Tayyeb semula mengira mereka akan membawanya ke sebuah tempat penyiksaan.
Sejak meninggalkan hutan Bonto Rihu, ia tidak lagi mengetahui arah perjalanan. Kedua tangannya memang tidak diikat, tetapi dua orang bersenjata berjalan mengapitnya dengan jarak yang cukup dekat untuk mencegahnya melarikan diri. Mereka tidak banyak bicara. Sesekali salah seorang menoleh, memastikan anak itu masih mengikuti langkah mereka.
Di hadapan mereka, sebuah bangunan kayu berdiri di balik pepohonan. Tidak besar, tidak pula tampak seperti markas pasukan yang memiliki kekuatan istimewa. Namun, orang-orang yang keluar masuk memperlihatkan bahwa tempat itu bukan sekadar rumah singgah. Beberapa lelaki berjaga di sudut halaman. Dua orang sedang memeriksa peta di atas meja panjang. Di sisi lain, seorang kurir menyerahkan sesuatu kepada laki-laki yang mengenakan pakaian lapangan.
Tayyeb memperhatikan semuanya.
Ia mengenali suasana seperti itu. Rumah-rumah persembunyian dan tempat berkumpul pasukan gerilya tidak jauh berbeda. Tetapi ada sesuatu yang membuatnya gelisah: orang-orang di tempat ini bergerak dengan lebih tertib, lebih tenang, dan seolah sudah mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum diperintahkan.
“Berhenti di sini,” kata salah seorang pengawalnya.
Tayyeb berhenti di ambang pintu.
Seorang lelaki bertubuh tegap keluar dari bangunan utama. Usianya mungkin empat puluh tahun lebih. Wajahnya keras, dengan sepasang mata yang terbiasa mengamati orang sebelum memutuskan apakah mereka kawan atau lawan.
Ia memandang Tayyeb cukup lama.
“Ini anak yang kalian temukan di batas Bonto Rihu?”
“Benar, Komandan.”
“Siapa namanya?”
“Tayyeb.”
Lelaki itu mengulang nama tersebut, seolah sedang mencari sesuatu dalam ingatannya.
“Tayyeb?”
Ia mendekat.
“Nama ayahmu siapa?”
Tayyeb tidak langsung menjawab. Pengalaman beberapa hari terakhir telah mengajarkannya bahwa menyebut nama ayahnya tidak selalu membuat orang percaya kepadanya.
Namun, lelaki itu menunggu tanpa mengancam.
“Saidi,” jawab Tayyeb akhirnya.
Ekspresi komandan berubah tipis.
“Saidi yang dari sektor selatan?”
Tayyeb mengangguk.
Lelaki itu menoleh kepada dua pengawal.
“Bawa dia masuk. Beri makan.”
Tayyeb mengerutkan kening.
“Hanya itu?”
Komandan menatapnya.
“Kau mengharapkan apa?”
“Aku ditangkap.”
“Dan?”
“Bukankah kalian akan menginterogasiku?”
Komandan itu mengeluarkan senyum kecil yang sulit ditafsirkan.
“Kalau kami ingin bertanya, kau akan menjawab. Tidak perlu membuat seorang anak kelaparan lebih dulu.”
Tayyeb tidak tahu harus berkata apa.
Ia dibawa masuk ke sebuah ruangan yang dipenuhi meja, kursi, dan beberapa peti kayu. Tidak ada rantai di dinding. Tidak ada alat penyiksaan seperti yang pernah dibayangkannya. Seorang anggota pasukan bahkan menyodorkan segelas air dan sepiring makanan sederhana.
Tayyeb memandang makanan itu dengan curiga.
“Makanlah,” kata lelaki tersebut.
“Aku tidak lapar.”
“Kalau begitu, simpan. Tidak ada yang memaksamu.”
Pengawal itu pergi.
Tayyeb duduk sendirian. Ia memandangi makanan di hadapannya, tetapi pikirannya tertuju pada keluarganya.
Apakah Kartini sudah sembuh?
Apakah Ibu berhasil keluar dari wilayah pertempuran?
Apakah Sitti dan Rahman masih bersama mereka?
Dan yang paling mengganggu: apakah Saidi sedang mencarinya?
Tayyeb mengambil sepotong makanan, tetapi hanya menggigit sedikit. Ia tidak ingin terlihat takut. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya bukan anak kecil yang bisa diperlakukan sesuka hati.
Namun, ketika suara langkah terdengar dari luar, ia segera meletakkan makanan itu.
Komandan tadi masuk bersama seorang lelaki lain yang membawa buku catatan.
“Kau sudah lebih tenang?” tanya komandan.
Tayyeb mengangguk.
“Bagus. Aku ingin bertanya beberapa hal.”
“Tentang apa?”
“Tentang ayahmu.”
Tayyeb menatapnya.
“Ayahku bukan pengkhianat.”
Komandan terdiam sesaat.
“Siapa yang mengatakan ayahmu pengkhianat?”
“Tidak ada.”
“Lalu mengapa kau mengatakan itu?”
Tayyeb tidak menjawab.
Komandan menarik kursi dan duduk di hadapannya.
“Dengarkan. Kami mengenal nama Saidi. Kami tahu ia bergerak di wilayah selatan. Kami juga tahu ia bukan orang sembarangan. Tetapi kami belum tahu apa hubunganmu dengan beberapa kejadian yang sedang kami selidiki.”
“Aku tidak tahu apa-apa.”
“Mungkin.”
Komandan membuka buku catatan.
“Dari mana kau datang sebelum ditemukan?”
Tayyeb menjelaskan bahwa ia terpisah dari keluarganya ketika kabut turun. Ia mengikuti suara beberapa orang bersenjata karena mengira mereka bagian dari pasukan yang dikenalnya. Ia tidak mengetahui bahwa mereka telah membawanya semakin jauh dari jalur semula.
Komandan mendengarkan tanpa menyela.
“Apakah ayahmu sedang berada di sekitar sini?”
“Aku tidak tahu.”
“Apakah ia membawa sesuatu dari Manipi?”
Pertanyaan itu membuat Tayyeb sedikit terkejut.
Ia teringat surat kecil yang selama ini disimpannya.
Namun, ia segera mengalihkan pandangan.
“Tidak tahu.”
Komandan memperhatikan perubahan wajahnya, tetapi belum mendesak.
“Baik. Kita akan bicara lagi nanti.”
Ia berdiri, lalu memberikan perintah kepada lelaki yang membawanya.
“Pastikan anak ini mendapat tempat istirahat. Jangan perlakukan dia seperti tawanan perang.”
Tayyeb mengangkat kepala.
“Kalau begitu, kapan aku boleh pulang?”
Komandan berhenti di ambang pintu.
“Ketika urusan kita selesai.”
“Urusan apa?”
Lelaki itu menoleh.
“Urusan yang mungkin juga menyangkut keselamatan ayahmu.”
Pintu tertutup.
Tayyeb kembali sendirian.
Kalimat terakhir itu terus berputar di kepalanya.
Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa berada di tangan Pasukan Momok mungkin jauh lebih berbahaya daripada sekadar ditahan. Mereka tidak sedang mencari kesalahannya. Mereka sedang mencari sesuatu yang berhubungan dengan Saidi.
Dan ia mulai takut bahwa sesuatu itu ada padanya.
***
Menjelang petang, seorang anggota pasukan datang membawa pakaian kering.
“Ganti pakaianmu. Yang itu sudah terlalu basah.”
Tayyeb menerima baju tersebut.
Lelaki itu menunjuk sebuah ruangan kecil di belakang bangunan.
“Kau bisa berganti di sana.”