SAIDI

Mappamancu
Chapter #17

Desis Lirih Perut Bumi

Gemuruh air Sungai Tanggara masih terdengar dari lorong di sebelah kanan. Sesekali, tetesan air jatuh dari langit-langit gua dan pecah di atas batu, menghasilkan bunyi kecil yang terasa begitu jelas di tengah kesunyian.

Saidi berdiri dengan satu tangan bertumpu pada meja kayu.

Tubuhnya belum pulih. Pakaian yang melekat di badan basah kuyup, beberapa bagian robek akibat benturan dengan bebatuan. Kepalanya masih terasa berat, sementara rasa nyeri menjalar dari bahu hingga punggung. Setiap kali menarik napas dalam-dalam, dadanya seperti ditusuk sesuatu.

Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan kegelisahan yang kini memenuhi pikirannya.

Di hadapannya terdapat sebuah pemancar radio militer yang masih menyala. Kabel-kabelnya terhubung ke baterai besar, sementara sebuah antena pendek dipasang pada dinding batu. Di samping perangkat utama terdapat radio penerima, beberapa buku catatan, dan lembaran kertas berisi angka-angka yang ditulis dengan tulisan tangan berbeda.

Tempat ini bukan gua biasa.

Seseorang telah menjadikannya pusat komunikasi tersembunyi.

Saidi mendekat ke meja. Ia melihat beberapa catatan frekuensi, sebagian ditandai dengan simbol silang, sebagian lainnya diberi lingkaran merah. Pada peta yang terbentang di atas meja, garis-garis penghubung membentang dari kawasan Manipi menuju Bonto Cani, kemudian bercabang ke wilayah yang lebih jauh.

Beberapa titik diberi tanda kecil.

Ia mengenali nama-nama tempat itu.

Wilayah-wilayah yang selama ini menjadi jalur pergerakan pasukan, tempat persembunyian kurir, dan lokasi pertempuran yang tidak pernah benar-benar selesai.

Saidi mengerutkan kening.

Siapa yang menggunakan tempat ini?

Ia mendekati radio yang mengeluarkan suara desis. Ada suara laki-laki yang terdengar samar dari pengeras suara, disusul kalimat yang membuatnya berhenti bergerak.

“...perjuangan tidak boleh berhenti hanya karena tekanan musuh. Barisan harus tetap teguh. Jangan biarkan pengorbanan saudara-saudara kita menjadi sia-sia...”

Saidi mendengarkan lebih saksama.

Suara itu terasa dikenal.

Bukan karena ia sering mendengarnya secara langsung, melainkan karena suara tersebut telah berulang kali diperdengarkan dalam pertemuan-pertemuan pasukan. Suara yang memiliki tekanan khas, tegas, dan mampu membuat orang-orang yang mendengarnya merasa sedang berhadapan langsung dengan pemimpin mereka.

Kahar Muzakkar.

Saidi mendekatkan wajah ke radio.

Suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas.

“...kekuatan kita tidak terletak pada banyaknya senjata, tetapi pada keteguhan orang-orang yang tetap bertahan ketika dunia menganggap perjuangan ini telah berakhir.”

Saidi terdiam.

Ia pernah mendengar potongan pidato serupa dari pengeras suara di sebuah pertemuan gerilyawan. Saat itu, beberapa orang berdiri dengan wajah bersemangat, sementara yang lain mengangkat tangan dan meneriakkan takbir.

Namun ada sesuatu yang terasa ganjil.

Suara tersebut terdengar terlalu bersih untuk sebuah komunikasi langsung dari tengah hutan. Tidak ada suara orang lain, tidak ada gangguan percakapan, bahkan jeda-jedanya terdengar teratur.

Saidi memperhatikan perangkat itu.

Di bawah radio terdapat sebuah alat pemutar rekaman. Sebuah piringan kecil berputar perlahan, menggerakkan jarum pada permukaannya. Di sampingnya ada beberapa gulungan pita dan kotak penyimpan rekaman.

Ia mulai memahami.

Suara itu bukan sedang berbicara kepada seseorang di dalam gua.

Itu adalah rekaman.

Pidato lama Kahar Muzakkar yang diputar ulang.

Saidi menatap perangkat tersebut dengan perasaan campur aduk. Selama ini, ia membayangkan pemimpin mereka hanya dapat didengar melalui kabar yang dibawa para kurir, surat berkode, atau pesan yang disampaikan dari satu markas ke markas lain. Kini, suara itu seolah hadir dari balik dinding batu, menjangkau para gerilyawan yang tersebar di pegunungan.

Tetapi mengapa harus disembunyikan sedemikian rupa?

Dan siapa yang mengendalikan pemancar ini?

***

Saidi mengalihkan pandangan ke buku catatan di atas meja.

Halaman pertamanya berisi daftar frekuensi, waktu pemantauan, serta beberapa kode yang tidak sepenuhnya ia pahami. Di halaman berikutnya terdapat catatan mengenai pergerakan pasukan TNI. Ada laporan tentang patroli, pergantian penjagaan, dan komunikasi antarpos yang dicatat dengan tanggal serta jam tertentu.

Beberapa laporan diberi tanda khusus.

Saidi mengenali salah satu nama yang tertulis di sana: Manipi.

Di sampingnya terdapat catatan singkat mengenai pemeriksaan jalur, pergerakan kendaraan, dan perubahan penjagaan. Informasi itu tampaknya dikumpulkan dari percakapan radio militer yang berhasil disadap.

Saidi merasakan tengkuknya menegang.

Jadi, gua ini bukan sekadar tempat untuk memancarkan propaganda. Ada sesuatu yang jauh lebih penting sedang dilakukan di sini.

Mereka mendengarkan komunikasi TNI.

Mereka menyadap frekuensi yang digunakan pasukan pemerintah untuk memantau pergerakan, menyusun pengamanan, dan mengatur operasi. Informasi yang diperoleh kemudian dicatat dan kemungkinan diteruskan kepada jaringan gerilyawan di berbagai wilayah.

Ia kembali menatap peta.

Garis-garis itu bukan jalur biasa. Beberapa menghubungkan tempat-tempat yang selama ini menjadi titik penting dalam pergerakan pasukan Sektor Selatan. Ada pula tanda yang mengarah ke kawasan Luwu.

Saidi teringat surat rahasia yang sempat ditemukan Tayyeb. Surat yang hampir membuatnya percaya bahwa dirinya sendiri telah menjadi sasaran eksekusi. Surat yang kemudian mengungkap nama Saiful sebagai orang yang harus disingkirkan.

Apakah pemancar ini berkaitan dengan surat tersebut?

Ia memeriksa halaman berikutnya.

Di sana terdapat beberapa nama dengan tanda silang. Sebagian diberi keterangan singkat, sebagian lainnya hanya berupa kode. Ia tidak mengenali semuanya, tetapi satu hal mulai terlihat jelas: orang-orang yang mengelola tempat ini memiliki informasi yang tidak diketahui oleh banyak anggota pasukan.

Bahkan mungkin tidak diketahui oleh para komandan mereka sendiri.

Saidi mengangkat kepala ketika suara rekaman kembali terdengar.

“...jangan menunggu perintah dari tempat yang jauh untuk mempertahankan wilayah yang menjadi tanggung jawab kalian. Setiap sektor harus mampu menjaga kekuatannya sendiri. Setiap komandan harus memahami keadaan di wilayahnya, sebab merekalah yang paling mengetahui ancaman yang datang...”

Saidi mendengarkan kalimat itu sampai selesai.

Lihat selengkapnya