SAIDI

Mappamancu
Chapter #9

Kabut Berdarah

“Ada korban, darah dimana-mana”

Pemuda itu berhenti.

Bukan karena tidak mengetahui kelanjutannya, melainkan karena Saidi telah mencengkeram kedua lengannya. Jari-jari Saidi menekan begitu kuat hingga pemuda itu meringis, tetapi lelaki yang berdiri di hadapannya seolah tidak menyadarinya.

“Siapa korbannya?” desak Saidi. “Kau menemukan siapa?”

Pemuda itu menatapnya dengan mata yang masih dipenuhi keterkejutan. Napasnya belum teratur. Lumpur melekat pada kedua lututnya, dan tangannya gemetar ketika ia kembali mengangkat kain kecil yang dibawanya.

“Kain ini ditemukan di dekat tempat ledakan.”

Saidi melepaskan satu tangannya, lalu meraih kain tersebut.

Dunia seperti berhenti ketika ia mengenali warna dan jahitannya.

Kain itu memang milik Sitti.

Ia pernah melihat putrinya membawa kain serupa ketika membantu Muhana merawat Kartini. Ia ingat bagaimana Sitti melipatnya dengan rapi, menyelipkannya di antara barang-barang kecil yang selalu dibawa ketika mereka harus meninggalkan rumah. Kain itu tidak mahal, bahkan mungkin tidak berarti apa-apa bagi orang lain. Namun, Saidi mengenal setiap benda yang dibawa anak-anaknya, sebab selama bertahun-tahun ia terbiasa memperhatikan hal-hal kecil yang tidak dianggap penting oleh siapa pun.

Sekarang, kain itu berada di tangannya.

Dan ada noda darah di sana.

Bukan satu titik kecil yang mungkin berasal dari luka ringan. Noda itu telah meresap ke serat kain, bercampur dengan tanah dan meninggalkan warna gelap yang membuat Saidi tidak sanggup memalingkan mata.

“Di mana kau menemukannya?”

“Di bawah sebuah ranting, tidak jauh dari tempat ledakan.”

“Apakah kau melihat seseorang?”

Pemuda itu menggeleng.

“Tidak ada orang di dekat sana ketika kami tiba. Hanya barang-barang yang berserakan.”

Saidi memandang Bahar.

Tidak ada lagi pertanyaan yang mampu ia ajukan. Wajah lelaki itu berubah muram ketika mendengar penjelasan tersebut. Ia tahu Bahar mungkin juga sedang menghitung kemungkinan-kemungkinan yang sama dengannya, mencari celah yang dapat menyangkal kesimpulan paling mengerikan itu.

Namun, kain bernoda darah tidak menyediakan jawaban yang mereka butuhkan.

Ia hanya memberikan alasan untuk takut.

Saidi melepaskan kain itu dari genggamannya, lalu mendadak berbalik dan berlari menuju tempat ledakan.

“Saidi!” teriak Bahar.

Kali ini, tidak ada yang mencoba menghentikannya.

***

Jalan menuju lokasi ledakan terasa lebih panjang daripada sebelumnya.

Saidi berlari menuruni lereng, melewati pepohonan yang batangnya masih bergetar oleh gema ledakan. Di beberapa tempat, tanah basah teraduk dan serpihan ranting berserakan di sepanjang jalan. Asap tipis menggantung di antara pepohonan, bercampur dengan kabut pegunungan yang mulai turun kembali.

Ia tidak lagi memikirkan ranjau.

Ia tidak lagi memikirkan operasi, perintah, atau kemungkinan bertemu patroli TNI.

Semua yang ada di dalam dirinya telah menyusut menjadi satu keinginan: menemukan keluarganya.

Jika mereka terluka, ia akan membawa mereka pergi.

Jika mereka terjebak, ia akan mencari jalan untuk mengeluarkan mereka.

Jika mereka masih hidup, ia akan memeluk mereka dan tidak akan melepaskannya sebelum yakin bahwa tidak ada satu pun dari mereka yang akan menghilang dari hadapannya.

Namun, jika mereka—Saidi menghentikan pikiran itu sebelum selesai.

Ia tidak berani membayangkan kelanjutannya.

Ketika akhirnya mencapai lokasi ledakan, ia mendapati tanah di hadapannya telah berubah menjadi hamparan kekacauan.

Sebuah cekungan menganga di sisi jalan. Tanah yang terangkat membentuk gundukan-gundukan kecil, sementara pecahan kayu dan ranting terlempar hingga ke semak-semak di sekitarnya. Bau mesiu masih tertinggal di udara, bercampur dengan aroma tanah basah yang teraduk.

Saidi berdiri di tepi lokasi itu.

Kemudian ia melihat darah.

Percikan-percikan merah mengotori tanah, menempel pada dedaunan, dan membekas di beberapa bagian kain yang tersangkut di antara ranting. Ada jejak yang berlanjut beberapa langkah dari cekungan, lalu terputus di bawah semak yang patah.

Saidi tidak bergerak.

Matanya menyusuri setiap benda yang berserakan, seolah sedang membaca sebuah surat yang ditulis dengan bahasa paling kejam di dunia.

Sebuah wadah makanan pecah tergeletak di dekat batu. Tutupnya terpisah beberapa langkah, sementara bagian sisinya penyok dan tertutup tanah. Tak jauh dari sana, beberapa potong makanan telah bercampur dengan lumpur.

Saidi mengenali wadah itu.

Muhana menggunakannya untuk membawa bekal ketika mereka harus bepergian jauh.

Ia pernah melihat istrinya membersihkan wadah tersebut di dekat sungai, menggosok bagian dalamnya dengan sabut kelapa sambil mengeluh karena anak-anak selalu meninggalkan sisa makanan. Pada hari-hari yang lebih baik, Rahman akan berusaha mencuri potongan terakhir pada wadah, sementara Sitti pura-pura tidak melihat agar adiknya tidak dimarahi.

Kenangan itu datang begitu jelas hingga Saidi hampir dapat mendengar suara mereka.

Sekarang, wadah itu tergeletak di tengah tanah yang dipenuhi darah.

Ia melangkah mendekat.

Di dekat akar pohon, sepotong kain lain tersangkut pada ranting. Warnanya mengingatkannya pada pakaian Rahman. Beberapa langkah dari sana, ia menemukan bagian sarung yang dikenalnya sebagai milik Tayyeb, atau setidaknya sangat mirip dengan kain yang biasa dikenakan putranya.

Kemudian ia melihat sehelai kain yang lebih besar.

Kain yang warnanya menyerupai pakaian Muhana.

Saidi berhenti bernapas untuk sesaat.

Ia ingin mengatakan bahwa semua itu bukan milik keluarganya. Ia ingin meyakinkan dirinya bahwa ada keluarga lain yang melewati tempat tersebut, bahwa kain-kain itu hanya kebetulan memiliki warna yang sama, bahwa wadah makanan itu berasal dari orang yang tidak pernah dikenalnya.

Namun, setiap kali ia mencoba membangun alasan, matanya menemukan benda lain yang meruntuhkan semuanya.

Sebuah tali pengikat.

Potongan kain kecil.

Bungkusan yang robek.

Dan darah.

Begitu banyak darah di tempat yang seharusnya hanya menjadi jalan setapak di antara pepohonan.

Saidi jatuh berlutut.

Ia tidak ingat kapan kakinya kehilangan kekuatan. Ia hanya tahu bahwa tanah yang dingin kini menekan kedua lututnya, sementara tangannya terulur ke arah potongan kain yang tersangkut di ranting.

Ia mengambilnya perlahan.

Kain itu kotor, robek pada salah satu sisinya, dan berbau tanah. Saidi meremasnya, lalu menempelkannya ke dada seolah benda itu masih menyimpan kehangatan pemiliknya.

“Tidak…”

Suara itu keluar dari tenggorokannya seperti sesuatu yang patah.

Ia menoleh ke sekeliling.

Tidak ada Muhana.

Tidak ada Sitti.

Tidak ada Tayyeb yang berdiri tegak berusaha terlihat berani. Tidak ada Rahman yang berlari mendekat dengan senapan kayunya. Tidak ada Kartini yang mengangkat kedua tangan kecilnya meminta digendong.

Hanya hutan.

Hanya kabut.

Hanya benda-benda yang dikenalnya, tergeletak di antara darah dan tanah yang hancur.

“Di mana kalian?”

Pertanyaan itu tidak ditujukan kepada siapa pun yang masih hidup.

Saidi mengangkat wajahnya, memandang ke arah lereng yang tertutup pepohonan.

“Muhana…”

Ia menelan ludah, tetapi tenggorokannya terasa seperti dipenuhi pasir.

“Aku di sini.”

Ia menunggu.

Mungkin ia berharap mendengar jawaban dari balik pepohonan. Mungkin sebagian kecil dari dirinya masih percaya bahwa keluarganya akan muncul sambil mengeluh karena ia datang terlambat.

Tidak ada jawaban.

“Ayah datang, Nak.”

Kali ini suaranya bergetar.

“Ayah datang…”

Ia memeluk kain itu semakin erat.

Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumah, Saidi tidak lagi mencoba menahan tangisnya.

***

Ia menangis tanpa suara pada mulanya.

Bahu-bahunya bergetar, tetapi bibirnya hanya terbuka sedikit. Seolah-olah tubuhnya masih berusaha mempertahankan sisa harga diri seorang lelaki yang terbiasa menyembunyikan ketakutan di hadapan orang lain.

Namun, kesedihan yang telah menumpuk selama berhari-hari akhirnya menemukan jalan keluar.

Saidi membungkuk, menekan kain itu ke wajahnya, lalu mengeluarkan isak yang membuat dadanya terasa sakit.

Ia teringat keputusan-keputusan yang membawanya sampai ke tempat itu. Ia yang memutuskan agar keluarganya mengungsi dari rumah. Ia yang memilih Maroanging karena menganggap ladang tersembunyi itu cukup aman.

Ia yang berangkat bersama pasukan karena percaya dapat menyelesaikan tugasnya dan kembali sebelum keadaan memburuk. Dan ia yang tidak pernah membayangkan bahwa keluarganya akan mengubah arah perjalanan tanpa mengetahui bahaya yang menunggu di depan.

Ia telah menghabiskan bertahun-tahun belajar membaca medan, mengenali tanda-tanda bahaya, dan memperkirakan langkah lawan. Ia dapat melihat ancaman dalam percakapan yang tampak biasa, memahami maksud di balik pesan yang disamarkan, bahkan mengenali perubahan suasana hutan sebelum orang lain menyadarinya.

Tetapi ia gagal membaca satu hal yang paling penting.

Jalan pulang keluarganya sendiri.

“Ini salahku,” bisiknya.

Kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada teriakan.

“Ini salahku…”

Ia memandang wadah makanan yang pecah.

Seharusnya ia mengantar mereka sendiri ke tempat pengungsian. Seharusnya ia memastikan jalur yang akan mereka tempuh aman. Seharusnya ia tidak membiarkan Muhana berjalan bersama anak-anak tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di luar sana.

Ia seharusnya menjadi seorang ayah sebelum menjadi seorang prajurit.

Namun, setiap kali ia berusaha melindungi keluarganya, perang selalu memaksanya memilih cara yang justru menjauhkan mereka dari dirinya.

Ia telah meminta Tayyeb menjaga ibu dan adik-adiknya.

Ia masih dapat mengingat wajah putranya ketika menerima tanggung jawab itu. Ada kebanggaan yang begitu besar di mata Tayyeb, kebanggaan seorang anak yang akhirnya merasa dipercaya oleh ayahnya.

Saidi menutup mata.

Apakah Tayyeb sempat menyadari bahaya itu?

Apakah ia mencoba melindungi Sitti dan Rahman?

Apakah ia berdiri di depan ibunya, berusaha menjadi perisai bagi orang-orang yang dipercayakan kepadanya?

Saidi tidak sanggup menyelesaikan bayangan tersebut.

Ia tidak ingin membayangkan putranya ketakutan. Ia tidak ingin membayangkan Sitti memanggil ayahnya ketika tidak seorang pun datang. Ia tidak ingin membayangkan Rahman mencari tempat untuk bersembunyi sambil menggenggam senapan kayu yang tidak pernah dapat melindungi siapa pun.

Terlebih lagi, ia tidak sanggup membayangkan Kartini.

Anak itu bahkan belum benar-benar pulih dari sakitnya.

Ia pergi ke Manipi untuk mencari obat, menembus pemeriksaan, mempertaruhkan nyawanya, dan menerima tugas yang tidak sepenuhnya ia inginkan demi memastikan Kartini tetap hidup.

Ia melakukan semua itu karena percaya masih ada waktu.

Sekarang, di hadapannya, kain-kain yang dikenalnya berserakan di tanah.

Saidi menundukkan kepala hingga dahinya hampir menyentuh lutut.

“Aku hanya ingin kalian selamat…”

Kalimat itu pecah menjadi isak.

“Aku hanya ingin kalian selamat, Muhana.”

Ia tidak tahu berapa lama ia duduk di sana. Waktu kehilangan bentuknya. Kabut bergerak perlahan, sementara suara orang-orang yang mulai berdatangan terdengar semakin jauh.

Bahar berdiri cukup jauh di belakangnya.

Ia tidak segera mendekat. Ia pernah melihat orang kehilangan saudara, sahabat, dan anak buahnya dalam pertempuran. Ia pernah melihat lelaki yang baru saja tertawa beberapa menit sebelumnya mendadak terbaring tanpa suara. Ia tahu bahwa tidak semua kesedihan membutuhkan seseorang untuk mengucapkan kata-kata penghiburan.

Tetapi melihat Saidi di tempat itu terasa berbeda.

Bahar mengenal lelaki tersebut sebagai seorang pejuang yang sulit dibujuk, seseorang yang selalu berusaha menyembunyikan pikirannya dan tidak mudah menyerahkan kepercayaan kepada orang lain.

Kini, lelaki itu duduk di tanah sambil memeluk sepotong kain.

Senjatanya tergeletak di samping lutut.

Ia bahkan tidak berusaha mengambilnya.

“Saidi,” panggil Bahar pelan.

Saidi tidak menoleh.

“Aku turut berduka.”

Kalimat itu membuat Saidi mengangkat wajah dengan perlahan.

Ia menatap Bahar seperti seseorang yang tidak lagi memahami bahasa manusia.

“Jangan katakan itu.”

Bahar terdiam.

“Jangan katakan mereka sudah mati,” lanjut Saidi. “Kau tidak melihat tubuh mereka.”

Bahar tidak menjawab.

“Tidak seorang pun melihat tubuh mereka.”

Suara Saidi mendadak meninggi, seolah ia sedang berusaha meyakinkan semua orang di sekelilingnya.

“Kita belum menemukan mereka. Kita belum melihat apa-apa. Mungkin mereka sudah pergi sebelum ledakan. Mungkin mereka—”

Lihat selengkapnya