SAIDI

Mappamancu
Chapter #7

Penyergapan di Kaloro Larang

Bahar Mattaliu tidak segera mengulangi pertanyaannya.

Ia berdiri di tengah rumah Saidi, memegang selembar kertas yang telah dilipat beberapa kali. Di sekelilingnya, para lelaki bersenjata menyebar dengan kewaspadaan yang membuat rumah kecil itu terasa seperti ruang pemeriksaan. Cahaya lampu minyak bergetar pada dinding bambu, sementara di sudut ruangan, Kartini terbaring dengan napas yang belum sepenuhnya teratur.

Saidi memandang kertas di tangan Bahar.

Ia perlahan mengenali lipatannya. Lipatan yang memang mirip dengan lipatan yang diterimanya dari Saenong. Namun kertas yang berbeda, ia mengenalinya bukan karena pernah membaca isinya, melainkan karena ia mengenali cara selembar kertas itu disimpan: dilipat kecil, dibungkus lapisan tipis, lalu ditempatkan di tempat yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu. Sebuah tempat rahasia yang telah disepakati sejak lama, ketika rumah-rumah di pedalaman bukan sekadar tempat tinggal, melainkan juga bagian dari jaringan perjuangan.

Bambu berlubang yang menjadi salah satu tiang rumahnya.

Selama berbulan-bulan, Saidi selalu memeriksa tempat itu setiap kali pulang. Kadang-kadang tidak ada apa-apa. Pada kesempatan lain, ia menemukan pesan singkat, nama tempat, atau petunjuk yang baru dapat dipahami setelah ia menerima kabar dari orang lain. Ia tak pernah menganggap kebiasaan itu sebagai sesuatu yang boleh dilalaikan.

Sampai Kartini jatuh sakit.

Sejak itulah, seluruh dunia Saidi menyempit menjadi demam, napas yang tersengal, obat yang tak cukup, dan wajah Muhana yang berusaha tetap tegar di hadapan anak-anak mereka.

Ada begitu banyak hal yang harus ia selamatkan hingga ia tidak menyadari sesuatu yang telah lama ia jaga mulai menunggu tanpa dirinya.

“Bacalah,” kata Bahar.

Saidi menerima kertas itu.

Tulisan di dalamnya singkat. Tidak ada nama lengkap, tidak ada penjelasan panjang. Hanya tanda-tanda yang telah dikenalnya, sebuah waktu, beberapa nama tempat, dan perintah yang ditulis dengan bahasa yang sengaja dibuat ringkas.

Pasukan patroli TNI akan bergerak melalui jalur Malino–Tombolo Pao diperkirakan akan berhenti beristirahat di Air Terjun Kaloro Larang. Informasi dari mata-mata menyebutkan bahwa tempat itu kerap digunakan sebagai persinggahan sebelum pasukan melanjutkan perjalanan. Lembahnya tertutup, jalurnya sempit, dan jalan keluar dari sana terbatas.

Menurut perhitungan mereka, itulah tempat yang paling menguntungkan untuk sebuah penyergapan.

Di bagian akhir terdapat satu kalimat yang membuat Saidi berhenti membaca.

“Saidi diminta mendampingi pasukan sebagai penunjuk jalan.”

Bahar memperhatikannya tanpa berkedip.

“Surat itu sudah menunggumu beberapa hari,” katanya. “Kau tidak mengambilnya.”

Saidi melipat kertas itu kembali.

“Ada anak saya yang sakit.”

“Aku tahu.”

Jawaban Bahar terdengar datar. Namun, justru karena tidak disertai celaan, Saidi merasakan sesuatu yang lebih berat daripada kemarahan.

Bahar tahu Kartini sakit. Ia tahu Saidi pergi ke Manipi mencari obat. Ia bahkan mungkin tahu berapa malam lelaki itu tidak tidur. Akan tetapi, pengetahuan tersebut tidak mengubah satu pun kewajiban yang kini diletakkan di hadapannya.

“Komandan membutuhkan orang yang mengenal jalur itu,” lanjut Bahar. “Kau pernah melewatinya dalam hujan, dalam kabut, bahkan ketika sungai meluap. Kau tahu jalan yang terlihat dan jalan yang hanya diketahui penduduk setempat. Orang lain bisa membaca peta. Belum tentu mereka bisa membawa satu regu melewati pegunungan tanpa kehilangan arah.”

Saidi mengangkat pandangan.

“Kalau begitu, mengapa tidak mengirim orang lain?”

“Karena orang lain belum tentu mengenal tempat itu sebaik kau.”

Bahar berhenti sejenak.

“Dan karena informasi yang kita terima mengatakan patroli TNI akan berhenti di Kaloro Larang. Kesempatan seperti ini tidak datang setiap hari.”

Saidi memandang anak-anaknya.

Tayyeb berdiri dekat dinding, diam dengan wajah yang sulit dibaca. Sitti duduk di sisi Kartini. Rahman tidak lagi memainkan senapan kayunya. Muhana menatap suaminya dengan tatapan yang tak memerlukan pertanyaan untuk menjelaskan apa yang sedang ia takutkan.

Saidi memahami mengapa Bahar datang sendiri.

Mereka tidak datang untuk menangkapnya. Mereka datang karena menganggapnya terlalu penting untuk dibiarkan tinggal di rumah.

“Berapa lama?” tanya Saidi.

“Operasi akan dipersiapkan secepatnya.”

“Itu bukan jawaban.”

Bahar menatapnya lebih lama.

“Beberapa hari. Setelah semuanya siap, kau ikut bersama regu utama.”

Saidi mengembalikan kertas tersebut.

“Kaloro Larang bukan tempat yang bisa diperlakukan seperti lubang di tanah. Kabut dapat menutup lembah dalam waktu singkat. Air terjun membuat orang sulit mendengar suara dari kejauhan. Kalau keadaan berubah, jalan yang terlihat aman bisa menjadi perangkap bagi siapa saja.”

“Kau akan menjelaskan semua itu kepada komandan.”

“Dan kalau informasi mata-mata itu salah?”

Bahar tidak segera menjawab.

Di luar, seseorang berjalan melewati beranda. Derap sepatunya terdengar di antara bunyi serangga malam.

“Kalau informasi itu salah,” kata Bahar akhirnya, “kita akan menghadapi keadaan yang berbeda.”

Saidi hampir tersenyum, tetapi tak ada kegembiraan dalam dirinya.

Perang selalu menyediakan kalimat yang masuk akal untuk menjelaskan sesuatu yang belum diketahui siapa pun.

Bahar kemudian melangkah mendekati tiang bambu tempat surat itu disimpan. Ia mengetuknya sekali dengan buku jarinya.

“Tempat ini masih aman,” katanya. “Jangan sampai kelalaian seperti ini terulang.”

Saidi tidak menjawab. Ia hanya memandang bambu itu, lalu menatap Kartini yang kembali bergerak gelisah dalam tidurnya.

Untuk pertama kalinya sejak Bahar datang, Saidi merasa bersalah bukan karena telah melupakan tugasnya, melainkan karena memahami alasan ia melupakannya.

Di rumah itu, seorang anak sedang berjuang mempertahankan hidupnya.

Di luar rumah, sebuah operasi sedang menunggu dirinya untuk membantu menentukan siapa yang mungkin tidak akan pulang.

***

Keputusan memindahkan keluarga dibuat sebelum fajar.

Saidi tidak ingin Muhana dan anak-anaknya berada di rumah ketika persiapan operasi mencapai puncaknya. Bukan hanya karena kedatangan pasukan dapat mengundang perhatian, melainkan karena rumah itu telah terlalu sering menjadi tempat persinggahan orang-orang yang membawa rahasia. Bila seseorang membuntuti mereka, atau bila pemeriksaan mendadak dilakukan, keluarga Saidi akan berada di tengah sesuatu yang tak pernah mereka pilih.

Maroanging menjadi satu-satunya tempat yang masuk akal.

Di sana terdapat sebuah ladang tersembunyi milik kenalan lama. Letaknya cukup jauh dari jalan yang biasa dilalui orang, terlindung oleh pepohonan dan lekukan tanah. Ada sebuah pondok sederhana yang dapat digunakan sementara, meskipun tidak cukup nyaman bagi keluarga dengan empat anak, terlebih bagi Kartini yang masih lemah.

Saidi tidak menjelaskan semua alasan itu kepada anak-anaknya.

Ia hanya berkata bahwa mereka harus pergi sebelum hari gelap.

Muhana menerima keputusan tersebut dengan wajah yang tenang. Ia mengemas pakaian seperlunya, sisa makanan, kain untuk Kartini, dan obat yang baru dibawa pulang Saidi. Setiap benda yang dimasukkannya ke dalam bungkusan seolah harus melewati pertimbangan panjang: mana yang sungguh diperlukan, mana yang bisa ditinggalkan, dan mana yang terlalu berat untuk dibawa oleh seorang ibu yang harus menjaga empat anak di tengah perjalanan.

Sitti membantu mengikat bungkusan.

Rahman membawa senapan kayunya, tetapi kali ini ia tidak mengangkatnya seperti seorang prajurit. Ia menggenggam benda itu dekat tubuh, seakan takut seseorang akan memintanya meninggalkan satu-satunya hal yang membuatnya merasa berguna.

Lihat selengkapnya