SAIDI

Mappamancu
Chapter #2

Bahasa Perang

Laras itu masih menempel di tengkuknya.

Dingin.

Keras.

Tidak bergerak sedikit pun.

Saidi menahan napas.

Tangannya tetap menggantung di sisi tubuh. Ia tidak mengangkatnya. Tidak pula mencoba meraih sesuatu di balik bajunya.

Di depan, pintu rumah terbuka setengah.

Cahaya lentera dari dalam menyentuh tanah basah, membentuk sepotong jalan kecil di antara gelap.

Di situlah Saidi melihat bayangannya sendiri.

Dan satu bayangan lain di belakangnya.

Diam. Tidak tergesa. Tidak gemetar.

Siapa pun yang memegang senjata itu tahu apa yang dilakukannya. Saidi mencoba mengingat suara napas di belakangnya. Terlalu muda?

Tidak.

Hujan membuat pendengaran menjadi sia-sia. Bisa jadi dua orang. Bisa jadi lebih.

Patroli TNI? Mungkin.

Pasukan sendiri? Lebih mungkin.

Tetapi ada kemungkinan lain yang paling berbahaya.

Pengkhianat.

Seseorang yang mengetahui bahwa Saidi akan pulang malam itu. Seseorang yang mengetahui rumah ini. Seseorang yang sengaja menunggu di belakang pintu.

Saidi memandang ke dalam rumah. Ia tidak melihat Muhana. Tidak melihat Sitti. Tidak melihat anak-anaknya. Hanya cahaya lentera yang bergetar.

v  

Sitti menatapnya dari balik celah dinding. Anak itu sudah mengenali ayahnya. Namun ia tidak berani memanggil. Muhana masih menutup mulutnya. Mereka sama-sama menunggu. Saidi menarik napas pendek.

Lalu terdengar suara dari belakangnya.

“Berbalik.”

Satu kata. Pendek. Dingin.

Saidi mengenali logat itu. Tetapi pikirannya menolak percaya.

Ia tetap diam.

“Berbalik.”

Kali ini laras senapan menekan lebih dalam ke tengkuknya. Saidi perlahan mengangkat kedua tangannya. Kemudian ia berbalik. Wajah pertama yang dilihatnya membuat waktu seperti berhenti.

Seorang anak laki-laki berdiri di hadapannya. Tubuhnya kurus. Rambutnya basah oleh hujan. Bajunya terlalu besar untuk tubuhnya. Kedua tangannya memegang senapan dengan posisi yang belum sepenuhnya mantap.

Tetapi matanya—mata itu tidak seperti mata anak lima belas tahun.

Saidi berkedip. Untuk sesaat ia hampir tertawa. Bukan karena lucu. Karena lega.

Ia hampir mengatakan sesuatu. Hampir menyebut namanya. Hampir membuka kedua tangannya dan menarik anak itu ke dalam pelukan.

Tetapi senapan itu masih terarah kepadanya. Dan anak itu tidak tersenyum. Saidi menatapnya lebih lama.

“Tayyeb?”

Anak itu tidak menjawab. Jarinya masih dekat dengan pelatuk.

Tatapannya bergerak dari wajah Saidi ke pakaian basahnya, lalu ke karung beras yang tergeletak beberapa langkah di belakang. Seperti seorang prajurit yang sedang memeriksa barang bukti. Bukan seorang anak yang sedang melihat ayahnya pulang.

Saidi merasakan sesuatu yang asing tumbuh di dadanya.

“Tayyeb,” ulangnya.

Anak itu mengangkat sedikit dagunya.

“Siapa kau?”

Saidi hampir tersenyum. Pertanyaan itu begitu aneh sehingga selama sepersekian detik ia mengira anaknya sedang bercanda.

Namun tidak. Tayyeb sungguh-sungguh. Saidi melihat matanya.

Tidak ada gurauan di sana. Hanya kewaspadaan. Dan ketakutan yang disembunyikan di balik keberanian.

“Turunkan senjatamu.”

Tayyeb tidak bergerak.

“Siapa kau?”

Saidi terdiam.

Hujan jatuh di antara mereka.

“Namaku Saidi.”

Tayyeb menggenggam senapan lebih erat.

“Nama bukan bukti.”

Kalimat itu menghantam Saidi lebih keras daripada laras senapan tadi. Ia mengenal banyak bahasa perang. Bahasa perintah. Bahasa sandi. Bahasa ancaman.

Bahasa orang-orang yang telah terlalu lama hidup dalam hutan. Tetapi ia tidak pernah menyangka akan mendengar bahasa itu keluar dari mulut anaknya sendiri.

Nama bukan bukti.

Saidi menatap Tayyeb. Lima belas tahun. Baru lima belas.

Dulu anak itu masih tidur dengan kepala di pangkuan Muhana ketika demam.

Dulu tangannya masih terlalu kecil untuk mengangkat ember dari sumur.

Lihat selengkapnya