SAIDI

Mappamancu
Chapter #20

Api yang Membakar Sepi

Muhana tidak pernah merasa sedang menerima kebaikan dari musuh.

Baginya, makanan yang dibawa para prajurit itu bukan tanda persahabatan, apalagi bukti bahwa ia mulai mempercayai mereka. Makanan itu hanya sesuatu yang harus diterima agar anak-anaknya tidak kelaparan. Ia tidak memiliki pilihan lain. Kartini masih terbaring lemah, tubuhnya belum sepenuhnya pulih, sementara Rahman dan Sitti membutuhkan makan setelah berhari-hari hidup dalam ketidakpastian.

Jika menolak makanan hanya karena orang yang memberikannya mengenakan seragam TNI, apa yang akan ia berikan kepada anak-anaknya?

Kebanggaan tidak bisa menurunkan demam Kartini. Kemarahan tidak bisa mengisi perut Rahman. Dan kesetiaan kepada Saidi tidak akan membuat tubuh anak-anaknya lebih kuat menghadapi penyakit.

Muhana memahami itu, meskipun setiap kali menerima sesuatu dari tangan seorang prajurit, ada bagian dalam dirinya yang terasa seperti sedang diuji.

Sore itu, ia duduk di samping ranjang Kartini. Semangkuk bubur hangat berada di pangkuannya. Kartini baru saja membuka mata setelah tidur cukup lama. Bibirnya kering, pipinya masih cekung, dan napasnya belum sepenuhnya teratur.

“Sedikit saja, Nak,” bisik Muhana.

Ia mengambil sesendok bubur, meniupnya perlahan, lalu mendekatkannya ke mulut Kartini.

Kartini berusaha menelan, tetapi tubuhnya terlalu lemah. Sebagian bubur menempel di sudut bibirnya.

Muhana segera membersihkannya dengan kain.

“Tidak apa-apa. Pelan-pelan saja.”

Sitti duduk di sisi lain ranjang. Ia memperhatikan ibunya dengan mata lelah.

“Buburnya dari tentara itu, Bu?”

Muhana mengangguk.

Sitti menunduk. Ia tahu pertanyaan itu bukan sekadar tentang makanan. Ada sesuatu yang belum selesai dalam pikiran kakaknya, sesuatu yang selama ini mereka semua hindari untuk dibicarakan.

“Ibu tidak punya pilihan lain,” kata Muhana akhirnya. “Yang penting Kartini bisa makan.”

“Apakah Bapak tahu kita di sini?”

Muhana terdiam sesaat.

“Ibu tidak tahu.”

“Kalau Bapak datang, apakah mereka akan menangkapnya?”

Pertanyaan itu membuat tangan Muhana berhenti di atas mangkuk.

Ia menatap Sitti. Anak perempuan itu tidak lagi bertanya seperti anak kecil yang sekadar ingin tahu. Ada ketakutan yang mulai tumbuh di matanya, ketakutan yang seharusnya belum perlu dikenal oleh anak seusianya.

“Ibu juga tidak tahu, Nak.”

Muhana kembali menyuapi Kartini.

“Yang harus kita lakukan sekarang adalah membuat adikmu sembuh.”

Di dekat pintu, Rahman sedang memainkan pesawat kayu pemberian Prajurit Darman. Sesekali ia menggerakkan pesawat itu di udara, menirukan suara mesin yang pernah didengarnya. Namun, ketika dua prajurit melintas di lorong dengan langkah cepat, ia langsung menghentikan permainan.

Ia masih takut.

Kebaikan seseorang tidak selalu mampu menghapus ingatan tentang suara tembakan, rumah yang ditinggalkan, dan wajah ayah yang menghilang di balik kabut.

Darman muncul beberapa saat kemudian. Ia membawa segelas air hangat dan sebuah bungkusan kecil.

“Bagaimana keadaan adiknya?”

“Masih lemah,” jawab Sitti.

Darman meletakkan bungkusan itu di meja.

“Ini ada pisang rebus. Kalau nanti dia sudah bisa makan lebih banyak, mungkin bisa dicoba.”

Muhana menoleh.

“Terima kasih, Pak.”

Darman mengangguk. Ia tidak meminta balasan, tidak pula menanyakan keberadaan Saidi. Ia hanya memastikan makanan itu tersedia.

Rahman memperhatikan dari kejauhan.

“Pak Darman,” panggilnya.

Prajurit itu menoleh.

“Ya?”

“Pesawatnya belum selesai.”

Darman tersenyum. “Besok saya buatkan yang lebih bagus.”

Rahman mengangguk kecil, lalu kembali menunduk.

Tidak seorang pun di ruangan itu menyadari bahwa di luar pagar, seseorang sedang memandang mereka dengan hati yang dipenuhi kemarahan.

***

Tayyeb belum bisa menerima pemandangan yang dilihatnya dari tempat pengintaian.

Ia terus mengulang-ulang kejadian itu dalam pikirannya: Muhana menerima makanan dari seorang perwira TNI, Sitti berdiri tanpa ketakutan, Rahman bermain bersama seorang prajurit. Semua itu terasa seperti penghinaan terhadap perjuangan ayahnya.

Baginya, keluarga mereka seharusnya tidak berada di sana.

Mereka seharusnya bersembunyi, bertahan, dan menunggu Saidi kembali. Bukan duduk di dalam kompleks militer, menerima makanan dari orang-orang yang telah memburu ayahnya.

Ia tidak tahu bahwa ibunya menerima makanan itu demi Kartini.

Ia tidak tahu bahwa adiknya masih berjuang melawan penyakit.

Dan ia tidak tahu bahwa Saidi mungkin masih hidup.

Yang ia tahu hanyalah bahwa dirinya harus melakukan sesuatu.

“Kita tidak bisa menyerang seluruh kompleks,” ujar salah seorang anggota Momok yang mendampinginya. “Penjagaan terlalu rapat. Kita harus mencari cara lain.”

Tayyeb menatap bangunan-bangunan di balik pagar.

“Ada gudang di sebelah timur.”

Anggota Momok itu mengamati arah yang ditunjuknya.

“Gudang logistik.”

“Kalau mereka kehilangan persediaan, mereka akan merasakan apa yang selama ini kami rasakan.”

“Kita tidak tahu apa saja yang disimpan di sana.”

Tayyeb tidak menjawab.

Sejak mendengar kabar tentang keluarganya, kemarahannya tumbuh lebih cepat daripada pertimbangannya. Ia tidak lagi berpikir seperti anak yang ingin pulang kepada ibunya. Ia berpikir seperti seorang prajurit yang merasa kehormatan keluarganya telah diinjak-injak.

“Ayahku mungkin sudah mati,” katanya. “Mereka mengambil keluargaku. Sekarang mereka memberi makan keluargaku seolah-olah semua yang terjadi sebelumnya tidak pernah ada.”

“Tidak semua tentara di sana pasti terlibat dalam kematian ayahmu.”

Lihat selengkapnya