SAIDI

Mappamancu
Chapter #11

Asa yang Tak Nyata

Kabut belum juga membuka jalan.

Di lereng yang basah, Saidi berjalan dengan Kartini dalam pelukannya. Tubuh anak itu terasa semakin ringan, tetapi bukan karena ia mulai pulih. Justru sebaliknya. Demam telah menguras tenaganya, membuat kepalanya terkulai di bahu sang ayah, sementara napasnya terdengar pendek dan tidak teratur.

Muhana berjalan di belakangnya dengan Rahman dalam gandengan. Sitti beberapa kali menoleh ke arah kabut, berharap menemukan bayangan seseorang yang dikenalnya.

Tayyeb belum kembali.

Tidak ada seorang pun yang berani mengucapkan ketakutan itu dengan suara keras. Mereka hanya menyimpannya di antara langkah-langkah yang semakin berat.

Saidi berhenti ketika Kartini mengeluarkan suara kecil dari tenggorokannya. Anak itu menggeliat dalam pelukannya, lalu mendadak menegang. Kedua tangannya mengepal, matanya terpejam rapat.

“Kartini?”

Saidi menepuk pipinya perlahan.

“Kartini, dengar Ayah?”

Tidak ada jawaban.

Muhana segera mendekat. Ia menyentuh dahi putrinya, kemudian meraba leher dan pergelangan tangannya.

“Panasnya naik lagi.”

Saidi memandang istrinya. Di wajah Muhana, ia menemukan ketakutan yang selama ini berusaha disembunyikan perempuan itu di hadapan anak-anak mereka.

“Obatnya,” kata Saidi.

Muhana tidak menjawab.

Mereka sudah mengetahui jawabannya. Botol itu pecah. Isinya tumpah entah ke mana, bercampur dengan tanah, air hujan, dan serpihan kaca di tengah kekacauan baku tembak.

Saidi menurunkan tubuh Kartini dengan hati-hati di atas kain yang dibentangkan Muhana. Ia membuka tas kecil yang sejak tadi dibawanya, memeriksa sekali lagi setiap sudut, seolah masih berharap menemukan sesuatu yang terlewat.

Yang tersisa hanya pecahan kaca, kain pembungkus, dan bau obat yang samar.

“Tidak ada,” gumamnya.

Sitti berlutut di samping adiknya. Ia memandang kain pembungkus yang diangkat ayahnya, kemudian mengambilnya perlahan.

“Ini punya obat Kartini?”

Saidi mengangguk.

Sitti membolak-balik kain itu. Ada bagian yang masih lembap, tetapi ia tidak tahu apakah itu air hujan atau sisa cairan obat yang menempel sebelum botol pecah.

“Jangan dibuang, Yah.”

Saidi menoleh.

“Untuk apa?”

“Masih ada baunya.”

Muhana memandang kain itu. Ia mengambilnya dari tangan Sitti, lalu mendekatkannya ke hidung. Di antara bau tanah dan air hujan, memang masih tersisa aroma obat yang sangat tipis.

Ia membuka lipatan kain tersebut.

Di dalamnya terdapat kapas pembungkus botol. Sebagian telah basah oleh air hujan, tetapi bagian tengahnya masih menyimpan kelembapan yang berbeda.

Muhana menatap Saidi.

“Jangan-jangan masih ada sisanya.”

Saidi segera mengambil kapas itu. Ia mengangkatnya ke arah cahaya yang tertutup kabut. Tidak banyak yang terlihat. Hanya gumpalan kecil yang hampir tidak berarti.

“Cukupkah?” tanya Sitti.

Tidak ada yang menjawab.

Mereka tidak tahu berapa banyak obat yang masih tersisa di sana. Mereka bahkan tidak tahu apakah cairan itu masih layak diberikan kepada Kartini. Namun, dalam keadaan seperti itu, sepotong harapan sekecil apa pun terasa terlalu berharga untuk dibuang begitu saja.

Muhana memeras kapas itu perlahan di atas tutup kecil yang masih tersimpan di dalam tas.

Satu tetes jatuh.

Kemudian satu tetes lagi.

Saidi memperhatikannya dengan rahang mengeras. Dua tetes cairan itu tidak tampak seperti sesuatu yang mampu mengubah keadaan. Tetapi bagi mereka, itulah satu-satunya yang tersisa.

“Jangan langsung diberikan semuanya,” kata Muhana. “Kita tidak tahu berapa banyak yang masih tertinggal.”

Ia membasahi sedikit kain bersih dengan cairan itu, lalu menyentuhkannya ke bibir Kartini.

Anak itu tidak segera bereaksi.

“Kartini,” bisik Sitti. “Ini obatmu. Sedikit saja.”

Saidi memalingkan wajah.

Ia pernah membawa senjata melintasi hutan, pernah berjalan melewati penjagaan, pernah menghadapi orang-orang yang siap menembaknya hanya karena ia memilih jalan yang berbeda. Namun, tidak satu pun pengalaman itu memberinya kemampuan untuk menghadapi tubuh kecil yang sedang berjuang melawan demam.

Di kejauhan terdengar suara tembakan yang terputus-putus.

Saidi mengangkat kepala.

Mereka belum benar-benar keluar dari wilayah pertempuran.

“Bisa kita teruskan perjalanan?” tanya Muhana.

Saidi memandang Kartini, lalu melihat ke arah kabut yang menutupi lereng.

“Kita harus menemukan tabib.”

“Di mana?”

“Di kampung terdekat. Siapa pun yang masih bisa menolong.”

Muhana mengangguk, meski ia tahu perjalanan itu tidak akan mudah.

Sitti membantu membungkus kembali kapas yang masih tersisa. Ia menyimpannya di dalam kain kecil, seolah sedang menjaga benda yang jauh lebih berharga daripada sebotol obat utuh.

“Yah,” katanya.

Saidi menoleh.

“Kalau kita menemukan tabib, Kartini bisa sembuh, kan?”

Saidi ingin menjawab iya.

Namun, ia tidak sanggup menjanjikan sesuatu yang bahkan tidak bisa ia kendalikan.

“Kita akan berusaha sampai ada yang bisa menolongnya.”

Sitti mengangguk. Ia tidak bertanya lagi.

Mereka kembali bergerak.

Di belakang mereka, kabut perlahan menutup bekas langkah. Dan di suatu tempat yang tidak diketahui siapa pun, seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun sedang berusaha menemukan jalan pulang.

***

Tayyeb tidak tahu sudah berapa lama berjalan.

Kabut telah mengubah hutan menjadi tempat yang asing. Pohon-pohon yang semula dikenalnya kini tampak seperti barisan orang yang berdiri tanpa wajah. Setiap jalur menyerupai jalur sebelumnya. Setiap tanjakan seolah membawanya kembali ke tempat yang sama.

Ia berhenti di dekat sebuah batang pohon tumbang.

Napasnya memburu. Lututnya terasa sakit akibat berjalan terlalu jauh, sementara bagian bawah bajunya basah oleh air dan lumpur.

Tayyeb menoleh ke belakang.

Tidak ada siapa-siapa.

“Ayah?”

Suaranya tenggelam di antara pepohonan.

Ia mencoba mengingat arah yang tadi dilewati. Seingatnya, ia tertinggal ketika berhenti memeriksa jalan. Setelah itu, suara tembakan terdengar dari beberapa arah. Ia berusaha mencari tempat berlindung, kemudian mengikuti sebuah jalur yang tampaknya pernah dilewati pasukan gerilya.

Namun, ia tidak yakin.

Ia hanya tahu satu hal: ia harus menemukan keluarganya.

Tayyeb melangkah lagi.

Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terdengar suara percakapan.

Ia segera merunduk.

Dua orang bersenjata muncul dari balik pepohonan. Pakaian mereka basah, senjata disandang di bahu, dan langkah mereka menunjukkan bahwa keduanya terbiasa bergerak di hutan.

Tayyeb tidak mengenali wajah mereka.

Namun, ia mengenali cara mereka berbicara. Mereka menggunakan beberapa istilah yang sering didengarnya dari orang-orang bersenjata di sekitar ayahnya.

“Jalur bawah sudah diperiksa?”

Lihat selengkapnya