SAIDI

Mappamancu
Chapter #6

Pengepungan

Tayyeb tidak mengerti isi surat itu, tetapi ia yakin surat tersebut bukan sesuatu yang biasa.

Ia duduk di belakang rumah, terlindung oleh dinding bambu dan bayangan pohon pisang, sambil membuka lipatan kertas yang ditemukan di dekat jalan. Cahaya sore hampir habis, sehingga ia harus mendekatkan kertas itu ke celah cahaya yang tersisa di antara pepohonan. Beberapa angka ditulis dengan susunan yang tidak lazim, diselingi tanda-tanda kecil dan nama tempat yang pernah didengarnya dalam percakapan orang-orang bersenjata.

Ia mencoba membacanya dari awal, kemudian mengulanginya dari belakang, berharap susunan yang tampak kacau itu akan berubah menjadi sesuatu yang masuk akal. Namun semakin lama ia memandangi kertas tersebut, semakin kuat keyakinannya bahwa surat itu sengaja dibuat agar tidak mudah dipahami orang lain.

Mungkin peta.

Mungkin petunjuk menuju tempat penyimpanan senjata atau emas harta karun. Atau mungkin sesuatu yang jauh lebih penting, sesuatu yang hanya dipercayakan kepada orang-orang yang telah membuktikan kesetiaan mereka.

Tayyeb pernah mendengar para lelaki berbicara tentang barang-barang yang disembunyikan di hutan, tentang persediaan yang tidak boleh diketahui musuh, dan tentang pesan yang dibawa melintasi gunung tanpa seorang pun mengetahui tujuan akhirnya. Ia tidak pernah terlibat dalam urusan semacam itu, tetapi ia selalu berada cukup dekat untuk mendengar potongan percakapan yang membuat pikirannya bekerja sendiri.

Selama ini, setiap kali ia mencoba bertanya kepada Saidi tentang kehidupan di hutan, ayahnya selalu memberikan jawaban yang sama: belum waktunya.

Tayyeb membenci dua kata itu.

Belum waktunya.

Seolah-olah usia lima belas tahun membuatnya tidak cukup besar untuk memahami sesuatu, tetapi cukup besar untuk melihat ibunya menghabiskan malam dengan persediaan makanan yang semakin menipis, cukup besar untuk mendengar kabar kematian orang-orang yang dikenalnya, dan cukup besar untuk menggenggam senapan ketika mengira seorang penyusup memasuki rumahnya sendiri.

Ia telah melihat ayahnya pulang membawa beras, lalu kembali pergi ketika Kartini membutuhkan obat. Ia melihat Saidi menghadapi bahaya yang tidak pernah diceritakan dengan lengkap, sementara dirinya hanya diminta tinggal di rumah dan memastikan tidak ada orang asing yang mendekat.

Tayyeb ingin dipercaya.

Bukan sebagai anak yang harus disuruh tidur ketika orang dewasa berbicara, melainkan sebagai seseorang yang mampu menjaga sesuatu yang penting.

Ia kembali memandangi surat itu.

Jika kertas ini memang berisi petunjuk rahasia, mungkin inilah kesempatan yang selama ini ia tunggu. Ia dapat membuktikan kepada Saidi bahwa dirinya bukan lagi anak kecil yang hanya bisa memegang senapan kayu, bukan pula beban yang harus disembunyikan setiap kali keadaan menjadi berbahaya.

Ia akan memecahkan isi surat itu.

Ia akan mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain.

Dan ketika ayahnya bertanya dari mana ia mendapatkan keberanian untuk melakukannya, Tayyeb akan menjawab bahwa ia belajar dari lelaki yang sama yang selama ini memintanya menjauh dari perang.

Ia melipat surat itu dengan hati-hati.

Tanpa menyadari bahwa keinginannya untuk menjadi seperti Saidi telah membawanya selangkah lebih dekat kepada bahaya yang selama ini berusaha dijauhkan ayahnya.

“Sedang apa?”

Tayyeb tersentak.

Rahman berdiri di ujung dinding, memegang potongan kayu yang sejak tadi tidak lagi ia gunakan untuk bermain. Anak itu memandang tangan kakaknya, lalu mencoba mengintip kertas yang sedang dilipatnya.

“Apa itu?”

“Bukan urusanmu.”

“Surat?”

Tayyeb segera memasukkan kertas itu ke balik bajunya.

Rahman mengerutkan kening. “Kenapa disembunyikan?”

“Karena kau tidak boleh melihatnya.”

“Aku cuma bertanya.”

“Kalau kau menceritakan ini kepada siapa pun, kau akan menyesal.”

Ancaman itu keluar lebih keras daripada yang dimaksudkan Tayyeb. Rahman mundur selangkah, dan wajahnya yang masih menyimpan sisa kepolosan perlahan berubah. Ia tidak terbiasa melihat kakaknya berbicara seperti itu kepadanya.

Tayyeb menyadari ketakutan tersebut, tetapi ia tidak meminta maaf. Ia justru merasa harus mempertahankan wibawanya. Bukankah orang-orang bersenjata selalu berbicara tegas ketika memberikan perintah? Bukankah ayahnya sendiri terkadang menatap seseorang tanpa perlu menjelaskan apa yang sedang dipikirkannya?

Tayyeb belum memahami bahwa keberanian dan kekejaman dapat terlihat hampir sama ketika seseorang hanya belajar dari kejauhan.

“Pergi,” katanya.

Rahman berbalik dan berlari menuju rumah.

Tayyeb menunggu sampai langkah adiknya menghilang, lalu menyentuh surat di balik bajunya. Ia merasa sedikit lebih tenang karena rahasianya aman.

Namun ia tidak tahu bahwa Rahman, yang terlalu takut untuk melawan ancamannya, akan mencari satu-satunya orang yang selalu membuatnya merasa aman.

Sitti.

***

Sitti sedang mengganti kain kompres Kartini ketika Rahman menghampirinya. Adiknya itu tidak langsung berbicara, hanya berdiri di dekat pintu sambil menggenggam potongan kayu dengan kedua tangan.

“Ada apa?” tanya Sitti.

Rahman menoleh ke arah halaman.

“Kak Tayyeb punya rahasia.”

Sitti berhenti memeras kain.

“Apa maksudmu?”

“Aku melihat dia menyembunyikan sesuatu.”

“Barang apa?”

“Surat.”

Sitti menatap adiknya lebih lama.

“Surat dari siapa?”

“Aku tidak tahu.”

“Sudah kau lihat isinya?”

Rahman menggeleng. “Kak Tayyeb marah. Dia bilang aku akan menyesal kalau menceritakannya.”

Sitti meletakkan kain kompres di dahi Kartini, lalu duduk di samping Rahman. Ia ingin bertanya lebih banyak, tetapi wajah adiknya menunjukkan bahwa anak itu sudah mengatakan semua yang diketahuinya.

Ia mengusap bahu Rahman.

“Kau tidak salah karena bercerita kepadaku.”

“Jangan bilang Kak Tayyeb.”

Sitti tidak segera menjawab.

Ia teringat bagaimana Tayyeb menodongkan senapan kepada Saidi beberapa waktu lalu, bagaimana kakaknya menolak mempercayai ayah mereka sendiri sampai ia melihat bukti yang dianggapnya cukup. Sejak malam itu, ada sesuatu yang berubah dalam diri Tayyeb. Ia lebih sering pergi tanpa menjelaskan tujuan, lebih mudah marah, dan mulai memperlakukan pertanyaan sederhana seperti ancaman yang harus dibungkam.

Sitti tidak tahu apa yang disembunyikan kakaknya.

Namun ia tahu satu hal: jika Tayyeb sudah merasa harus merahasiakan sesuatu dari keluarganya sendiri, berarti sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

“Kau tetap di sini,” katanya kepada Rahman. “Jangan pergi ke kebun sendirian.”

“Kau mau ke mana?”

“Mencari Kak Tayyeb.”

Sitti bangkit, tetapi sebelum meninggalkan ruangan, ia menoleh kepada Kartini. Adiknya masih terbaring lemah, napasnya terdengar berat meskipun demamnya tidak lagi setinggi sebelumnya. Botol obat yang dibawa Saidi terletak di dekat Muhana, dan Sitti berharap isinya akan cukup untuk membuat Kartini kembali tertawa.

Ia tidak ingin menambah kecemasan ibunya.

Tidak ingin membuat Saidi kembali pergi.

Tetapi jika surat itu benar-benar berbahaya, membiarkan Tayyeb menyimpannya sendirian mungkin akan membawa sesuatu yang lebih buruk daripada pertengkaran.

Sitti keluar menuju halaman.

Tayyeb sudah tidak ada di sana.

Yang tertinggal hanya bekas langkah di tanah basah, mengarah ke jalan kecil di sisi kebun.

Sitti mengikuti jejak itu beberapa langkah sebelum berhenti.

Dari kejauhan terdengar suara lelaki berbicara.

Ia tidak dapat menangkap seluruh percakapan, tetapi salah satu suara terdengar asing baginya. Suara lain adalah suara Tayyeb.

Sitti bersembunyi di balik batang pohon.

Ia ingin mendekat, tetapi sebelum sempat melangkah, suara itu terputus. Beberapa saat kemudian, seseorang bergerak di antara pepohonan.

Lihat selengkapnya