Malino tidak menyambut keluarga Saidi dengan suara tembakan.
Tidak ada tendangan, tidak ada bentakan, apalagi interogasi yang disertai pukulan seperti yang selama ini dibayangkan Sitti dalam perjalanan menuju tempat itu. Yang mereka temukan justru sebuah bangunan besar bercat putih, halaman yang cukup bersih dengan bunga indah bermekaran, beberapa pohon pinus, dan pagar kawat berduri yang memisahkan rumah sakit militer dari jalan utama.
Namun, bagi anak-anak yang tumbuh di tengah perang, pemandangan itu tidak serta-merta menghadirkan ketenangan.
Sitti terus menggenggam tangan Rahman. Anak lelaki itu berjalan dengan kepala tertunduk, sesekali melirik seragam-seragam hijau yang berlalu-lalang di halaman. Setiap kali sepatu lars terdengar menghentak lantai, bahunya menegang. Ia seperti sedang menunggu seseorang merenggut mereka dari belakang.
Muhana berjalan paling depan bersama seorang prajurit yang mengantarkan mereka. Wajahnya menyimpan kelelahan yang sulit disembunyikan. Sejak mereka dibawa turun dari kawasan pegunungan, ia belum memperoleh penjelasan utuh tentang nasib Saidi. Pertanyaan tentang suaminya selalu berakhir dengan jawaban yang sama: belum ada kepastian.
Yang lebih menyakitkan, ia bahkan tidak tahu apakah Saidi masih hidup. Yang dia ingat hanya Saidi pamit dengan tergesa untuk segera menemukan anak sulung mereka Tayyeb yang tiba-tiba menghilang dalam tembak-menembak ditengah kabut.
Di ujung lorong, seorang perawat perempuan menyambut mereka. Usianya mungkin belum genap tiga puluh tahun. Ia mengenakan pakaian putih sederhana dengan rambut yang disanggul rapi.
“Ini keluarganya Pak Saidi?” tanyanya kepada prajurit pengantar.
Prajurit itu mengangguk. “Anaknya yang sakit sudah diperiksa dokter. Sekarang kondisinya lebih baik.”
Muhana segera mendekat.
“Anak saya di mana?”
“Di ruang perawatan, Bu. Mari saya antar.”
Muhana melangkah cepat. Sitti mengikuti, sementara Rahman masih berdiri beberapa detik di tempatnya. Ia menatap perawat itu dengan curiga.
Perempuan tersebut menyadarinya.
“Adik mau ikut melihat kakaknya?” tanyanya lembut.
Rahman tidak menjawab.
“Tidak apa-apa. Di sini tidak ada yang akan memarahi adik.”
Kalimat itu justru membuat Rahman semakin erat menggenggam tangan Sitti. Ia pernah mendengar orang dewasa berkata demikian sebelum sesuatu yang buruk terjadi.
Sitti membungkuk sedikit, menyentuh bahu adiknya.
“Ayo, Man. Kita lihat dek Kartini.”
Barulah Rahman bergerak.
Di ruang perawatan, Kartini terbaring di atas ranjang dengan selimut putih menutupi tubuh kecilnya. Sebuah botol infus tergantung di sisi tempat tidur. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya terdengar lebih teratur daripada ketika terakhir kali Saidi menggendongnya menembus kabut.
Muhana mendekat dan mencium kening putrinya.
“Anakku…”
Kartini membuka mata perlahan. Pandangannya masih lemah, tetapi ia mengenali ibunya.
“Ma…”
Muhana menggenggam jemarinya. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya jatuh juga.
Sitti berdiri di sisi ranjang. Ia menatap selang infus, lalu wajah adiknya. Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, ia melihat Kartini terbaring tanpa tubuhnya menggigil hebat.
“Dia sudah diberi obat, Bu,” kata perawat. “Dokter sedang memantau demamnya. Kami belum bisa mengatakan semuanya sudah aman, tetapi responsnya cukup baik.”
Muhana mengangguk berkali-kali.
“Terima kasih.”
Perawat itu tersenyum tipis. “Ibu istirahat saja. Ibu juga terlihat sangat lelah.”
Namun Muhana tidak segera menjawab. Ia masih memandangi Kartini, seolah takut jika mengalihkan pandangan sedikit saja, putrinya akan kembali direbut penyakit.
Di luar ruangan, seorang prajurit muda berdiri sambil membawa nampan berisi makanan. Ia memperkenalkan diri sebagai Prajurit Darman.
“Untuk anak-anak,” katanya.
Sitti menoleh. Rahman yang berdiri di belakang kakaknya langsung mundur setapak.
Darman menyadarinya. Ia tidak mendekat. Ia hanya meletakkan nampan di bangku dekat pintu.
“Ada nasi, sayur, sama telur. Kalau tidak cocok, nanti saya carikan yang lain.”
Rahman menatap nampan itu, lalu menatap seragam Darman.
“Kenapa?” tanya Darman.
Anak itu tidak menjawab.
“Takut?”
Rahman segera menyembunyikan diri di balik tubuh Sitti.
Darman tidak tersinggung. Ia justru sedikit berjongkok agar wajahnya tidak terlalu tinggi dibandingkan anak itu.
“Dulu saya juga takut kalau melihat orang membawa senapan,” katanya. “Apalagi kalau mereka datang dengan wajah marah.”
Rahman mengintip dari balik bahu kakaknya.
“Tapi Bapak tentara,” ujar Sitti pelan.
“Iya. Saya tentara.”
“Bapak membawa senapan?”
Darman mengangguk.
“Lalu kenapa Bapak baik kepada kami?”
Pertanyaan itu membuat Darman terdiam sejenak. Ia menatap kedua anak itu, kemudian menghela napas.
“Karena kalian anak-anak. Tidak seharusnya anak-anak menanggung semua yang dilakukan orang dewasa.”
Sitti tidak langsung menjawab. Ia tidak tahu apakah kalimat itu benar-benar bisa dipercaya. Namun, untuk pertama kalinya, seorang tentara berbicara kepada mereka bukan untuk bertanya tentang ayahnya, bukan pula untuk mencari tahu keberadaan pasukan di hutan.
Ia hanya menawarkan makanan.
***
Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang tidak pernah dibayangkan Muhana.
Mereka ditempatkan di sebuah ruangan yang berdekatan dengan ruang perawatan Kartini. Tidak ada pintu yang dikunci dari luar. Mereka memang tidak bebas meninggalkan kompleks rumah sakit, tetapi kebutuhan sehari-hari disediakan. Dokter memeriksa Kartini secara berkala. Perawat mengganti cairan infus dan memastikan anak itu memperoleh obat sesuai petunjuk medis.
Komandan yang bertanggung jawab atas kegiatan di Malino beberapa kali datang meninjau keadaan mereka. Namanya Kapten Rasyid.
Ia bukan orang yang banyak bicara. Setiap kali datang, ia lebih sering bertanya kepada dokter tentang perkembangan Kartini daripada mengajukan pertanyaan kepada Muhana.
“Bagaimana kondisinya?”
“Demamnya mulai turun, Kapten. Kami masih perlu mengawasi beberapa hari.”
“Pastikan obatnya tidak terlambat.”
“Siap.”
Pada suatu pagi, Kapten Rasyid datang membawa beberapa potong pakaian anak-anak. Ia meletakkannya di kursi, kemudian berbicara kepada Muhana.
“Pakaian mereka sudah terlalu tipis. Malam di sini dingin. Silakan dipakai.”
Muhana memandangi pakaian itu cukup lama.
“Kenapa Tuan melakukan semua ini?”
Kapten Rasyid tidak segera menjawab. Ia melirik Kartini yang masih tidur.
“Anak itu perlu sembuh, Bu.”
“Apakah kami boleh pulang setelah dia sembuh?”
“Keadaan belum memungkinkan.”
Jawaban itu membuat senyum kecil di wajah Muhana menghilang.
“Jadi kami tetap tidak boleh pergi?”