Viga terdiam menatap langit yang sama disudut yang berbeda, ia menghela nafas melerai riuh hati dan fikirannya.
Hidup memperjalankannya sejauh ini, dan hari itu takdir baru akan mulai dalam hidupnya. Dan ya, setiap manusia memiliki rencana namun perencana terbaik adalah Dia, Sang pemilik Jiwa, meski seringkali takdirnya terselimuti mysteri.
Seekor burung terlihat terbang melintas dibirunya langit, Viga tersenyum memperhatikannya.
“Ya Rabb, aku menerima takdirmu. Maka, bukankanlah pintu-pintu hikmah itu sesegera mungkin agar aku semakin bahagia menerima ketetatapanMu,” Viga berdo’a didalam hati.
“Viga,” Seseorang memanggilnya.
“Ayoo, kamu juga harus fitting baju ya.” Ucapnya, Viga menatapnya sejenak, ia tersenyum lalu mengangguk dan menghampirinya.
-Viglilovestory-
Suara dering telepon membuat Ali terkesiap dari fokusnya, Ali membuka layar handphone dan mendapati nama Vikra disana.
“Gue ada didepan kantor lo, boleh gue berkunjung.” Sahutnya disebrang sana.
Tak lama kemudian Ali dan Vikra sudah duduk berhadapan di kantor Ali, mereka mengobrol panjang kesana kemari bertukar cerita setelah sekian lama tak bertemu.
“Oh iyah Li, gue kesini mau minta tolong sama lo, barangkali lo bersedia.” Ucap Vikra beberapa saat kemudian.
“Minta tolong apa? Selama gue bisa, insyaAllah gue pasti bantu.” Vikra tersenyum.
“Gue mau minta tolong lo buat jadi saksi nikahan gue nanti.” Ujar Vikra membuat Ali terkejut.
“Lo, mau nikah Vik?” TVikra mengangguk.
“Gue lupa bawa undanganya, jadi gue undang lo secara langsung aja, nikahan gue weekend ini dan karena lo sahabat gue, gue pengen lo jadi saksi disana.” Ucap Vikra.
“Lo, nikah sama siapa Vik?” Ali ragu-ragu bertanya, sungguh Ali sebenarnya tak siap untuk mengetahui jawabannya.
“Lo kenal baik orangnya, dia dulu temen sekelas lo. Harusnya sih gue nikahin dia dari dulu.” ucap Vikra tersenyum, Ali menelan ludahnya, fikirannya membawanya pada bayangan Viga, jantung berdebar, mungkinkah ini saatnya untuk benar-benar menerima takdir, Ali bergumam takut didalam hatinya.
“Gimana li, Lo bersedia? Kalaupun emang gak bisa seenggaknya gue harap lo datang,” Tanya Vikra lagi, Ali bingung harus menjawab apa, tak tau apakah ia akan siap menghadapi kenyataan, namun tak selang alam akhirnya Ali menyetujuinya.
“Oke, makasih ya li nanti gue share lokasinya. Kalau gitu keperluan gue disini udah selesai gue harus menyiapkan hal lainnya. Gue tunggu ya li.” ucap Vikra, lalu pergi setelah mereka berpamitan.
Ali terdiam membayangkan dirinya melihat Vikra dan Viga menikah, sungguh ternyata hatinya masih belum siap menerimanya. Namun jika memang benar ia tak memiliki pilihan lain tentu ia harus ikhlas, tapi sungguh membayangkannya saja sudah membuat Ali.
Langit cerah menyapa, namun tidak dengan hati Ali yang terasa begitu suram dan gelisah. Hari itu adalah hari pernikahan Vikra, Ali yang merasa begitu khawatir dan gugup, ia berusaha menyiapkan dirinya untuk menerima, namun ternyata tidak dengan hatinya.
Ali sebenarnya masih belum yakin siapa yang akan menjadi pemelai wanita Vikra, karena teramat takut Ali bahkan tak mampu melihat undangan yang Vikra kirimkan, Ali pun tak ingin lagi bertanya ia benar-benar pasrah jika ternyata itu Viga.
Ali telah sampai digedung pernikahan, situasi saat itu cukup ramai, Ali benar-benar tak fokus hingga ia tak menyadari papan nama yang ada diarea pernikahan, ia hanya berusaha menguatkan diri untuk menerima kenyataan.