Api tidak lagi sekadar melahap sebuah gudang.
Ia telah menjadi monster yang merayap dari satu bangunan ke bangunan lain, menjilat dinding, memecahkan kaca, dan memaksa setiap orang meninggalkan apa pun yang sedang mereka kerjakan. Asap hitam memenuhi lorong rumah sakit militer Malino. Teriakan perintah bercampur dengan jeritan pasien, sementara para prajurit berlarian menyelamatkan orang-orang yang masih terjebak di dalam.
Di tengah kekacauan itu, Muhana kehilangan pegangan.
Tadi ia masih menggenggam tangan Rahman, sementara Sitti berada di dekat ranjang Kartini. Namun, ketika sebagian langit-langit runtuh dan orang-orang berdesakan menuju pintu keluar, dorongan dari belakang membuat mereka terpisah.
“Rahman!”
Muhana menoleh, tetapi asap telah menutupi pandangannya. Ia meraih sesuatu yang bergerak di dekatnya, berharap itu tangan Sitti, tetapi yang berhasil digenggamnya hanya lengan seorang prajurit yang sedang membantu pasien lain.
“Rahman! Sitti!”
Tidak ada jawaban.
Ia berusaha menerobos kerumunan, tetapi seseorang menarik bahunya.
“Jangan ke sana, Bu! Jalur itu sudah tertutup!”
“Anak saya masih di dalam!”
“Kami akan mencarinya!”
Muhana meronta. Ia tidak peduli dengan panas yang mulai terasa di wajahnya. Ia tidak peduli dengan asap yang membuat dadanya sesak. Yang ada di pikirannya hanya anak-anaknya.
“Rahman!”
Di dekat pintu samping, Rahman juga sedang mencari ibunya. Anak itu menangis sambil memeluk pesawat kayu pemberian Darman. Ia sempat melihat Muhana beberapa saat sebelumnya, tetapi tubuh-tubuh yang berdesakan telah memisahkan mereka.
“Ibu!”
Suaranya tenggelam oleh suara runtuhan.
Seorang prajurit mencoba membawanya menjauh dari lorong, tetapi Rahman menolak.
“Ibu saya masih di sana!”
“Dengar, Nak. Kita harus keluar dulu.”
“Tidak! Saya mau Ibu!”
Rahman meronta, membuat prajurit itu kesulitan menahannya. Wajah anak itu penuh jelaga. Matanya merah karena asap dan air mata.
Di tempat lain, Sitti sedang berusaha melindungi Kartini.
Ranjang adiknya sudah tidak mungkin didorong melewati lorong yang dipenuhi orang. Perawat yang semula membantu mereka terpaksa meninggalkan ruangan untuk menolong seorang pasien yang terjatuh di dekat pintu. Sitti kini hanya ditemani Kartini yang masih terlalu lemah untuk berdiri.
Asap masuk semakin pekat.
“Kak…”
Sitti membungkuk mendekati wajah adiknya.
“Iya, Tini. Kakak di sini.”
“Panas…”
Sitti mengusap keningnya. Kartini kembali menggigil, meskipun udara di ruangan itu semakin panas.
“Kita sebentar lagi keluar.”
Ia sendiri tidak tahu bagaimana caranya.
Pintu utama sudah tertutup sebagian oleh reruntuhan. Dari jendela, ia melihat api menjalar di sisi bangunan. Setiap kali angin bertiup, asap menyembur masuk melalui celah-celah kaca yang pecah.
Sitti mulai batuk. Ia menarik kain bajunya untuk menutupi hidung, lalu melakukan hal yang sama pada wajah Kartini.
“Jangan tidur, Tini. Lihat Kakak.”
Kartini membuka mata sebentar.
“Kakak…”
“Iya. Jangan tutup mata.”
Sitti mencoba mengangkat tubuh adiknya, tetapi Kartini terlalu lemah. Ia hanya mampu menggeser sedikit posisi tubuhnya sebelum kembali terjatuh ke tepi ranjang.
Di luar, suara seseorang memanggil mereka.
“Masih ada orang di dalam?”
Sitti berteriak sekuat tenaga.
“Tolong!”
Tidak ada jawaban.
Ia mencoba lagi.
“Tolong! Adik saya sakit!”
Tiba-tiba terdengar bunyi langkah mendekat dari lorong.
Sitti menoleh.
Sosok seorang tentara muncul di balik kepulan asap. Ia mengenakan seragam TNI, helm lapangan, dan kain penutup wajah yang menutupi hampir seluruh bagian bawah wajahnya. Hanya matanya yang terlihat. Di tangannya terdapat kain basah yang sesekali ia gunakan untuk melindungi pernapasan.
Tentara itu segera menghampiri mereka.
“Masih ada dua orang?”
Sitti mengangguk sambil batuk.
“Adik saya tidak bisa berjalan.”
Tentara itu melihat Kartini, kemudian menoleh ke arah pintu yang mulai terbakar.
“Bisa kau berdiri?”
Sitti mencoba bangkit.
“Bisa.”
“Pegang adikmu. Kita harus keluar sekarang.”
Tentara itu mengangkat Kartini dari ranjang. Tubuh kecil itu begitu ringan dalam pelukannya. Ia membungkusnya dengan selimut, lalu menggendongnya erat-erat.
Sitti mengikuti dari belakang.
Mereka baru mencapai ujung lorong ketika terdengar suara gemuruh. Sebuah bagian atap runtuh, membuat debu dan serpihan kayu berhamburan.
Sitti terjatuh.
Tentara itu segera berhenti.
“Berdiri!”
Sitti mencoba bangkit, tetapi kakinya terasa lemas.
“Cepat!”
Ia mengulurkan tangan, membantu Sitti berdiri, lalu kembali menggendong Kartini. Dengan tubuh sedikit membungkuk, ia menerobos bagian lorong yang masih bisa dilewati.
Panas terasa seperti membakar kulit. Asap membuat pandangan semakin kabur. Beberapa kali tentara itu harus berhenti untuk mencari arah, tetapi ia tidak melepaskan Kartini sedikit pun.
Sitti mengikuti bayangan punggungnya.
Di tengah kepanikan itu, ia hanya bisa mempercayai orang asing yang datang menyelamatkan mereka.
***
Di sisi lain bangunan, Muhana masih berusaha mencari Rahman.
Ia sudah beberapa kali ditarik oleh prajurit yang berusaha membawanya keluar. Namun, setiap kali berhasil melepaskan diri, ia kembali menuju lorong yang dipenuhi asap.
“Anak saya belum ditemukan!”
“Bu, tempat ini akan runtuh!”
“Saya tidak akan pergi tanpa anak saya!”
Seorang prajurit mencoba menenangkan Muhana, tetapi suara ledakan dari arah gudang membuat semua orang kembali panik.
Muhana terhuyung. Ia hampir jatuh ketika seseorang menarik lengannya dari belakang.
“Ibu...... !”
Ia menoleh.
Seorang anak lelaki berdiri di hadapannya. Wajahnya dipenuhi jelaga, pakaiannya kotor, dan napasnya tersengal. Untuk beberapa saat Muhana tidak mengenalinya.
Lalu anak itu memeluknya.
“Ibu!”
“Rahman!”
Muhana langsung merengkuhnya. Ia memeriksa wajah, kepala, dan kedua tangan anaknya, seolah ingin memastikan tidak ada bagian tubuh yang hilang.
“Ya Allah, Rahman… Ibu kira kau…”
Rahman menangis semakin keras.
“Saya cari Ibu.”