“Buka penutup kepalamu.”
Saidi tidak segera bergerak.
Tangannya masih memegang tali keranjang jagung. Di bawah kain yang menutupi kepalanya, keringat dingin mulai mengalir melewati pelipis, bercampur dengan sisa air hujan yang belum mengering.
Lelaki di hadapannya menunggu.
Tidak ada yang berteriak. Tidak ada senjata yang diarahkan. Justru ketenangan itulah yang membuat Saidi semakin waspada. Orang yang terbiasa mencari kesalahan orang lain tidak perlu mengangkat suara. Mereka hanya perlu menunggu.
Saidi perlahan mengangkat tangan. Jarinya menyentuh ujung kain. Di balik kain itu tidak ada senjata. Tidak ada surat. Tidak ada benda yang secara langsung dapat membuatnya menjadi seorang gerilyawan.
Tetapi wajahnya sendiri adalah masalah. Wajah yang mungkin pernah dilihat. Wajah seorang lelaki yang terlalu sering berjalan di antara hutan dan kampung, terlalu sering muncul di tempat yang tidak semestinya, terlalu sering menghilang ketika pasukan datang.
Ia menarik kain sedikit.
Pada saat yang sama, terdengar suara gaduh dari sisi lain pos.
“Buka itu!”
Seorang prajurit menunjuk sebuah kantong besar yang dibawa seorang lelaki tua.
“Isinya apa?”
“Jagung kering.”
“Buka!”
Lelaki tua itu tampak kebingungan.
“Sudah saya bilang jagung.”
“Buka!”
Kantong itu ditarik paksa. Jagung berhamburan ke tanah. Beberapa orang langsung bergerak mendekat.
Suasana berubah. Mata para petugas berpindah dari satu pedagang kepada yang lain. Lelaki yang sejak tadi mengawasi Saidi menoleh.
Hanya sebentar.
Namun bagi Saidi, satu detik itu seperti pintu yang tiba-tiba terbuka di tengah dinding. Ia tidak tahu siapa lelaki dengan kantong itu. Tidak tahu mengapa ia diperiksa.
Tidak tahu apakah kegaduhan itu kebetulan atau bukan. Ia hanya tahu bahwa kesempatan tidak datang dua kali. Saidi segera menurunkan kain kepalanya.
“Lewat.”
Perintah itu terdengar tanpa minat.
Saidi menunduk.
“Terima kasih.”
Ia melangkah. Jangan terlalu cepat. Jangan menoleh. Jangan membuat keberuntungan curiga bahwa ia sedang berutang. Ia terus berjalan melewati pos pemeriksaan. Baru setelah beberapa puluh langkah, ia berani menarik napas lebih dalam. Namun ketika ia menoleh sedikit, lelaki tadi masih berdiri di tempatnya.
Mata mereka hampir bertemu.
Saidi segera menghadap ke depan. Ia berjalan lebih jauh. Baru setelah suara pos pemeriksaan menghilang di belakangnya, ia berhenti di sebuah lorong sempit di antara rumah-rumah. Punggungnya bersandar pada dinding bambu.
Dadanya naik turun.
Tangannya meraba kain kecil milik Kartini yang masih terselip di balik bajunya.
Supaya Ayah pulang.
Saidi memejamkan mata. Ia telah lolos. Tetapi perasaan yang datang bukan lega. Justru sebaliknya. Ia merasa seperti baru saja meminjam umur dari seseorang. Dan suatu hari nanti, utang itu mungkin akan ditagih.
v
Di rumah, malam berjalan jauh lebih lambat. Sitti masih duduk di samping Kartini. Kain kompres di tangannya sudah berkali-kali dicelupkan ke dalam air. Setiap kali kain itu mulai hangat, ia membasahinya lagi. Kartini tidak banyak bicara. Sesekali matanya terbuka, tetapi hanya sebentar sebelum kembali terpejam.
Muhana duduk di dekatnya. Ia tidak lagi bertanya kapan Saidi pulang. Pertanyaan itu sudah terlalu berat untuk diucapkan. Rahman duduk di sudut ruangan. Senapan kayunya tergeletak di samping kaki.
“Kalau Ayah tidak pulang,” katanya tiba-tiba.
Sitti tidak menoleh.
“Ayah pulang.”