Semburat jingga matahari sore menemani mereka di sebuah kafe rooftop. Suasana terasa lebih lega tanpa kehadiran Bayu, setidaknya bagi Evan.
"Si Bayu mana?" tanya Evan santai sambil menyuap makanannya, seolah baru menyadari ada satu orang yang hilang.
"Pulang. Katanya ibunya sakit," jawab Selina singkat sebelum meminum lemon tea-nya.
"Oh, gitu," gumam Evan datar. Ada kilat kepuasan yang tersembunyi di balik nada bicaranya.
Raka yang sejak tadi terdiam kemudian membuka suara. "Besok mau main nggak?"
"Ke mana?" Selina balik bertanya dengan mata berbinar.
Raka mendengus geli. "Gue nanya, malah nanya balik."
"Kebun teh yuk? Lagi mumet banget gue," usul Evan sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit yang mulai menggelap.
"Gue mau! Mau nyobain sepatu baru juga," seru Selina antusias.
"Gue juga lagi penat, butuh yang hijau-hijau," tambah Nara setuju.
"Ya sudah, gas!" putus Raka final, disambut sorakan bahagia dari Selina.
Setelah makan, ritual belanja belum usai. Selina merengek pada papanya melalui telepon hingga sang papa luluh dan mentransfer sejumlah uang. Selina pun kembali berburu baju, membuat Evan mulai kehilangan kesabaran.
"Huh, ribet banget urusan sama cewek," gerutu Evan sambil menunggu di depan toko.
Selina yang mendengar itu langsung berkacak pinggang. "Lo bisa sabar nggak sih, Van? Kalau nggak mau antar, pulang sana! Rese banget jadi orang!"
"Iya, kita bisa pulang naik ojol kok kalau lo keberatan," tambah Nara membela sahabatnya.
Seketika nyali Evan menciut. "Nggak ya! Nanti Pak Yuda sama Pak Rudi—papa kalian—bisa marah besar sama kita kalau kalian pulang sendiri."
"Ya sudah, lo diam! Jangan bawel!" tegas Selina, lalu kembali masuk ke dalam toko.
Evan hanya bisa menghela napas pasrah. Ia mengajak Raka menjauh sedikit dari toko untuk mencari pemandangan lain—cewek-cewek cantik yang lewat.
"Gue lihat lo deketin si Vani kemarin," goda Raka sambil menyenggol lengan Evan.
"Salah! Si Vani yang kejar-kejar gue terus," balas Evan membela diri, meski ujung bibirnya sedikit terangkat bangga.
Raka terkekeh geli. "Dih, iya kah?"
Namun, ekspresi Evan tiba-tiba berubah panik. "Eh, anjir! Gue baru ingat, si Vani juga ngajak ke kebun teh besok. Tapi gue malah sudah telanjur iyain Selina. Gimana ya?"
Raka tertawa melihat kebingungan sahabatnya itu. "Ya sudah, Selina biar bareng gue saja. Si Nara biar bawa motor sendiri."
"Mana mau dia? Paling juga Selina maunya sama Nara, terus lo yang sendirian. Gue bingung ngomongnya, Ka. Nanti Selina murka lagi," keluh Evan membayangkan amukan Selina.
"Hahaha, coba saja ngomong. Paling dia cuma ngomel-ngomel," goda Raka.