BAB 1 Hantu-Hantu Absurd Kampus
Shafa Ramadhani Sebastian, gadis berusia 19 tahun, mahasiswi semester 2 Fakultas Hukum Universitas ternama di kota. Kecantikannya yang blasteran dari sang mama menjadikan Shafa primadona kampus semenjak hari pertama masuk. Rambut panjangnya yang selalu diikat rapi dan gaya pakaian kasual membuatnya jadi idaman para mahasiswa di kampus. Selain itu, Shafa juga tergolong gadis jenius dengan nilainya selalu bagus dan membuat banyak mahasiswi iri padanya.
"Shafa," panggil dosen pengampu Hukum.
"Iya, Pa?"
"Ini hasil kamu. Ckckck... Kamu ini, kali-kali nilai B dong, biar teman-temanmu punya kesempatan dapat nilai tinggi," kelakarnya sambil menyerahkan berkas nilai.
"Ah, Bapak bisa aja deh," jawab Shafa sambil tersenyum.
Tepat saat itu, teman kampung Shafa datang menghampiri. Pemuda dengan tinggi badan 185 cm dan wajah tampan itu berdiri di depan Shafa.
"Hai Shafa, besok lomba debat antar kampus kan? Mau aku antar kamu ke tempat latihan? Aku juga bisa bawa cemilan lho, aku bawa brownies kukus, rasanya enak kayak kamu!" tanya Arga, kapten tim basket kampus yang dikenal baik hati dan tampan banget, sampai cewek-cewek sering berantem cuma buat dapetin nomornya.
"Terima kasih ya Arga, tapi aku sudah janjian sama teman-teman klub debat. Oh ya, browniesnya kamu kasih aja sama teman-teman basket ya, kan mereka lagi latihan berat buat turnamen minggu depan," jawab Shafa dengan senyum hangat yang bikin beberapa cewek di sekitarnya mengerutkan kening.
"Aduh kok Shafa bisa dekat sama Arga ya? Padahal susahnya minta ampun deketin dia," bisik Alin, teman satu fakultas Shafa.
"Maaf ya, Arga," ujar Shafa lalu pergi meninggalkannya menuju toilet. Saat hendak buang air kecil, ia terkejut dengan sosok berbadan panjang sampai kaki menyentuh lantai, rambut kusut kayak belum pernah keramas seumur hidup, yang lagi menggoyang-goyang badan kayak orang nyanyi lagu dangdut di pesta pernikahan. Itu adalah Hantu Penari Klasik yang selalu muncul setiap hari jam kuliah Hukum Perdata. Hantu centil yang selalu usil sama Shafa bernama Ratna, tapi dia lebih suka dipanggil "Mbak Ratu Tari". Kan nyebelin ya? Hehe....
"Shafaaa... Lihat deh gerakan tari gue! Keren kan?! Gue belajar dari tutorial YouTube loh!" teriak Mbak Ratu Tari dengan suara yang kayak orang lagi nangis tapi sebenarnya seneng banget, sampai beberapa peralatan di kamar mandi berjatuhan kayak ada gempa skala 2,5.
"Astagaaa... Eh Ratu Dombret, ngapain lo nunjukin tarian lo sama gue? Gue gak tertarik dan bodo amat! Sana lo!" usir Shafa.
"Ish, lo ini! Gue udah cape belajar malah gak dihargai. Kasih nilai dong!" pinta dia.
"Nol," jawab Shafa singkat lalu menutup pintu kamar mandi.
"Astaga, nol??? Bener-bener ya?"
"Oi...!" panggil Ratu Tari dari luar. Shafa pun membuka sedikit pintunya.
"Ngapain lagi?" tanyanya.
"Masa cuma nol? Gak mau kasih nilai 100 gitu?" tanya dia dengan wajah mengada-ada.
"Hmm... Ya sudah, bagus banget deh. Gue kasih nilai 101," jawab Shafa.