Selina melangkah masuk ke kelas dengan wajah yang ditekuk, menunjukkan ekspresi "cemberut manja" yang sudah sangat dikenali teman-temannya.
"Kenapa lagi lo?" tanya Nara santai, sudah bisa menebak pelakunya.
"Si Evan nyebelin, ih!" adu Selina sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi dengan kesal.
Raka, yang duduk tak jauh dari sana, memberikan senyum penenang. "Udah, sini duduk dulu. Jangan marah-marah," ucapnya lembut.
"Evan-nya, Aka..." keluh Selina dengan nada merengek, mencari simpati dari Raka.
Evan yang baru saja masuk langsung menyambar, "Ih, ngadu! Ke semua orang aja sana ngadunya. Sekalian bilang sama Pak Rudi guru olahraga, biar lo dipuas-puasin lari!" ucap Evan ketus sambil membanting tasnya di atas meja.
"Gue nggak mau balik sama lo! Mau bareng Raka aja!" sahut Selina sambil melipat tangan di dada, memalingkan wajah.
"Terserah!" balas Evan singkat. Ia mencoba terlihat acuh, padahal hatinya memanas mendengar nama Raka disebut sebagai penggantinya.
Pelajaran Matematika dimulai. Suasana kelas menjadi hening, hanya suara gesekan bolpoin yang terdengar. Di antara mereka berempat, hanya Selina dan Raka yang otaknya mampu mencerna rumus-rumus rumit itu dengan mudah.
Evan yang mulai pusing menoleh ke arah Raka. "Ssst... Ka," bisiknya.
Raka melirik kecil. "Apa?"
"Liat gue, bagi jawaban," bisik Evan penuh harap.
"Jangan, Ka!" potong Selina tanpa menoleh ke belakang, seolah punya telinga di mana-mana.
Raka terkekeh geli, merasa menang karena dibela Selina. "Kata 'Ketua' nggak boleh, Van," ucap Raka meledek.
"Anjir lo!" umpat Evan kesal. Ia akhirnya mengisi lembar tugasnya dengan asal-asalan, membuat Selina dan Nara saling lirik sambil cengengesan diam-diam.
Saat jam istirahat, mereka berempat berkumpul di meja kantin yang biasa.
"Mau makan apa, Na?" tanya Raka perhatian.
"Mau yang pedes," jawab Selina cepat.
Evan mendengus pelan, matanya menatap Selina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Hmm, pantesan..."
"Apa sih, Van?" tanya Selina sewot.
"Mau haid kan lo? Makanya dibercandain dikit langsung sensi," ucap Evan asal ceplos.
"Au, ah!" Selina memutar bola matanya, merasa Evan terlalu sok tahu tentang dirinya.
Setelah selesai makan, Evan tiba-tiba berdiri. "Mau ke mana lo?" tanya Selina saat melihat sahabatnya itu hendak pergi.
Evan tidak menjawab dengan benar. Ia justru menunduk, mendekatkan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa senti. Selina sempat menahan napas. "Mau cari cewek cantik. Bosen gue liat muka lo mulu," bisiknya pedas sebelum berlalu pergi.
"Brengsek lo!" teriak Selina, wajahnya memerah antara kesal dan malu.
"Udah sih, kalian ribut melulu kayak kucing sama anjing," lerai Nara sambil menggelengkan kepala.
"Dia tuh yang mulai, Ra. Nyebelin banget!" keluh Selina.