Saidi pernah melihat banyak orang mati.
Sebagian mati karena peluru yang datang dari balik semak. Sebagian lagi karena luka yang tidak sempat dijahit, kelaparan yang terlalu lama ditahan, atau demam yang mengubah tubuh seorang lelaki kuat menjadi seonggok tulang dalam hitungan hari. Di hutan, kematian memiliki banyak wajah, tetapi hampir semuanya dapat dikenali. Ada suara tembakan sebelum tubuh rebah, ada darah yang mengalir dari luka, ada napas yang perlahan menghilang.
Karena itu Saidi selalu percaya bahwa musuh paling berbahaya adalah musuh yang dapat dilihat.
Malam itu ia baru menyadari betapa kelirunya keyakinan tersebut.
Ia duduk di samping Kartini dan menempelkan punggung tangannya pada dahi anak itu. Panas tubuhnya membuat Saidi segera menarik tangan, bukan karena takut terbakar, melainkan karena suhu itu terasa tidak masuk akal untuk tubuh sekecil Kartini. Anak itu menggigil di bawah selimut tipis meskipun keringat membasahi pelipis dan lehernya.
Muhana duduk di sisi lain.
Di hadapannya terdapat mangkuk kecil berisi air rebusan daun yang sudah dingin, kain yang telah diperas berkali-kali, dan sebuah cangkir bambu yang hanya terisi separuh. Bahan-bahan sederhana itu adalah seluruh kemampuan yang mereka miliki malam ini.
“Kapan terakhir dia makan?” tanya Saidi.
“Siang.”
“Banyak?”
Muhana menggeleng.
“Dua sendok. Setelah itu muntah.”
Saidi memandang istrinya. Ada sesuatu dalam cara Muhana menjawab yang membuatnya memahami bahwa cerita sebenarnya jauh lebih panjang daripada dua kalimat itu.
Sudah berapa lama Muhana berjaga?
Sudah berapa kali ia mengganti kain di dahi Kartini?
Sudah berapa kali ia membangunkan anak itu hanya untuk memastikan napasnya masih ada?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak perlu diucapkan.
Saidi melihatnya dari mata istrinya yang merah dan dari tangan yang terus bekerja meskipun tubuhnya sendiri tampak kehabisan tenaga.
Di dekat jendela, Sitti sedang memeras kain.
Ia mengambil air sedikit demi sedikit, lalu menempelkan kain itu ke dahi adiknya dengan hati-hati. Tangannya masih kecil, tetapi gerakannya begitu telaten seakan ia telah melakukan pekerjaan itu berkali-kali.
Mungkin memang sudah.
“Lebih dingin?” tanyanya kepada Kartini.
Kartini membuka mata.
“Sedikit.”
Sitti tersenyum.
“Nanti sembuh.”
Kartini tidak menjawab.
Sitti menatapnya beberapa detik, lalu kembali membasahi kain.
Saidi memperhatikan kedua anak perempuannya itu dalam diam. Ada sesuatu yang menusuk dadanya ketika menyadari bahwa selama dirinya berada di hutan, Sitti mungkin telah belajar menjadi kakak sekaligus penjaga bagi adiknya. Ia tidak pernah meminta anak itu melakukan semua itu. Namun perang tidak pernah meminta izin sebelum mengambil sesuatu dari sebuah keluarga.
Di sudut ruangan, Rahman duduk memeluk lutut.
Potongan kayu yang tadi dibawanya seperti senapan tergeletak begitu saja di lantai.
Saidi melirik benda itu.
Biasanya Rahman tidak akan pernah membiarkannya terpisah lebih dari satu langkah. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam bermain menjadi prajurit, mengejar Tayyeb dari halaman ke halaman, lalu bersembunyi di balik pohon sambil menirukan suara tembakan.
Malam ini kayu itu ditinggalkannya.
Rahman tidak lagi ingin menjadi prajurit.
Ia hanya ingin adiknya tidak mati.
Anak itu menatap Kartini, lalu bertanya dengan suara nyaris berbisik, “Kartini akan mati?”
Ruangan menjadi sunyi. Sitti berhenti memeras kain. Muhana menunduk. Saidi menatap Rahman.
Ada pertanyaan yang tidak pernah diajarkan seorang ayah untuk dijawab. Pertanyaan yang membuat segala pengetahuan tentang perang, strategi, senjata, dan keberanian menjadi tidak berguna.
“Tidak,” jawab Saidi akhirnya.
Ia mengatakannya dengan keyakinan yang tidak sepenuhnya ia miliki.
Rahman mengangguk, tetapi matanya tetap tertuju kepada Kartini.
Seolah-olah ia tahu bahwa orang dewasa kadang-kadang mengatakan sesuatu bukan karena mereka yakin, melainkan karena mereka tidak ingin seorang anak kehilangan harapan.
Tayyeb masih berdiri dekat pintu.
Senapannya sudah diturunkan, tetapi belum diletakkan.
“Ayah tidak boleh keluar.”
Saidi menoleh.
Tayyeb menatapnya dengan serius.
“Jalan ke Manipi dijaga.”