SAIDI

Mappamancu
Chapter #13

Nama yang harus di eksekusi

 “Jadi, kau datang ke sini membawa surat ini?” Suara komandan terdengar tegas, memcah kesunyian malam itu. Ia memandang surat itu sekali lagi, kemudian memandang Tayyeb.

Tayyeb mengangguk, meskipun ia sendiri tidak memahami maksud pertanyaan itu.

Komandan menoleh kepada kepala staf.

“Lihat ini. Anak Saidi datang langsung membawa surat yang selama ini kita cari.”

Kepala staf mengambil kertas itu. Ia memeriksa tanda pengirim, rangkaian kode, dan lipatan khusus di bagian bawah.

“Ini memang surat dari Luwu.”

Komandan mengangguk.

“Kurir kita tidak berhasil menyampaikannya. Jalur pengiriman mungkin sudah diketahui pihak lain. Tetapi anak ini secara rahasia diperintahkan ayahnya membawa surat itu sampai ke markas.”

Tayyeb mengerutkan kening.

“Aku tidak mengantarkannya. Aku menemukannya.”

Komandan tersenyum tipis.

“Kadang-kadang, orang yang paling berjasa tidak menyadari apa yang sedang dilakukannya.”

“Tapi aku tersesat.”

“Dan akhirnya tiba di tempat yang tepat.”

Komandan menepuk bahu Tayyeb.

“Kau berani, Nak. Tidak semua orang seusiamu sanggup membawa pesan sepenting ini melewati jalur yang tidak aman.”

Tayyeb tidak membalas senyum itu.

Ia ingin menjelaskan sekali lagi bahwa ia tidak pernah berniat datang ke markas tersebut. Ia bahkan tidak tahu bahwa surat itu sedang dicari. Namun, pujian komandan membuatnya terdiam. Ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa bangga.

Untuk sesaat, ia membayangkan bagaimana jika Saidi mengetahui hal ini.

Mungkin ayahnya akan menganggap ia sudah cukup dewasa untuk dipercaya.

Mungkin ia tidak lagi hanya menjadi anak yang dilarang keluar rumah.

Namun, kebanggaan itu segera surut ketika melihat wajah kepala staf.

Lelaki itu tidak tampak lega. Ia justru semakin serius setelah membaca bagian tengah surat.

“Komandan,” katanya pelan.

Komandan menoleh.

“Ada apa?”

“Sepertinya ada persoalan lain, setelah kami memcahkan semua kode dan sandi yang ada dalam surat.”

***

Komandan mengambil kembali surat itu serta kertas lain yang berisi terjemahan dari kode dan sandi yang ada pada surat.

Kali ini ia membaca setiap baris dengan lebih teliti. Ia tidak lagi memperhatikan Tayyeb, tidak pula menanggapi pertanyaan anggota pasukan yang berdiri di dekat meja.

Jari telunjuknya berhenti pada satu bagian. Ia membaca kalimat tersebut sekali lagi.

Kemudian ia memeriksa tanda pengesahan di bagian bawah.

“Bacakan bagian itu,” katanya.

Kepala staf mendekat.

“Bagian yang mana?”

“Perintah khusus.”

Kepala staf mengikuti arah telunjuk komandan. Ia membaca beberapa baris dalam diam, lalu wajahnya berubah.

“Ini perintah eksekusi.”

Ruangan seketika hening. Tayyeb menatap mereka bergantian.

“Eksekusi siapa?”

Tidak ada yang menjawab.

Komandan mengangkat tangan, meminta semua orang diam. Ia memeriksa bagian surat yang memuat identitas orang yang dimaksud.

“Pengkhianat di wilayah Selatan,” katanya akhirnya.

Kepala staf mengangguk.

Lihat selengkapnya