Tayyeb tidak tidur malam itu.
Ia duduk di sudut ruangan dengan kedua lutut tertekuk, memandangi lantai papan yang diterangi cahaya lampu minyak. Dari luar terdengar langkah para penjaga yang bergantian melintasi halaman. Sesekali suara percakapan terdengar, lalu menghilang ditelan malam.
Di atas meja, surat dari Luwu masih tersimpan dalam map yang dibawa komandan.
Tayyeb tahu benda itu ada di sana.
Ia juga tahu bahwa beberapa baris di dalamnya adalah perintah hukuman mati kepada ayahnya.
Bayangan Saidi terus muncul dalam pikirannya. Ia mengingat bekas luka di dekat pelipis ayahnya, cara lelaki itu menundukkan kepala ketika berbicara kepada orang yang lebih tua, dan tubuhnya yang sedang-sedang saja. Semua ciri yang dibacakan kepala staf cocok.
Terlalu cocok.
Tayyeb menutup wajah dengan kedua tangan.
Ia seharusnya tidak menyimpan surat itu.
Seandainya sejak awal ia mengembalikannya kepada Saidi, mungkin surat tersebut sudah sampai kepada orang yang berhak menerimanya. Mungkin ayahnya sempat menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Mungkin tidak ada seorang pun yang akan mengira bahwa Saidi adalah pengkhianat.
Namun, ia justru menyembunyikannya.
Ia bahkan sempat merasa bangga karena memiliki sesuatu yang dianggap penting dalam perjuangan.
Kini kebanggaan itu terasa seperti kebodohan.
“Ayah...” bisiknya.
Tidak ada jawaban selain bunyi angin yang menyusup melalui celah dinding.
Tayyeb berdiri. Ia berjalan menuju pintu, mengintip melalui celah kecil, lalu melihat seorang penjaga duduk di bangku dekat halaman.
Ia harus keluar.
Ia harus menemukan Saidi sebelum orang-orang itu lebih dahulu menemukannya.
Tayyeb membuka pintu perlahan.
“Ke mana kau?”
Suara penjaga membuatnya berhenti.
“Aku mau mencari air.”
“Di dalam ada kendi.”
“Aku mau keluar sebentar.”
Penjaga itu bangkit.
“Tidak boleh.”
“Aku bukan tawanan!”
“Perintah komandan. Kau harus tetap di sini.”
Tayyeb menatapnya dengan marah.
“Aku harus menemui ayahku!”
“Duduklah. Jangan membuat masalah.”
“Ayahku akan dibunuh karena surat itu!”
Penjaga itu terdiam sesaat. Ia kemudian mendekat dan menurunkan suaranya.
“Dengarkan, Nak. Tidak ada yang akan membunuh ayahmu sebelum komandan memastikan isi surat tersebut.”
“Tapi kalian sudah membaca perintahnya!”
“Itulah sebabnya surat itu sedang diperiksa.”
Tayyeb menggeleng keras.
“Kalian tidak mengerti. Ayahku bukan pengkhianat.”
Penjaga itu tidak membantah. Ia hanya mengarahkan Tayyeb kembali ke dalam ruangan.
Pintu ditutup.
Tayyeb kembali duduk, tetapi kali ini ia tidak mampu menahan air matanya.
Ia tidak menangis keras. Hanya beberapa tetes yang jatuh di punggung tangannya. Ada sesuatu yang lebih menyakitkan daripada ketakutan akan kehilangan ayah: kesadaran bahwa dirinya mungkin telah menjadi jalan yang membawa kematian itu mendekat.
Ia teringat bagaimana Saidi selalu mengingatkannya agar tidak mengambil keputusan hanya karena ingin dianggap berani.
Dulu ia menganggap nasihat itu sebagai larangan.
Kini ia memahami bahwa keberanian tanpa pengetahuan bisa berubah menjadi bencana.
***
Di ruang utama markas, komandan belum beranjak dari meja.
Peta wilayah Manipi terbentang di hadapannya. Sebuah lampu minyak diletakkan di sudut meja, menerangi surat dari Luwu yang sejak tadi menjadi sumber kegelisahan.
Kepala staf berdiri di sampingnya.
“Perintah itu harus kita tindak lanjuti,” katanya.
“Tidak sebelum identitas target dipastikan.”
“Ciri-cirinya hampir seluruhnya cocok dengan Saidi.”
Komandan mengangkat mata.
“Hampir bukan berarti seluruhnya.”
Kepala staf terdiam.
Komandan mengambil surat itu, membukanya kembali, lalu membaca bagian yang memuat ciri fisik target. Ia berhenti pada beberapa tanda kecil di bagian bawah.
“Apakah kau yakin seluruh kode telah diterjemahkan?”
“Sudah diperiksa dua kali.”
“Dua kali oleh siapa?”
Kepala staf menyebutkan nama dua orang yang sebelumnya bertugas memeriksa pesan tersebut.
Komandan menghela napas.
“Panggil ahli sandi yang lain.”
“Sekarang?”
“Sekarang.”
Beberapa menit kemudian, seorang lelaki kurus berusia sekitar lima puluh tahun masuk ke ruangan. Rambutnya mulai memutih, sementara kacamata bundar bertengger rendah di hidungnya. Ia dikenal sebagai salah satu orang yang paling teliti dalam membaca pesan-pesan berkode di jaringan mereka.
Namanya Daeng Rukka.
Ia tidak banyak bicara. Setelah menerima surat dari komandan, ia langsung duduk dan mengeluarkan selembar kertas kosong.
“Bagian mana yang dianggap belum jelas?” tanyanya.
Komandan menunjuk uraian identitas target.
“Surat ini memerintahkan eksekusi seseorang di wilayah Manipi. Ciri-cirinya menyerupai seorang anggota kita bernama Saidi.”
Daeng Rukka membaca surat itu perlahan.
Ia memeriksa setiap tanda, angka, dan rangkaian huruf. Sesekali ia memiringkan kertas ke arah lampu minyak, lalu mencatat sesuatu di kertas lain.
“Siapa yang menerjemahkan sebelumnya?”
Kepala staf menjawab.
Daeng Rukka mengangguk, tetapi tidak memberikan komentar.
Ia kembali memeriksa bagian bawah surat.
Beberapa saat kemudian, tangannya berhenti pada sebuah tanda kecil yang nyaris tertutup lipatan.
“Ini apa?”
Kepala staf mendekat.
“Tanda pengenal pengirim.”
“Bukan. Ada kode tambahan di sini.”
Komandan berdiri.
“Kode tambahan?”
Daeng Rukka mengangguk.
“Bagian ini tidak diterjemahkan dalam pemeriksaan sebelumnya.”
Ia menunjuk rangkaian simbol yang terletak di bawah uraian ciri fisik.
“Orang yang membaca surat ini tampaknya hanya berfokus pada perintah dan keterangan fisik. Padahal, ada satu petunjuk yang menentukan identitas target.”
Komandan mendekat.
“Bisa kau baca?”
“Beri saya waktu.”