Siluet itu mengangkat senjata.
Larasnya terarah tepat ke tempat Muhana dan anak-anaknya berlindung. Jarak mereka begitu dekat sehingga Saidi dapat melihat gerakan bahu lelaki itu di balik kabut, meskipun wajahnya masih tersembunyi. Satu detik lagi, mungkin kurang, dan peluru akan melesat ke arah keluarga yang baru saja berhasil ia temukan kembali.
Saidi hendak menerjang.
Namun, sebelum ia sempat bergerak, sebuah tembakan memecah udara.
Tubuh lelaki bersenjata itu tersentak. Senjatanya terlepas dari tangan, lalu ia jatuh ke samping, lenyap di balik semak-semak yang basah. Tidak ada waktu bagi Saidi untuk mengetahui siapa yang menembaknya atau dari mana peluru itu berasal. Suara tembakan lain segera menyusul, bertumpuk dengan rentetan senjata yang sejak tadi mengguncang lereng.
Pertempuran kembali meledak di sekeliling mereka.
“Merunduk!” teriak Saidi.
Ia menekan tubuhnya di atas Kartini, sementara Muhana menarik Sitti dan Rahman ke balik batu besar. Tayyeb ikut merendahkan badan, tetapi matanya tetap mengawasi arah tempat lelaki tadi terjatuh.
Seseorang berteriak dari balik pepohonan.
Suara itu disusul tembakan panjang yang menyapu lereng. Daun-daun berhamburan. Sebatang ranting patah di atas kepala mereka, sementara tanah di dekat kaki Saidi terhambur oleh peluru yang menghantam permukaannya.
Tidak ada yang benar-benar melihat siapa yang menembak lebih dahulu.
Kabut telah menghapus batas antara manusia dan bayangan. Di balik selimut putih keabu-abuan itu, setiap gerakan dapat disalahartikan sebagai ancaman. Pasukan TNI yang bergerak mendekati lokasi ledakan melihat sosok-sosok bersenjata di antara pepohonan. Pasukan gerilya yang telah bersiap di kawasan tersebut melihat bayangan yang sama dari arah berlawanan.
Masing-masing mengira sedang menghadapi lawan.
Masing-masing membalas tembakan.
Dan di antara mereka, keluarga Saidi terperangkap tanpa mengetahui dari arah mana bahaya berikutnya akan datang.
“Ayah!” Rahman menjerit.
Saidi menoleh sekilas.
“Aku di sini! Jangan berdiri!”
“Aku tidak bisa melihat Ibu!”
Muhana meraih tangan anaknya dan menariknya lebih dekat.
“Ibu di sini, Nak. Pegang tangan Ibu!”
Sitti memeluk Kartini dari samping, berusaha melindungi adiknya dengan tubuhnya sendiri. Wajahnya pucat. Ia tidak lagi bertanya kapan mereka akan pulang, tidak lagi memanggil ayahnya untuk memastikan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Kini ia hanya menggigit bibir, menahan tangis agar Rahman tidak semakin ketakutan.
Saidi melihat mereka semua dalam satu pandangan.
Lima orang yang harus dibawanya keluar dari tempat itu.
Ia menghitung mereka dalam hati, bukan sekali, melainkan berulang-ulang, seolah dengan menyebut nama mereka satu per satu ia dapat memastikan bahwa perang belum mengambil siapa pun lagi.
Lalu rentetan tembakan kembali mengguncang lereng.
Saidi menunduk, menarik Muhana agar tetap berlindung. Ia mendengar peluru menghantam batang pohon di belakang mereka, kemudian suara benda berat jatuh ke tanah. Seseorang berteriak kesakitan. Dari arah lain, terdengar perintah yang tidak dapat dipahami di tengah kekacauan.
“Bahar!” Saidi berteriak.
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba melihat ke arah pasukan gerilya, tetapi kabut terlalu tebal. Sosok-sosok yang semula terlihat di seberang lereng kini hanya muncul sesaat, lalu lenyap kembali di antara pepohonan. Tidak ada garis depan yang jelas. Tidak ada arah yang dapat dipercaya.
Hanya suara senjata.
Hanya orang-orang yang berusaha bertahan hidup.
Dan hanya keluarga Saidi yang harus ia bawa keluar sebelum salah satu peluru menemukan mereka.
“Kalau kita tetap di sini, kita akan mati!” kata Muhana.
Saidi menatap istrinya.
Ia tahu itu benar.
Tetapi bergerak berarti meninggalkan perlindungan batu, melintasi tanah terbuka, dan mempertaruhkan kemungkinan bahwa seseorang di balik kabut akan melihat mereka sebagai bagian dari pasukan lawan.
Ia mengamati lereng di sebelah kiri. Ada deretan pepohonan yang tumbuh rapat, membentuk bagian tanah yang sedikit lebih rendah. Jalur itu mungkin dapat membawa mereka menjauh dari lokasi pertempuran, meskipun ia tidak dapat memastikan apa yang menunggu di baliknya.
Saidi hampir memberi perintah ketika suara lain terdengar.
“Jangan ke sana!”
Tayyeb menunjuk ke arah pepohonan.
“Di sana ada bayangan orang!”
Saidi mengikuti arah yang ditunjuknya.
Di balik kabut, beberapa sosok bergerak. Atau mungkin hanya pepohonan yang bergoyang diterpa angin. Ia tidak dapat memastikan. Dari sisi lain, sebuah rentetan tembakan kembali terdengar, seolah membenarkan dugaan bahwa ada pasukan yang sedang bergerak mendekat.
Saidi menunduk lagi.
Mereka tidak dapat menunggu.
Namun, mereka juga tidak dapat bergerak.
Entah mengapa, ia merasa tidak ada satu pun pengetahuan tentang medan yang dapat membantunya. Semua jalan yang dikenalnya telah berubah menjadi teka-teki, dan setiap jawaban mungkin berakhir dengan kematian.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Tembakan dari kedua arah tidak lagi terpusat pada satu titik. Beberapa rentetan mengarah ke pepohonan di sebelah timur, sementara yang lain terdengar dari lereng yang lebih jauh. Kabut membuat para penembak kehilangan pandangan yang jelas, dan suara peluru yang menghantam batang pohon terus memancing tembakan balasan.
Bayangan-bayangan di antara pepohonan telah menjadi musuh bagi bayangan lainnya.
Saidi tidak tahu berapa lama keadaan itu akan bertahan.
Tetapi ia tahu mereka tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang mungkin hanya berlangsung beberapa detik.
“Kita bergerak,” katanya.
Muhana menatapnya.
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Ia mengangkat Kartini, lalu memeriksa wajah anak itu sebelum berdiri. Tubuh kecil itu terasa hangat, tetapi Saidi mengira hal tersebut akibat demam yang belum sepenuhnya hilang. Ia mengencangkan pelukannya dan memberi isyarat kepada Sitti agar mengikuti Muhana.
“Tayyeb, kau di belakang.”
Anak sulungnya mengangguk.
“Jangan mendahului kami. Jangan berhenti tanpa memberi tahu.”
“Baik, Ayah.”
Mereka mulai bergerak merunduk di antara pepohonan, menjauh dari batu besar yang sejak tadi menjadi satu-satunya perlindungan mereka. Saidi berjalan paling depan bersama Kartini dalam pelukannya, sementara Muhana menggandeng Rahman dan Sitti mengikuti rapat di belakang.
Tayyeb menutup barisan.
Ia beberapa kali menoleh ke arah pertempuran, memastikan tidak ada sosok bersenjata yang mendekat. Setiap kali terdengar tembakan, ia menahan langkah dan menunggu sampai suara itu kembali menjauh.
Ia tidak tahu apakah mereka benar-benar sedang menuju keselamatan.
Namun, ia telah berjanji kepada ayahnya.
Dan ia tidak akan membiarkan keluarganya menghadapi bahaya tanpa seseorang yang menjaga mereka dari belakang.
***
Mereka baru mencapai sebuah tikungan ketika suara langkah-langkah terdengar dari arah belakang.
Saidi segera berhenti.
Muhana menarik Sitti dan Rahman ke sisi jalan. Tayyeb, yang sejak tadi menutup barisan, bergerak mendekat dengan wajah tegang.
“Ada orang mengikuti kita,” bisiknya.
Saidi menoleh ke arah suara itu.
Kabut menyelimuti jalan yang baru mereka lewati. Di antara batang-batang pohon, beberapa bayangan bergerak. Ia tidak dapat memastikan apakah mereka gerilyawan yang sedang mencari jalan keluar, atau patroli TNI yang bergerak menyusuri lereng.
Ia hanya tahu bahwa mereka tidak boleh ditemukan di tempat terbuka.
“Masuk ke balik pepohonan,” katanya.
Mereka segera merunduk di antara semak-semak. Saidi memeluk Kartini, sementara Muhana menggenggam tangan Rahman dan Sitti. Tayyeb berdiri di belakang mereka, berusaha melihat melalui celah dedaunan.
Suara langkah semakin dekat.
Seseorang berbicara, tetapi kata-katanya tidak jelas.
Kemudian terdengar bunyi logam beradu.
Saidi menahan napas.
Jika orang-orang itu menemukan mereka, tidak ada jaminan bahwa mereka akan memahami siapa yang sedang mereka hadapi. Di tengah pertempuran yang kacau, seorang lelaki bersenjata yang membawa anak sakit dapat dianggap sebagai bagian dari pasukan lawan. Muhana dan anak-anaknya bahkan tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan bahwa mereka hanya ingin menjauh dari medan tembak.
Saidi merapatkan tubuh Kartini ke dadanya.
Ia ingin melindungi anak itu dari suara senjata, tetapi suara-suara tersebut seolah mengikuti mereka ke mana pun pergi.
Tiba-tiba Tayyeb menoleh kepada ayahnya.
“Ayah, jangan bergerak.”
Saidi menatapnya.
“Apa?”
Tayyeb menunjuk ke arah semak di sebelah kanan.
“Ada jalan kecil di sana.”
Saidi mengikuti arah yang ditunjuknya. Ia melihat celah di antara dua batu, cukup sempit untuk dilewati seorang anak, tetapi belum tentu dapat dilalui Muhana sambil menggendong Kartini.
“Kita tidak tahu ke mana jalan itu membawa kita.”
“Kalau tetap di sini, mereka akan menemukan kita.”
Tayyeb benar.
Namun, sebelum Saidi sempat memutuskan, sebuah suara terdengar dari jalan di belakang mereka.
“Periksa ke sebelah kanan!”
Langkah-langkah kembali mendekat.
Saidi menoleh kepada keluarganya.
“Siap-siap bergerak.”
Tayyeb menatap batu kecil yang tergeletak di dekat kakinya. Kemudian ia memandang ke arah lain, tempat pepohonan tumbuh lebih rapat dan tanah menurun menuju sebuah lekukan.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya mengambil batu itu, menggenggamnya sesaat, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke arah pepohonan yang berlawanan.
Batu tersebut menghantam batang kayu kering.
Bunyinya cukup keras untuk memecah kesunyian.
“Di sana!” seseorang berteriak.
Langkah-langkah yang semula mendekati tempat persembunyian mereka segera berubah arah. Beberapa suara perintah terdengar saling bersahutan. Di kejauhan, sebuah tembakan meletus, disusul teriakan yang membuat perhatian orang-orang bersenjata itu semakin tertuju pada sumber bunyi.
Saidi menatap Tayyeb.
Anak itu tidak tersenyum. Ia bahkan tidak tampak bangga dengan apa yang baru saja dilakukannya. Ia hanya mengangguk ke arah celah di antara batu.
“Sekarang, Ayah.”
Saidi memahami maksudnya.
Ia tidak bertanya dari mana Tayyeb belajar melakukan hal seperti itu. Ia tidak memujinya karena keberanian yang baru saja ditunjukkannya. Ia hanya meraih tangan putranya sebentar, lalu menggenggamnya erat.
“Bagus, Nak.”
Dua kata itu membuat mata Tayyeb berubah.
Ia telah mengharapkan pengakuan dari ayahnya selama berbulan-bulan. Ia ingin dianggap cukup dewasa untuk melakukan sesuatu yang berarti. Kini, dalam keadaan yang paling menakutkan, ayahnya akhirnya mengatakan bahwa ia telah melakukan sesuatu dengan benar.
Tetapi kebanggaan itu hanya berlangsung sekejap.
Saidi segera memberi perintah agar mereka bergerak melalui celah batu.
Muhana masuk lebih dahulu, disusul Sitti dan Rahman. Saidi mengikuti sambil menggendong Kartini, sementara Tayyeb tetap berada di belakang, mengawasi jalan yang mereka tinggalkan.
Mereka bergerak dengan susah payah melalui jalur sempit tersebut. Ranting-ranting menyangkut pakaian mereka, batu-batu licin membuat langkah mereka tidak stabil, dan gerimis yang semakin deras membuat tanah berubah menjadi lumpur.