SAIDI

Mappamancu
Chapter #22

Siluman Wajah Seribu

“Saidi…?”

Nama itu keluar dari mulut Kapten Rasyid dengan nada yang nyaris tidak terdengar.

Lelaki di hadapannya tidak menjawab. Kain penutup wajah yang robek menggantung di sisi pipi, memperlihatkan sebagian wajah yang selama ini hanya dikenalnya melalui laporan intelijen, kesaksian prajurit, dan cerita-cerita yang beredar di antara satuan TNI di Sulawesi Selatan.

Kapten Rasyid menatapnya lekat-lekat.

Wajah itu lebih tua daripada yang terakhir diingatnya. Garis-garis keras telah terbentuk di sekitar mata dan mulutnya. Ada gurat kelelahan yang tidak pernah ia lihat ketika mereka masih menjadi prajurit muda. Namun, sorot mata itu tidak berubah. Sorot mata yang sama yang pernah berdiri di sampingnya dalam pertempuran, ketika mereka belum mengenal batas antara kawan dan lawan.

“Saidi,” ulangnya.

Kali ini Saidi mengangkat wajah.

“Rasyid.”

Hanya satu nama. Namun, di antara keduanya, nama itu seperti membuka pintu yang telah bertahun-tahun terkunci.

Kapten Rasyid mengangkat tangan, memberi isyarat kepada prajurit yang mulai mengarahkan senjata agar menurunkannya.

“Jangan tembak!”

Prajurit itu ragu.

“Tapi, Kapten…”

“Saya bilang turunkan senjata!”

Senapan itu perlahan merendah.

Saidi masih berdiri dengan pakaian TNI yang dikenakannya untuk menyusup ke kompleks. Kain penutup wajahnya sudah tidak lagi berguna. Ia tahu penyamarannya telah berakhir, dan orang yang kini berdiri di hadapannya bukanlah seorang perwira sembarangan.

Rasyid adalah orang yang mengenalnya jauh sebelum perang mengubah mereka menjadi dua manusia yang berbeda.

***

Mereka pernah berdiri dalam satu barisan.

Bertahun-tahun silam, ketika kemerdekaan negara masih harus dipertahankan dengan senjata dan keberanian, Saidi dan Rasyid sama-sama menjadi bagian dari pasukan Laskar Macan Putih. Mereka bukan sekadar rekan seperjuangan. Mereka pernah berbagi makanan di tengah hutan, tidur berdekatan di bawah hujan, dan mengangkat tubuh kawan yang gugur dari medan pertempuran.

Di masa itu, belum ada seragam yang memisahkan mereka menjadi pihak yang berbeda. Belum ada laporan intelijen yang menempatkan nama salah satu dari mereka sebagai sasaran operasi.

Mereka hanya dua pemuda yang percaya bahwa kemerdekaan harus dipertahankan, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.

Saidi dikenal sebagai orang yang sulit ditebak. Ia tidak hanya mahir membaca medan, tetapi juga mampu memahami kebiasaan manusia. Ia memperhatikan cara seseorang berjalan, cara berbicara, bahkan kebiasaan kecil yang sering luput dari perhatian orang lain.

Kemampuan itu membuatnya menjadi salah satu anggota pasukan yang paling sulit dilacak.

Ketika keadaan berubah dan sebagian bekas pejuang memilih jalan pemberontakan, Saidi ikut masuk ke dalam pusaran konflik. Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan cara hidup seorang gerilyawan. Hanya medan, seragam, dan orang-orang yang dihadapinya yang berubah.

Di antara pasukan TNI, namanya kemudian berkembang menjadi cerita yang sulit dipercaya.

Ada laporan tentang seorang tukang jahit yang pernah memasuki kawasan markas untuk memperbaiki pakaian prajurit, lalu menghilang sebelum pemeriksaan selesai. Ada pula cerita tentang tukang cukur yang beberapa kali melayani anggota TNI, mendengar percakapan mereka, bahkan mengetahui perubahan jadwal penjagaan tanpa seorang pun menyadari bahwa lelaki itu adalah gerilyawan yang sedang dicari.

Tidak semua laporan itu bisa dipastikan kebenarannya. Sebagian mungkin dibesar-besarkan oleh ketakutan para prajurit. Namun, satu hal tidak terbantahkan: Saidi berkali-kali lolos dari pengejaran dan berhasil memperoleh informasi yang seharusnya tidak pernah sampai ke tangan lawan.

Ia bisa hadir di tengah orang-orang yang memburunya tanpa membuat mereka curiga.

Ia bisa menjadi seseorang yang tidak mereka kenal, bahkan ketika mereka sedang mencari dirinya.

Julukan itu kemudian melekat.

Siluman Wajah Seribu.

Bukan karena Saidi memiliki seribu wajah, melainkan karena hampir setiap orang yang pernah melihatnya dalam penyamaran mengingat sosok yang berbeda.

Ada yang mengenalnya sebagai tukang jahit tua. Ada yang mengira ia tukang cukur pendiam. Ada pula yang bersumpah pernah bertemu seorang pedagang kecil yang wajahnya sama sekali tidak menyerupai Saidi.

Bagi pasukan TNI yang memburunya, ia bukan sekadar gerilyawan bersenjata. Ia adalah bayangan yang bisa muncul di tempat paling tidak terduga.

Dan kini, bayangan itu berdiri di hadapan Kapten Rasyid.

***

“Jadi selama ini benar,” ujar Rasyid setelah beberapa saat terdiam. “Kau memang masih hidup.”

Saidi tersenyum tipis, tanpa kegembiraan.

“Bukankah kau seharusnya senang?”

“Senang?” Rasyid menghela napas. “Aku sudah bertahun-tahun menerima laporan tentang orang yang bahkan tidak bisa kupastikan masih hidup atau sudah mati.”

“Dan sekarang kau menemukannya.”

“Bukan aku yang menemukannya. Kau yang datang sendiri ke hadapanku.”

Saidi tidak menjawab.

Rasyid memandang seragam TNI yang dikenakannya, kemudian melirik kain penutup wajah yang robek.

“Masih saja seperti dulu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau selalu punya cara untuk masuk ke tempat yang seharusnya tidak bisa kau masuki.”

Saidi menatapnya datar.

“Sayangnya, kali ini aku tidak cukup beruntung.”

“Tidak. Kau hanya kurang berhati-hati.”

Untuk sesaat, keduanya terdiam. Suara api yang membakar bangunan di belakang mereka ditengah riuh orang-orang menyiram air, terdengar seperti gemuruh yang tidak pernah berhenti.

Rasyid kemudian memandang wajah Saidi lebih lama.

“Aku sudah menduga kau akan muncul di Malino.”

Saidi mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena keluargamu.”

“Jadi kau sengaja membawa mereka ke sini?”

Rasyid tidak segera menjawab.

“Aku tidak membawa mereka ke sini untuk menyiksamu, Saidi.”

“Tetapi kalian menahan mereka.”

“Kami mengamankan mereka.”

Saidi tertawa pendek. Tidak ada kegembiraan di dalamnya.

“Kau masih pandai memilih kata.”

“Aku tidak sedang bermain kata-kata.”

“Lalu apa bedanya mengamankan dan menahan bagi seorang ibu yang tidak bisa pulang?”

Rasyid terdiam.

Ia tahu Saidi tidak sepenuhnya salah. Operasi teritorial yang dijalankan di Malino memang memiliki tujuan untuk mendekati masyarakat, menunjukkan bahwa kehadiran TNI bukan hanya membawa senjata, tetapi juga bantuan dan pelayanan. Namun, bagi keluarga seorang gerilyawan yang sedang diburu, kebaikan itu tetap berada di bawah bayang-bayang kekuasaan senjata.

“Kartini sakit,” kata Rasyid akhirnya. “Kami membawanya ke rumah sakit karena dia membutuhkan perawatan. Kalau kami membiarkannya tetap di hutan, mungkin sekarang anak itu sudah tidak ada.”

Wajah Saidi berubah.

Ia menundukkan kepala sejenak.

Lihat selengkapnya