SAIDI

Mappamancu
Chapter #18

Sandera di Kota Bunga

Ujung belati masih menempel di leher Saidi.

Ia tidak bergerak. Kedua tangannya terangkat, sementara tubuhnya berdiri kaku di depan meja pemancar. Orang di belakangnya belum memperlihatkan wajah. Hanya suara napas yang terdengar teratur, seolah pemiliknya tidak sedikit pun terganggu oleh kemungkinan bahwa orang yang sedang ditodongnya adalah seorang prajurit yang baru saja lolos dari kepungan.

“Sekarang, Saidi,” bisik orang itu, “katakan kepadaku... siapa yang memberitahumu tentang Pos Tanggara?”

Saidi menelan ludah.

“Tidak ada.”

“Jangan berdusta.”

“Aku tidak berdusta. Aku bahkan tidak tahu tempat ini ada sebelum terseret masuk ke sini.”

Belati itu sedikit bergeser.

“Lalu bagaimana kau bisa berada di ruangan ini?”

“Aku melompat ke Sungai Tanggara untuk menyelamatkan diri. Arus membawaku masuk melalui lorong bawah air. Ketika sadar, aku sudah berada di sini.”

Orang itu tidak segera menjawab.

“Siapa yang mengirimmu ke sini?” tanyanya.

“Tidak ada yang mengirimku.”

Hening.

Suara air mengalir dari lorong gua, mengisi ruang di antara mereka. Saidi berusaha mengatur napas. Ia tahu satu gerakan yang salah dapat membuat belati itu menembus lehernya. Namun ada sesuatu dalam suara orang tersebut yang terasa tidak asing.

Ia mencoba mengingat.

Cara mengucapkan kata-kata. Tekanan pada beberapa suku kata. Jeda pendek sebelum mengajukan pertanyaan.

“Siapa kau?” Saidi balik bertanya.

“Akulah yang seharusnya bertanya.”

“Aku tidak datang untuk mencari masalah. Aku hanya ingin keluar dari sini.”

Orang itu tertawa pendek.

“Setelah melihat semua yang ada di ruangan ini?”

“Aku tidak punya kepentingan dengan tempat ini.”

“Semua orang punya kepentingan, Saidi. Hanya saja tidak semua orang mau mengakuinya.”

Saidi memejamkan mata sejenak.

“Dengarkan. Aku baru saja kehilangan seorang sahabat. Aku tidak tahu apakah anakku masih selamat. Istriku dan anak-anakku mungkin bahkan tidak tahu apakah aku masih hidup. Aku tidak punya waktu untuk berdebat dengan orang yang tidak kukenal.”

Kali ini, tangan yang memegang belati tampak sedikit mengendur.

“Siapa sahabatmu?”

“Saiful.”

Ada perubahan kecil pada napas orang itu.

“Saiful?”

Saidi mengangguk, meskipun orang di belakangnya tidak dapat melihat gerakan itu dengan jelas.

“Dia mati di markas Momok. Dia mengorbankan dirinya agar aku bisa melarikan diri.”

Belati perlahan menjauh dari lehernya.

Orang itu mundur satu langkah.

“Berbaliklah.”

Saidi melakukannya dengan hati-hati.

Cahaya lampu kecil di sudut ruangan menyentuh wajah lelaki yang berdiri di belakangnya. Tubuhnya kurus, pakaiannya sederhana, dan rambutnya tampak lebih panjang daripada ketika terakhir kali Saidi melihatnya. Sebilah belati masih berada di tangannya.

Saidi tertegun.

“Saenong?”

Lelaki itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Saidi dari kepala hingga kaki, seolah masih berusaha memastikan bahwa orang yang berdiri di hadapannya benar-benar sahabat seperjalanan yang pernah ia kenal.

Keduanya saling memandang beberapa saat.

Kemudian Saenong menurunkan belatinya.

“Demi Allah... bagaimana kau bisa sampai ke sini?”

Saidi mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak terbangun di dalam gua, ia merasa sedikit aman.

“Pertanyaan itu seharusnya kujawab dengan cerita yang panjang.”

Saenong menyimpan belatinya.

“Kalau begitu, duduklah. Sebelum aku kembali mengira kau mata-mata yang dikirim untuk mencari tempat ini.”

***

Saenong mengambil sebuah lampu minyak dan meletakkannya di atas meja. Cahaya yang lebih terang membuat wajah keduanya terlihat jelas.

Saidi duduk dengan susah payah. Tubuhnya masih nyeri akibat terbentur bebatuan ketika terseret arus. Saenong memperhatikan luka di bagian lengan dan dahinya.

“Kau perlu membersihkan luka itu.”

“Tidak terlalu parah.”

“Orang yang baru saja terbawa arus sungai biasanya mengatakan hal yang sama sebelum jatuh pingsan lagi.”

Saidi tidak membantah.

Saenong mengambil kain bersih dan sebuah wadah berisi air. Ia membersihkan luka di lengan Saidi, kemudian meletakkan kain tersebut di dekatnya.

“Sekarang ceritakan dari awal. Jangan ada yang kau sembunyikan.”

Saidi menatap radio yang telah dimatikan.

“Tempat ini milik siapa?”

“Pos pantau.”

“Untuk apa?”

Saenong melirik pintu besi sebelum menjawab.

“Pos radio pantau milik jaringan kami. Tempat ini tidak tercatat dalam jalur komando resmi.”

“Jaringan kalian?”

Saenong menarik kursi, lalu duduk di seberangnya.

“Faksi desentralisasi Tentara Islam Indonesia. Kami menganggap setiap sektor harus memiliki kemampuan untuk memantau keadaan wilayahnya sendiri. Terlalu berbahaya jika semua informasi harus menunggu perintah atau persetujuan dari satu pusat komando.”

Saidi memperhatikan wajahnya.

“Jadi, kalian tidak berada di bawah kendali langsung pusat?”

“Bukan berarti kami memisahkan diri dari perjuangan. Tetapi kami memiliki jalur komunikasi dan pengaturan sendiri untuk menjaga wilayah masing-masing.”

Saenong menunjuk perangkat di atas meja.

“Radio ini digunakan untuk memantau frekuensi TNI. Kami mendengarkan komunikasi mereka, mencatat pergerakan pasukan, dan meneruskan informasi yang dianggap penting kepada jaringan sektor. Tidak semua percakapan bisa kami pahami, tetapi kadang satu kalimat saja cukup untuk mengetahui bahwa sebuah wilayah sedang dalam ancaman.”

Saidi memandang perangkat tersebut.

“Lalu suara Kahar Muzakkar tadi?”

“Rekaman pidato lama. Kami memutarnya pada waktu tertentu untuk siaran internal. Tujuannya menjaga semangat para gerilyawan yang berada jauh dari pusat pergerakan. Mereka perlu mendengar kembali suara pemimpin perjuangan, terutama ketika kabar dari luar semakin sulit diterima.”

Saidi mengangguk pelan.

“Jadi bukan komunikasi langsung?”

“Bukan.”

Saenong menutup sebuah buku catatan.

“Orang yang tidak mengetahui cara kerja tempat ini mungkin mengira pemimpin sedang berbicara langsung dari suatu tempat. Padahal itu rekaman yang sudah disimpan. Kami menggunakannya sebagai penguat semangat, bukan sebagai jalur perintah.”

Saidi kembali memandang peta.

“Kenapa tempat ini harus dirahasiakan bahkan dari sebagian anggota pasukan sendiri?”

“Karena informasi yang dikumpulkan di sini terlalu berharga. Kalau lokasi ini terbongkar, musuh tidak hanya mendapatkan perangkat pemancar. Mereka juga bisa menemukan catatan frekuensi, jaringan penerima informasi, dan nama-nama orang yang selama ini membantu kami.”

Saenong menatapnya lebih tajam.

Lihat selengkapnya