali sendiri tak tau apa yang harus ia bicarakan, yang jelas rasa bersalah ini membuat perasaannya semakin kacau.
Ali tau Viga tidak ada dikelas namun ia tak menyerah melanjutkan pencarian langkahnya lalu tertuju pada satu tempat yang menjadi favorite mahasiswa tingkat akhir yakni Perpustakaan, semenjak dipusingkan dengan tugas skripsi Viga selalu rajin menghabiskan waktunya bersama Khadijah di Perpustakaan.
Kakinya melangkah memasuki ruang perpustakaan, ia menyusuri setiap sudutnya, memeriksa setiap orang yang hadir namun ia masih tak menemukan Viga, Ali menghela nafas panjang berfikir sejenak kemanakah Viga, ia memeriksa jam ditangannya waktu menunjukan pukul 11.00 siang.
“Ali,” Seseorang menyapa.
“Eh Khadijah lo disini?” Tanyanya,
“Iyah li, kamu tumben disini.”
“Iyah gue mau cari referensi nih. Lo sendirian Khadijah?” Ali celingukan kesana kemari memastikan biasanya dimana Khadijah disana ada Viga.
“Tadi sih sama Viga, tapi dia baru aja otw ke masjid.”
“Oh, ketemu sama Vikra yah?” Ali nampak tak suka,
“Kenapa jadi Vikra, Ya ke Masjid itu pasti buat ibadah li.”
“Ya biasanya kan mereka suka ketemu disana, lagian jam segini ibadah apa belum waktu sholat juga.” Khadijah tersenyum
“Sebentar lagi kan adzan Dzuhur li, Kebetulan tadi Viga kebelet jadi dia duluan, ini aku mau nyusul.”
“Ouh gitu,”
“Kamu, Cemburu li?”
“Emang gue kaya yang cemburu?”
“Iyah,” Khadijah tersenyum.
“Ya gak lah Viga itu sahabat gue.”
“Status sahabat bukan berarti gak boleh saling jatuh cinta kan.”
“Ya masa iyah gue suka sama sahabat gue sendiri.”
“Ya kenapa enggak, yang aku tau nih gak ada laki-laki dan perempuan gak mungkin bersahabat kecuali ada rasa rasa yang menguji diantara mereka, bisa aja kan kamu gak sadar.”
“Jadi maksud lo ada kemungkinan kita saling suka gitu?” Khadijah mengangguk.
“Kalau menurut aku, kamu hanya harus lebih peka sama hati kamu li, jangan-jangan selama ini kamu gak sadar siapa yang kamu suka.” Ucapnya.
“Yang gue suka ya Aprilia lah, diakan pacar gue.”
“Ya kalau gitu seharusnya gak ada masalah buat kamu, kalau akhirnya Viga dan Vikra taaruf bahkan menikah.” Ucap Khadijah, hati Ali kembali terhentak.
Khadijah benar seharusnya tak ada masalah jika Viga danVikra akhirnya menikah, namun entah mengapa Ali justru merasa tidak rela.
“Aku duluan ya mau nyusul Viga.” Khadijah tersenyum, lalu melangkah pergi meninggalkan Ali.
Cukup lama Ali terdiam diperpustakaan, tak lama terdengar suara kumandang Adzan Ali teringat Viga ada disana, ia lalu memutuskan untuk pergi ke masjid.
Sesampainya di masjid Äli melihat banyak mahasiswa disana, Masjid memang akan selalu ramai dijam-jam sholat, Ali melangkah memasuki pelataran masjid, sejenak ia melihat ke shaf wanita dan yah matanya mendapati Viga disana, Ali menghela nafas menyadari ada debaran didalam dadanya.
“Li,” Seseorang berseru membuat Ali tereksiap, dan ia mendapati Vikra dihadapanya.