SAIDI

Mappamancu
Chapter #15

Di Antara Dua Moncong Senapan

Tidak ada seorang pun yang bergerak.

Di halaman markas Momok, malam seolah berhenti pada satu tarikan napas yang terlalu panjang. Puluhan laras senapan mengarah ke tubuh orang-orang yang berdiri berhadapan. Di satu sisi, pasukan TNI memenuhi pintu masuk dan halaman depan. Di sisi lain, para anggota Momok telah mengambil posisi berlindung di balik dinding, tiang rumah, dan tumpukan kayu. Jari-jari mereka berada dekat pelatuk. Beberapa senjata sudah terkokang.

Di antara dua kekuatan itu, Saiful berdiri dengan wajah yang sulit dibaca.

Tayyeb masih berada di dalam ruangan ketika suara penjaga tadi mengguncang seluruh markas. Ia sempat mengira kedatangan pasukan TNI itu merupakan serangan mendadak. Namun, ketika ia melihat sosok yang berdiri di ambang pintu bersama mereka, pikirannya mendadak kosong.

Paman Saiful.

Orang yang namanya baru saja dibicarakan sebagai sasaran perintah eksekusi dalam surat dari Luwu. Orang yang menurut keterangan para anggota Momok adalah sahabat dekat ayahnya. Orang yang kedatangannya bersama pasukan TNI justru membuat semua orang di markas itu mengarahkan senjata kepadanya.

Tayyeb belum sempat memahami apa yang sedang terjadi ketika terdengar suara langkah dari arah belakang markas.

Seseorang muncul dari balik kegelapan.

Tubuhnya basah oleh embun dan lumpur. Napasnya berat, seolah baru saja menempuh perjalanan panjang. Senapan tergantung di bahunya, sementara tangannya masih menggenggam tali tas yang melintang di dada.

Tayyeb mengenali cara orang itu berjalan sebelum wajahnya benar-benar terlihat.

“Ayah...”

Suara itu keluar begitu pelan, nyaris tenggelam oleh desir angin malam.

Saidi.

Untuk sesaat, Tayyeb lupa bahwa dirinya berada di tengah senapan yang saling mengancam. Ia lupa bahwa beberapa jam sebelumnya ia tersesat di tengah kabut, tidak tahu apakah masih akan menemukan jalan pulang. Ia juga lupa bahwa surat yang dibawanya telah menyeretnya ke dalam sebuah perkara yang jauh lebih besar daripada yang sanggup dipahaminya.

Yang dilihatnya hanya ayahnya.

Saidi menoleh setelah mendengar suara itu. Matanya mencari sumber panggilan di antara orang-orang bersenjata. Ketika pandangannya menemukan Tayyeb, langkahnya terhenti.

Ada sesuatu yang bergerak di wajahnya. Kelegaan yang begitu besar, tetapi bercampur dengan rasa takut yang belum sempat reda. Ia ingin mendekat, memeluk anaknya, memastikan bahwa tubuh yang berdiri di sana benar-benar utuh. Namun, keadaan tidak memberinya kesempatan.

“Jangan bergerak!” bentak seseorang dari arah pasukan TNI.

Pada saat bersamaan, seorang anggota Momok mengangkat senapannya lebih tinggi.

“Turunkan senjata kalian!”

Perintah itu disambut dengan gerakan serentak. Beberapa laras senapan TNI bergeser ke arah jendela markas. Para anggota Momok membalasnya dengan mengarahkan senjata ke pintu masuk.

Saidi berdiri di antara mereka.

Ia hanya beberapa langkah dari Tayyeb, tetapi jarak itu terasa seperti jurang yang tidak mungkin diseberangi. Satu gerakan yang keliru dapat membuat peluru pertama melesat, disusul puluhan peluru lainnya.

“Ayah!” Tayyeb kembali memanggil.

Saidi mengangkat sebelah tangannya, memberi isyarat agar anaknya tetap berada di tempat.

“Jangan mendekat, Tayyeb!”

Tayyeb ingin membantah. Ia ingin berlari menghampiri ayahnya, tetapi seorang anggota Momok menahan bahunya.

“Diam di situ!”

Saidi melihat tangan yang mencengkeram putranya. Rahangnya mengeras. Akan tetapi, ia tidak mengangkat senjata. Ia tahu bahwa dalam keadaan seperti itu, bahkan gerakan kecil dapat menjadi alasan bagi seseorang untuk melepaskan tembakan.

Di halaman itu, kerinduan seorang ayah dan anak harus menunggu di bawah ancaman moncong senapan.

***

Saidi kemudian mengalihkan pandangan kepada lelaki yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.

Saiful.

Mereka telah melewati terlalu banyak hal bersama untuk menganggap satu sama lain sebagai sekadar kawan seperjuangan. Pernah ada masa ketika keduanya berbagi makanan terakhir di tengah hutan, saling menjaga saat tidur bergantian, dan mempertaruhkan nyawa demi memastikan sahabatnya tidak tertinggal di medan pertempuran.

Saidi mengenal suara Saiful ketika tertawa, mengenali kebiasaannya mengusap dagu ketika sedang berpikir, bahkan tahu bagaimana sahabatnya itu akan diam ketika menyimpan sesuatu yang berat di dalam hati. Sesaat dia berpikir, kedekatan yang begitu lekat diantara mereka membuat banyak orang berpikir mereka bagai saudara kembar.

Namun malam ini, Saiful berdiri bersama pasukan yang selama bertahun-tahun mereka hadapi sebagai musuh.

Lebih dari itu, kedatangannya telah membawa ancaman langsung ke markas tempat Tayyeb berada.

Saidi menatapnya lama. Ada begitu banyak pertanyaan yang berdesakan di dalam kepalanya, tetapi satu hal terasa lebih menyakitkan daripada semuanya: kemungkinan bahwa persahabatan yang selama ini ia jaga ternyata tidak berarti apa-apa bagi lelaki di hadapannya.

“Saiful...” panggilnya.

Tidak ada jawaban.

“Kau datang bersama mereka?”

Saiful tetap diam.

Saidi melirik pasukan TNI yang berdiri di belakang sahabatnya, kemudian menoleh ke arah anggota Momok yang mulai merapatkan barisan. Ia kembali menatap Saiful.

“Untuk apa kau membawa mereka kemari?”

Angin malam bergerak melewati halaman. Lampu minyak di beranda bergoyang, membuat bayangan tubuh mereka memanjang dan patah-patah di atas tanah.

“Jawab aku, Saiful.”

Suaranya mulai bergetar.

“Apa yang sebenarnya kau inginkan?”

Saiful tidak menjawab. Wajahnya tetap menghadap Saidi, tetapi cahaya lampu yang lemah tidak cukup untuk memperlihatkan apa yang sedang bergejolak di balik tatapannya.

Saidi melangkah setengah tapak.

Lihat selengkapnya