Jalan menuju Maroanging menyempit ketika rombongan Saidi memasuki lereng yang diselimuti kabut.
Tanah basah melekat pada telapak sepatu. Ranting-ranting yang tumbuh di sepanjang jalan menggores lengan, sementara udara pegunungan terasa semakin dingin meskipun matahari telah naik di balik awan. Di depan, beberapa orang bersenjata berjalan dengan langkah cepat, sesekali berhenti untuk menerima petunjuk dari penunjuk jalan setempat. Di belakang, barisan lain berusaha menjaga jarak agar tidak kehilangan arah.
Saidi berjalan di antara mereka dengan dada yang terasa semakin sesak.
Ia mengenal jalan itu. Setiap tikungannya menyimpan ingatan. Batu besar yang menonjol di sisi jalan pernah menjadi tempatnya berteduh dari hujan. Pohon beringin yang batangnya bercabang dua menandai jalur menuju ladang-ladang kecil. Dari sebuah tanjakan, jika kabut sedang bersahabat, orang bisa melihat atap rumah penduduk yang tersebar di kejauhan.
Namun, pagi itu semua tempat yang dikenalnya tampak seperti bagian dari peta yang sengaja dihapus.
Pikirannya terus kembali kepada Muhana.
Apakah istrinya sudah mendengar kabar tentang perubahan jalur patroli? Apakah ia masih berada di pondok Maroanging? Apakah Kartini sanggup menempuh jalan yang lebih jauh jika mereka terpaksa berpindah lagi?
Saidi berusaha mengingat keadaan anak bungsunya ketika terakhir kali melihatnya. Wajah kecil yang pucat. Bibir yang kering. Jari-jari yang sesekali menggenggam kain ibunya ketika demam membuatnya gelisah. Ia masih dapat merasakan berat tubuh Kartini ketika digendongnya beberapa hari sebelumnya, seolah tubuh itu begitu ringan hingga dunia terasa tidak adil karena membebankan begitu banyak penderitaan kepada seorang anak sekecil itu.
Ia telah berjanji akan pulang.
Bukan sekadar kembali ke rumah, melainkan pulang dengan membawa sesuatu yang dapat membuat anaknya bertahan hidup.
Obat itu masih ada. Ia telah memberikan petunjuk penggunaannya kepada Muhana. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, Saidi memiliki alasan untuk percaya bahwa Kartini mungkin akan membaik.
Tetapi perang selalu menemukan cara untuk mengubah harapan menjadi sesuatu yang menakutkan.
“Saidi!”
Ia menoleh.
Bahar Mattaliu menunjuk ke arah sebuah jalan setapak yang menurun di antara pepohonan.
“Kita berpencar sampai batas ladang. Jangan ada yang bergerak sendiri.”
Saidi mengangguk, tetapi matanya tertuju pada sebuah rumah kecil di kejauhan. Asap tipis keluar dari dapurnya. Di dekat pagar, seorang lelaki tua sedang mengikat seikat kayu bakar.
Rumah itu tidak termasuk tempat persembunyian yang telah ditentukan. Namun, pemiliknya mengenal banyak keluarga di sekitar Maroanging. Jika Muhana sudah berpindah, lelaki itu mungkin mengetahui ke mana mereka pergi.
Saidi mendekatinya ketika Bahar sedang berbicara dengan komandan regu.
“Daeng,” sapanya, berusaha mengatur napas. “Apakah ada rombongan perempuan dan anak-anak yang melewati sini?”
Lelaki tua itu mengangkat kepala.
“Banyak orang melewati jalan ini.”
“Seorang perempuan membawa anak yang sakit. Bersamanya ada tiga anak lain.”
Orang tua itu berhenti mengikat kayu.
“Yang kecil digendong?”
“Ya.”
Ia mengamati wajah Saidi beberapa saat, kemudian meletakkan kayu bakarnya.
“Mereka sudah pergi.”
Kalimat itu membuat Saidi kehilangan kemampuan untuk menjawab.
“Pergi ke mana?”
“Ke lereng yang lebih tinggi. Kanreapia.”
Untuk sesaat, dunia di sekitar Saidi seolah berhenti bergerak.
Kanreapia.
Ia mengenal tempat itu. Jalurnya menanjak, udaranya lebih dingin, dan permukimannya tersebar di antara kebun-kebun. Tempat tersebut cukup jauh dari jalur utama yang sedang digunakan pasukan. Jika Muhana berhasil sampai di sana, keluarganya akan terhindar dari kemungkinan bertemu dengan rombongan bersenjata yang kini bergerak menuju Maroanging.
Saidi mengembuskan napas yang sejak tadi terasa tertahan di dadanya.
“Mereka sudah berangkat?”
“Tidak lama sebelum kalian datang.”
“Anak yang sakit itu sanggup berjalan?”
“Tidak. Ibu dan Kakaknya bergantian menggendongnya.”
Saidi memejamkan mata sebentar.
Ia membayangkan Muhana berjalan mendaki dengan Kartini di punggung atau dalam pelukannya, sementara Sitti membantu membawa barang-barang. Rahman mungkin tertinggal beberapa langkah, kelelahan karena jalan menanjak. Tayyeb akan berjalan paling belakang, menoleh berkali-kali untuk memastikan tidak ada seorang pun tertinggal.
Ia mengenal anak-anaknya. Ia tahu bagaimana mereka berjalan ketika takut, bagaimana mereka diam ketika menyadari bahwa orang dewasa sedang menyembunyikan sesuatu.
Rasa lega perlahan memenuhi dadanya.
Mereka tidak berada di ladang itu lagi.
Setidaknya, mereka tidak berada di jalur yang sedang didekati pasukannya.
“Terima kasih, Daeng.”
Saidi berbalik hendak kembali kepada Bahar. Sejak perubahan rute diumumkan, baru kali ini ia merasa masih ada kesempatan untuk mengendalikan keadaan. Ia akan menyelesaikan tugasnya, mencari jalan untuk menyusul keluarga, lalu membawa mereka lebih jauh dari daerah operasi.
Ia bahkan mulai menyusun kalimat yang akan diucapkannya kepada Muhana.
Bahwa ia tidak sengaja membawa bahaya mendekati mereka.
Bahwa ia akan mencari tempat yang lebih aman.
Bahwa setelah semua ini selesai, ia akan berusaha mengurangi perjalanan-perjalanan yang membuatnya meninggalkan rumah.
Janji-janji itu terasa sederhana ketika diucapkan di dalam pikiran.
Saidi belum sempat menyampaikan satu pun di antaranya.
“Saidi.”
Suara lelaki tua itu kembali memanggilnya.
Saidi menoleh.
“Ada yang harus kau ketahui.”
Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat rasa lega itu mendadak berhenti.
“Apa?”
Lelaki tua itu memandang ke arah jalan yang menanjak, kemudian mengusap kedua telapak tangannya pada kain sarung.
“Perempuan itu mengubah arah.”
Saidi tidak bergerak.
“Mengubah arah?”
“Awalnya mereka hendak ke Kanreapia. Tetapi sebelum sampai di percabangan, ada orang yang memberi tahu bahwa beberapa tentara mungkin bergerak menuju daerah itu. Mereka takut bertemu patroli di jalan.”
Saidi merasakan sesuatu yang dingin merambat dari tengkuk ke punggungnya.
“Lalu mereka ke mana?”
Orang tua itu menyebut sebuah nama.
“Bola Romang.”
Untuk beberapa detik, Saidi tidak memahami arti kata-kata yang baru didengarnya. Nama itu seperti suara dari tempat yang cukup jauh, padahal ia mengenalnya lebih baik daripada yang ia inginkan.
Bola Romang.
Jalur yang selama ini jarang dibicarakan di depan orang luar. Jalan yang dapat menghubungkan sejumlah permukiman kecil menuju arah Manipi tanpa harus melewati jalur utama. Jalan yang dianggap lebih aman oleh penduduk yang ingin menghindari pemeriksaan.
Dan jalan yang baru saja ia dengar disebut dalam pembicaraan rahasia pasukan.
Bukan sebagai tempat berlindung.
Melainkan sebagai tempat yang telah dipasangi ranjau.
***
Saidi merasa seolah seseorang baru saja merenggut tanah dari bawah kakinya.
Ia masih berdiri di depan rumah lelaki tua itu, tetapi pikirannya telah berlari mendahuluinya, melewati tikungan-tikungan yang belum ia tempuh, menuju sebuah jalur yang kini mungkin sedang dilalui keluarganya.
Ia teringat pembicaraan malam sebelumnya.
Tidak semua orang mengetahui perubahan rencana yang dilakukan regu cadangan. Saidi sendiri tidak sengaja mendengar sebagian percakapan ketika hendak mencari air. Dua lelaki berbicara di balik sebuah bangunan, menyebut jalur menuju Manipi, posisi pasukan patroli TNI, dan sebuah pengamanan rahasia yang telah disiapkan di Bola Romang.
Saat itu, ia tidak menganggap percakapan tersebut sebagai sesuatu yang berkaitan dengan keluarganya. Ia bahkan tidak mengetahui bahwa Muhana akan mengubah tujuan perjalanan.
Sekarang, setiap potongan kalimat yang sempat didengarnya kembali dengan ketajaman yang menyakitkan.
Ranjau.
Jalur yang telah dipasangi ranjau.
Bukan ranjau yang terlihat dan dapat dihindari dengan mudah. Ia tidak tahu persis di mana letaknya, seberapa luas jalur yang telah dipasangi, atau apakah seluruh kawasan telah dinyatakan berbahaya. Yang ia tahu, orang-orang yang memasangnya tidak mengharapkan ada penduduk sipil melewati tempat itu.
Dan Muhana sedang membawa empat anaknya menuju ke sana.
“Tidak,” katanya lirih.
Lelaki tua itu mengerutkan kening.
“Apa katamu?”
Saidi tidak menjawab. Ia berbalik dan berlari menuju tempat pasukan berkumpul.
Ia tidak lagi peduli pada lumpur yang membuat langkahnya berat. Ia tidak peduli ketika ranting-ranting menggores kulitnya atau ketika napasnya mulai terasa panas. Dalam pikirannya hanya ada satu gambaran: Muhana berjalan di depan, menggendong Kartini, sementara anak-anak lainnya mengikutinya melalui jalur yang mereka anggap aman.
Ia harus menemukan mereka.
Sebelum mereka mencapai Bola Romang.
Sebelum seseorang menginjak sesuatu yang tidak seharusnya diinjak.
Sebelum sebuah ledakan mengubah jalan yang mereka pilih untuk menyelamatkan diri menjadi tempat yang tidak dapat mereka tinggalkan.
“Bahar!”
Saidi tiba di tempat komandan berdiri dengan napas terputus-putus.
Bahar sedang memeriksa perubahan posisi bersama beberapa orang. Ia menoleh dengan wajah yang langsung menunjukkan ketidaksenangannya.
“Apa lagi?”
“Keluarga saya.”
“Tidak sekarang, Saidi.”
“Mereka menuju Bola Romang.”
Bahar terdiam.
Saidi mendekat, mencengkeram lengan lelaki itu.
“Jalur itu telah dipasangi ranjau oleh regu cadangan. Istri dan anak-anak saya sedang menuju ke sana.”
Beberapa orang yang berdiri di sekitar mereka saling pandang.
Bahar melepaskan tangan Saidi dari lengannya.
“Bagaimana kau tahu?”
“Aku mendengar pembicaraan tentang pengamanan jalur itu semalam.”
“Dan kau baru memberitahuku sekarang?”
“Aku baru tahu keluargaku mengubah arah ke sana!”
Bahar menatapnya, seolah berusaha membedakan kepanikan seorang ayah dari kemungkinan lain yang lebih berbahaya.
“Jalur itu dipersiapkan untuk menghadapi patroli TNI yang diperkirakan bergerak menuju Manipi. Tidak ada alasan bagi penduduk untuk melewatinya.”
“Mereka tidak tahu tentang ranjau itu!”
“Lalu bagaimana kau bisa yakin mereka benar-benar berada di sana?”
“Karena aku baru saja mendengar dari penduduk bahwa mereka mengubah arah menuju Bola Romang!”
Suara Saidi pecah pada kata terakhir.