SAIDI

Mappamancu
Chapter #16

Pengkhianat yang Menyelamatkan

Tembakan belum berhenti.

Halaman markas Momok telah berubah menjadi kekacauan. Asap mesiu mengambang rendah, bercampur kabut malam yang merayap dari pepohonan. Orang-orang berteriak mencari perlindungan. Senapan-senapan meletus dari balik dinding dan barisan pohon, sementara serpihan kayu berhamburan setiap kali peluru menghantam bangunan.

Di tengah semua itu, Saidi masih memandang tubuh Saiful.

Sahabatnya tergeletak beberapa langkah dari tempat ia berlindung. Senjata yang tadi dikokangnya terpisah dari genggaman. Darah mengalir di tanah, perlahan melebar di antara lumpur dan dedaunan basah.

Seseorang menarik lengan Saidi.

“Jangan keluar! Mereka masih menembak!”

Saidi menepis tangan itu.

“Lepaskan!”

“Saidi, kau akan mati!”

Namun ia tidak lagi mendengar peringatan tersebut. Dalam pandangannya hanya ada Saiful, lelaki yang beberapa saat sebelumnya ia tuduh telah mengkhianati persahabatan mereka. Lelaki yang telah berbagi hidup dengannya di tengah hutan, tetapi malam ini justru datang bersama pasukan TNI.

Saidi masih menyimpan kemarahan. Masih ada luka yang belum terjawab. Bahkan ketika melihat sahabatnya terbaring, sebagian dirinya belum mampu menerima bahwa Saiful mungkin telah memilih jalan yang berlawanan dengan perjuangan mereka.

Tetapi ada sesuatu yang lebih tua daripada kemarahan itu.

Persahabatan.

Ia tidak mungkin membiarkan Saiful mati begitu saja di tengah halaman, tanpa berusaha menolongnya. Apa pun kesalahan sahabatnya, apa pun pengkhianatan yang mungkin telah dilakukannya, Saiful tetap orang yang pernah mempertaruhkan nyawa demi dirinya.

“Saiful!”

Saidi mulai merangkak keluar dari balik tumpukan kayu.

Peluru menghantam tanah tidak jauh dari tangannya. Ia menundukkan kepala, menahan napas, lalu terus bergerak. Kedua telapak tangannya bergesekan dengan tanah basah. Sebilah kayu patah menusuk kulit di dekat ibu jarinya, tetapi ia tidak berhenti.

“Saidi! Kembali!”

Teriakan itu tenggelam oleh letusan senapan.

Ia merangkak melewati pecahan papan, kemudian berhenti sejenak ketika rentetan tembakan menghantam tiang beranda. Debu dan serpihan kayu jatuh di punggungnya.

Di belakangnya, Tayyeb melihat ayahnya bergerak menuju tubuh Saiful.

“Ayah! Jangan!”

Tayyeb berusaha melepaskan diri dari orang yang menahannya. Namun seorang anggota Momok justru memaksanya tetap berlindung.

“Jangan bodoh! Kau akan terkena peluru!”

“Ayahku di sana!”

Saidi tidak menoleh.

Ia telah terlalu dekat untuk kembali.

Ketika akhirnya mencapai tubuh Saiful, ia segera membalikkan sahabatnya dengan hati-hati. Wajah Saiful pucat. Napasnya tersengal, sementara darah merembes dari bagian tubuh yang terkena tembakan.

“Saiful...”

Saidi mengguncang bahunya perlahan.

“Saiful, dengar aku.”

Kelopak mata lelaki itu bergerak.

Sangat lemah, tetapi cukup untuk membuat Saidi mendekatkan wajahnya.

“Kau masih hidup,” bisiknya. “Tahanlah. Aku akan membawamu keluar dari sini.”

Saiful berusaha mengangkat tangannya. Jemarinya gemetar, lalu mencengkeram lengan Saidi.

“Jangan...” Suaranya hampir tidak terdengar.

“Jangan bicara dulu.”

Saidi mencoba mengangkat tubuhnya.

Namun Saiful menahan.

“Dengarkan... aku.”

Saidi berhenti.

Untuk pertama kalinya sejak tembakan meletus, ia melihat sesuatu yang berbeda di mata sahabatnya. Bukan kebencian. Bukan pula kepuasan seorang pengkhianat yang berhasil menjerat lawannya.

Melainkan kesedihan.

Kesedihan yang begitu dalam hingga membuat Saidi merasa seolah-olah ada sesuatu yang telah lama disembunyikan di balik senyum dingin tadi.

***

“Kenapa kau membawa mereka?” tanya Saidi, suaranya bergetar. “Kenapa, Saiful?”

Saiful berusaha menarik napas.

“Obat... Kartini...”

Saidi terdiam.

Nama anaknya itu terdengar begitu asing di tengah suara tembakan. Ia menatap Saiful, mencoba memahami apa yang baru saja didengarnya.

“Apa?”

Saiful menelan ludah. Bibirnya bergetar sebelum kembali terbuka.

“Aku tahu... anakmu sakit.”

Dada Saidi seolah dihantam sesuatu.

“Dari mana kau tahu?”

“Orang-orang di Manipi... mendengar kau mencari obat. Mereka tahu kau akan melewati jalur itu.”

Saidi tidak menjawab.

Saiful memejamkan mata sebentar, mengumpulkan sisa tenaga yang masih dimilikinya.

“Aku tahu kau tidak punya jalan lain. Kartini membutuhkan obat. Kalau kau tertangkap saat melewati pemeriksaan, kau tidak akan pernah sampai ke Manipi.”

Saidi menatap wajah sahabatnya.

“Jadi...?”

“Aku mencari jalan.”

Suara tembakan kembali terdengar, kali ini lebih dekat. Saiful meringis ketika tubuhnya bergerak sedikit. Saidi segera menahan bahunya.

“Jangan bergerak. Kita harus keluar dari sini.”

Saiful menggeleng lemah.

“Dengarkan dulu.”

Saidi menunduk lebih dekat.

“Aku punya beberapa kenalan di jaringan TNI. Bukan semua orang di sana ingin melihat kita mati. Ada yang bersedia membantu... selama tidak ada yang tahu.”

Saidi mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

“Aku mengatur agar kau bisa melewati Manipi. Agar kau bisa mendapatkan obat untuk Kartini tanpa harus menghadapi pemeriksaan yang akan mengenalimu.”

Saidi seperti kehilangan kata-kata.

Selama ini ia mengira jalan menuju Manipi telah terbuka karena keberuntungan. Ia tidak tahu ada seseorang yang diam-diam menyingkirkan sebagian rintangan di hadapannya. Ia tidak tahu bahwa di balik kesempatan yang ia dapatkan untuk mencari obat, ada sahabatnya yang mempertaruhkan keselamatan sendiri.

“Tapi bagaimana mereka tahu kau anggota pasukan kami?”

Saiful menatapnya.

“Aku ketahuan.”

Ia berhenti untuk mengatur napas.

“Mereka menangkapku sebelum semuanya selesai. Mereka tahu aku bagian dari pasukan pemberontak. Aku tidak bisa lagi bergerak bebas. Mereka memaksaku menjadi penunjuk jalan.”

Saidi menatapnya tanpa berkedip.

“Jadi kau ditangkap?”

Saiful mengangguk pelan.

“Mereka membawaku bersama pasukan yang datang kemari. Aku tidak bisa menolak. Kalau menolak, mereka akan membunuhku di tempat. Kalau melawan, aku tidak akan pernah bisa menyampaikan apa pun kepadamu.”

Saidi mulai memahami.

Bukan seluruhnya, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.

“Kau datang bersama mereka karena dipaksa?”

“Ya.”

“Lalu surat itu? Perintah untuk mengeksekusimu?”

Saiful tersenyum samar. Kali ini bukan senyum dingin yang tadi dilihat Saidi, melainkan senyum seorang lelaki yang telah terlalu lama menanggung sesuatu sendirian.

“Mereka sudah tahu namaku. Ada orang yang ingin memastikan aku tidak pernah kembali.”

“Siapa?”

Saiful menggeleng.

“Aku belum tahu semuanya.”

Saidi memandangnya lama.

“Kenapa kau tidak memberitahuku?”

Saiful menghela napas pendek.

“Karena kau akan mencoba menolongku. Dan aku tidak ingin kau mengorbankan kesempatan Kartini mendapatkan obat.”

Kalimat itu membuat Saidi tertunduk.

Ia teringat bagaimana tadi ia menatap Saiful dengan air mata kemarahan. Bagaimana ia menuduh sahabatnya mengkhianati perjuangan. Bagaimana ia meminta jawaban dengan suara yang nyaris memohon, tetapi Saiful hanya membalasnya dengan senyum yang tak ia mengerti.

“Waktu kau mengokang senjata tadi...” Saidi menatapnya. “Apa yang hendak kau lakukan?”

Saiful berusaha mengangkat wajah.

Lihat selengkapnya