“Muhammad Said.”
Nama itu masih terasa melekat di tengkuk Saidi ketika ia meninggalkan pasar Manipi. Ia tidak berlari, sebab orang yang berlari setelah dipanggil biasanya memberi tahu dunia bahwa ia memiliki sesuatu untuk disembunyikan. Ia justru berusaha berjalan layaknya langkah seorang pedagang yang telah menyelesaikan urusannya, sementara tangan kanannya sesekali menyentuh botol obat di balik pakaian, memastikan benda kecil itu masih ada.
Lelaki dari pos pemeriksaan tadi tidak mengikutinya secara terang-terangan. Setidaknya, Saidi tidak melihatnya. Namun beberapa kali, ketika ia melewati kios dan menoleh melalui pantulan kaca jendela atau permukaan air di selokan, ia merasa ada sepasang mata yang tetap menjaga jarak di belakangnya.
Mungkin lelaki itu memang sedang mengawasi. Atau mungkin Saidi hanya membawa pulang ketakutannya sendiri.
Perbedaan antara keduanya sulit diketahui ketika seseorang telah terlalu lama hidup dalam perang.
***
Di sebuah lorong sempit di belakang deretan kios, Saidi berhenti untuk membetulkan tali keranjang jagungnya. Ia sengaja menunduk cukup lama, memperhatikan ujung lorong melalui sela lengannya. Seorang perempuan membawa bakul sayuran melintas. Dua lelaki mengangkat peti kayu. Seorang anak berlari mengejar ayam yang lolos dari kurungan.
Tidak ada yang tampak mencurigakan.
Saidi kembali berjalan.
Ia harus pulang sebelum obat itu kehilangan kesempatan untuk menolong Kartini. Ia tidak tahu apakah anaknya masih sadar, apakah demamnya sudah turun, atau apakah Muhana masih sanggup menenangkan anak-anak mereka. Ketidakpastian itu membuat setiap langkah terasa terlalu lambat.
Ia baru melewati sebuah gudang ketika seseorang menyebut namanya.
Bukan nama lengkap yang tadi dipanggil di pasar.
Hanya satu kata.
“Saidi.”
Ia berhenti, tetapi tidak langsung menoleh.
“Kalau kau terus berjalan seperti itu,” suara tersebut berlanjut, “orang akan mengira kau sedang menunggu seseorang membunuhmu dari belakang.”
Saidi mengenali suara itu bukan karena akrab, melainkan karena ada sesuatu dalam cara lelaki tersebut berbicara yang pernah ia dengar melalui jalur-jalur perjalanan yang berbeda.
Ia berbalik.
Seorang lelaki kurus berdiri di bawah bayangan atap. Usianya sulit dipastikan, mungkin akhir dua puluhan atau awal tiga puluhan. Bajunya sederhana, celananya penuh percikan lumpur, dan sebuah tas kain lusuh tersampir di bahu. Tidak ada senapan yang tampak. Tidak ada tanda yang dengan mudah mengungkapkan dari pihak mana ia berasal.
Wajahnya biasa saja.
Justru itu yang membuat Saidi memperhatikannya.
Lelaki seperti ini dapat melewati pasar tanpa diingat siapa pun. Ia dapat duduk di antara para pedagang, menumpang di rumah orang yang tidak dikenalnya, lalu pergi sebelum pemilik rumah menyadari bahwa ia pernah berada di sana.
“Siapa kau?” tanya Saidi.
Lelaki itu tidak tersinggung.
“Saenong.”
Nama itu tidak segera membuka ingatan Saidi. Ia pernah mendengar nama tersebut dalam percakapan yang terputus-putus, di antara laporan tentang orang yang datang dari utara dan kabar yang tidak pernah sampai dengan utuh kepada penerimanya.
Namun ia belum pernah yakin bahwa nama itu benar-benar milik seseorang.
“Bagaimana kau tahu namaku?”
Saenong menatapnya beberapa saat.
“Namamu sudah sampai kepadaku sebelum kau sampai di Manipi.”
“Dari siapa?”
“Dari orang yang menerima namamu dari orang lain.”
Jawaban itu membuat Saidi terdiam.
Saenong tidak tersenyum. Ia juga tidak berusaha membuat dirinya terdengar penting. Ia mengatakannya seperti seorang lelaki yang sedang menjelaskan cara air mengalir dari hulu ke hilir.
“Begitulah jalannya,” katanya. “Kadang-kadang orang yang membawa pesan tidak pernah bertemu dengan orang yang menulisnya. Orang yang menerima pesan belum tentu tahu siapa yang pertama kali mengucapkannya.”
Saidi mengamati wajahnya.
“Jadi kau kurir?”
“Kalau kau ingin menyebutnya begitu.”
“Dari mana?”
Saenong melirik ke ujung lorong sebelum menjawab.
“Jalur Luwu.”
Saidi tidak bertanya lagi. Ia tahu nama tempat dapat menjadi pintu bagi pertanyaan yang terlalu berbahaya. Di masa seperti ini, sebuah jawaban sering kali lebih aman jika dibiarkan tidak lengkap.
Saenong merogoh tas kainnya dan mengeluarkan selembar kertas terlipat. Ukurannya tidak lebih besar daripada telapak tangan. Lipatannya telah mengendur, dan salah satu sudutnya tampak sedikit lembap, seolah-olah kertas itu telah melewati banyak malam dan beberapa kali berpindah tempat sebelum tiba di Manipi.
Ia tidak langsung menyerahkannya.
“Ini untuk komandan Sektor Selatan.”
Saidi memandang kertas itu.
“Kenapa diberikan kepadaku?”
“Karena namamu tercantum dalam jalur penerima.”
“Siapa yang mencantumkannya?”
Saenong menggeleng.
“Aku tidak membawa jawaban untuk semua pertanyaan.”
“Lalu apa yang kau bawa?”