SAIDI

Mappamancu
Chapter #1

Garis Batas

Malam itu bulan purnama hanya tampak sebagai bayangan pucat di balik awan.

Sesekali cahayanya lolos dari celah langit, jatuh tipis di antara pucuk-pucuk pohon, lalu menghilang lagi ketika awan bergerak menutupnya. Gerimis turun tanpa suara yang jelas. Hanya titik-titik air yang memukul daun, atap hutan, dan bahu seorang lelaki yang berjalan sendirian di jalur sempit.

Saidi menundukkan kepala.

Karung di punggungnya terasa semakin berat. Bukan karena berasnya. Karena setiap butir di dalamnya seperti membawa pertanyaan yang tidak berani ia jawab.

Ia berhenti di balik sebatang pohon besar. Napasnya ditahan.

Hutan di hadapannya hitam.

Tidak benar-benar kosong. Hutan tidak pernah kosong. Ada suara air mengalir jauh di bawah lereng, gesekan daun yang disentuh angin, dengung serangga malam, dan sesekali ranting patah entah oleh binatang atau manusia.

Saidi menunggu. Satu detik.

Dua.

Lima.

Tidak ada apa-apa.

Ia menoleh ke belakang.

Gelap.

Jalur yang baru saja dilaluinya telah ditelan kabut dan malam.

Tangannya perlahan meraba tali karung di bahu. Masih ada.

Ia melanjutkan langkah.

Sepatu dan telapak kakinya berkali-kali tergelincir di tanah basah. Lumpur menempel sampai ke betis. Dahan rendah menggores lengan dan wajahnya. Ia tidak peduli.

Yang penting pulang. Malam telah terlalu larut.

Dan di rumah, empat anaknya menunggu. Setidaknya ia berharap begitu.

Di dalam karung itu ada beras jatah pasukan.

Secara lahiriah, beras itu seharusnya menuju tempat lain. Ada pembagian yang telah ditentukan, ada orang-orang yang menunggu, ada kebutuhan yang jauh lebih besar daripada satu rumah kecil di pinggir hutan.

Tetapi malam ini Saidi tidak sedang memikirkan pasukan.

Ia memikirkan periuk di dapur rumahnya.

Ia membayangkan Muhana membuka tutup periuk dan menemukan beras yang cukup untuk beberapa hari.

Ia membayangkan Sitti yang akan langsung tahu bahwa ayahnya membawa sesuatu. Ia membayangkan Rahman berlari tanpa alas kaki dari bawah rumah sambil memanggilnya dari kejauhan.

Dan Kartini...

Pikiran itu membuat langkahnya berhenti sesaat. Kartini beberapa hari terakhir lebih banyak diam. Demamnya naik turun.

Muhana mengatakan tidak apa-apa. Tetapi Saidi mengenal istrinya.

Kalau Muhana benar-benar tidak khawatir, ia tidak akan menyembunyikan kekhawatiran itu di balik wajah setenang itu.

Saidi mengangkat wajah ke langit. Bulan kembali muncul.

Cahayanya menimpa jalan di depan. Ia melihat jejak kaki. Bukan jejaknya.

Dua pasang. Mungkin lebih.

Saidi langsung merendahkan tubuh. Jantungnya berdegup keras.

Patroli.

Pikirannya hanya menyebut satu kata itu. Ia berjongkok di balik semak. Karung beras diturunkannya perlahan agar tidak menimbulkan suara.

Tangannya bergerak ke pinggang. Kosong. Senjata tidak bersamanya.

Bukan karena ia lupa. Ia sengaja meninggalkannya.

Pulang ke rumah dengan senjata akan membuat langkahnya lebih cepat dicurigai jika bertemu patroli. Ia ingin terlihat seperti lelaki kampung yang pulang membawa hasil kebun.

Tetapi malam seperti ini tidak pernah memberi banyak pilihan. Saidi menatap jejak itu lagi. Masih baru. Tanah di bagian cekungannya belum dipenuhi air. Seseorang baru saja melewatinya.

Ia mendengar sesuatu. Jauh. Sangat jauh. Suara seperti ranting patah. Saidi merapatkan tubuh ke tanah.

Kemudian suara lain. Pelan. Berirama. Langkah kaki. Ia menutup mulut dengan telapak tangan agar napasnya tidak terdengar. Langkah itu semakin dekat.

Satu.

Dua.

Tiga.

Saidi memejamkan mata. Dalam gelap, ia teringat wajah anak-anaknya.

Sitti.

Tayyeb.

Rahman.

Kartini.

Ia tidak takut mati. Setidaknya selama ini ia selalu mengatakan begitu kepada dirinya sendiri. Tetapi malam itu ia menemukan sesuatu yang berbeda. Yang membuatnya takut bukan kematian. Yang membuatnya takut adalah mati sebelum sempat melihat anak-anaknya lagi. Langkah kaki berhenti.

Saidi membuka mata.

Sunyi.

Tidak ada suara.

Ia menunggu lebih lama. Lalu terdengar peluit pendek dari kejauhan.

Satu kali.

Jawaban datang dari arah lain.

Satu kali juga.

Saidi tahu mereka tidak sendirian. Patroli itu mungkin tidak jauh.

Ia mengambil karungnya kembali. Kali ini ia tidak berjalan di jalur utama.

Ia menuruni lereng, menerobos semak, menahan napas setiap kali ranting menggores tubuhnya. Air hujan merembes dari rambut ke tengkuk. Celananya berat oleh lumpur.

Ia tidak boleh ditemukan. Bukan malam ini.

Bukan ketika beras ada di punggungnya. Bukan ketika rumahnya tinggal beberapa puluh menit lagi. Dan terutama bukan ketika anak-anaknya sedang menunggu.

Ia bergerak seperti bayangan. Sesekali ia berhenti untuk mendengarkan.

Tidak ada langkah. Tidak ada suara manusia. Hanya hujan.

Setelah beberapa lama, ia mengenali pohon besar yang tumbuh miring di pinggir jalur. Ia hampir sampai. Dari tempat itu rumahnya seharusnya sudah bisa terlihat.

Saidi berdiri. Ia membersihkan lumpur dari telapak tangannya. Kemudian melangkah perlahan ke atas.

Lihat selengkapnya