Playback :
“Gue gak ngerasa saingan sama siapapun li, karena gue yakin kalau memang Viga ditakdirkan buat gue, akan selalu ada cara buat kita berjodoh, dan begitu juga kalau dia jodoh lo, kalau pun ternyata dia sama lo ya gue akan ikhlas.” Ucapnya, Ali takjub mendengar ucapan Vikra. Ali memperhatikan Vikra sejenak dan Ali mulai merasa insecure, setidaknya Vikra lebih paham agama dan ia jauh lebih dewasa, hatinya bergeming bagaimana jika ternyata Vikra jauh lebih pantas untuk Viga dibanding dirinya.
“Gue duluan,” Vikra menepuk pundak Ali, membuyarkan fikirannya.
“Apakah gue siap?.” Geming Ali didalam hatinya.
-VigliLovestory-
Waktu berlalu, setelah berkecamuk dengan tugas skripsi dan sidang yang menguras otak dan hati kini saatnya semua mahasiswa menerima hasil perjuangan selama 4 tahun.
Hari itu adalah hari wisuda untuk mereka semua mahasiswa berkumpul dalam sebuah gedung dengan monitor besar dihadapan mereka. Para mahasiswa tampil berbeda hari mereka mengenakan pakaian dan topi toga, rasa bahagia, bangga, lega, juga sedih, semua bercampur menjadi satu.
Ali terduduk disalah satu bangku, acara wisuda akan segera dimulai orang-orang masih berlalu lalang, tak lama ada sesuatu hal yang menarik Ali, Ali terpana kala melihat Viga datang, ia berbeda dari biasanya hiasan diwajah membuat Viga terlihat begitu cantik, disudut lain Vikra pun nampak terpana kala Viga datang bersama Khadijah yang tak kalah cantik.
Acara wisuda lalu berlangsung dengan hikmat, satu persatu mahasiswa dipanggil dan rasa bahagia Ali semakin memuncak kala namanya dipanggil sebagai salah satu lulusan dengan hasil terbaik, dan itu membuat Ali semakin percaya diri untuk kembali mengungkapnkan perasaanya pada Viga.
Beberapa jam berlalu, acara wisuda usai dan semua mahasiswa berhamburan keluar dengan wajah berseri dan bangga mereka lalu merayakan keberhasilan mereka. Ada yang sibuk berfoto, ada yang lalu berkumpul dengan keluarga, saudara, dan sahabat.
Ali melangkah diantara kerumunan mahasiswa, matanya beralih kesana kemari mencari seseorang, sebuah bucket bunga mawa merah ia genggam ditangannya. Tak lama, langkah Ali terhenti ia tersenyum menemukan seseorang yang ia cari, Viga. Dadanya berdegub cepat sekali lagi ia memandang bunga ditangannya, walau Ali tau Viga bukan perempuan biasa yang suka diberi bunga, namun setidaknya ini adalah momen yang pas.
Ali menarik nafas meyakinkan diri untuk mendatangi Viga, namun tak lama langkahnya kembali terhenti, saat Ali melihat Vikra datang lebih dulu.
Viga tersenyum menyambut Vikra, keduanya terlihat mereka begitu akrab, Vikra lalu memberikan sebuah bucket bunga pada Viga, Ali terdiam tak bergeming keyakinannya Ali seolah runtuh, kakinya tak mau lagi melangkah, ia lalu memutuskan untuk pergi.
Ali terduduk ditaman dengan perasaan yang tak bisa ia jelaskan, harum mawar menyentuh indra penciumannya, ia memperhatikan bunga tangannya.
“Apa ini jawabannya Vig?” Gumam Ali, sejanak mengingat perkataan