Lembah Rahasia Bangkeng Batu menyambut Saidi dengan kabut yang belum sepenuhnya terangkat.
Udara pagi terasa lembap. Daun-daun basah menyentuh bahunya ketika ia menerobos semak, sementara luka kecil di pelipisnya kembali mengeluarkan darah akibat benturan saat melarikan diri dari kompleks militer Malino. Napasnya belum teratur. Beberapa kali ia harus berhenti untuk memastikan tidak ada orang yang mengikutinya.
Di belakangnya, Malino masih menyimpan kobaran api.
Ledakan gudang mesiu telah membuat seluruh kawasan militer berubah menjadi kepanikan. Saidi berhasil memanfaatkan kekacauan itu untuk meloloskan diri, tetapi ia tidak tahu berapa banyak prajurit yang masih mengejarnya. Ia juga tidak tahu apakah Kapten Rasyid benar-benar akan menepati janjinya untuk menjaga Muhana dan anak-anaknya.
Pikiran tentang keluarganya terus mengganggu langkahnya.
Ia telah melihat mereka. Muhana masih hidup. Sitti dan Rahman berhasil ditemukan. Kartini juga sempat diselamatkan dari bangsal yang terbakar. Bahkan Tayyeb, yang selama ini dianggapnya mungkin telah hilang dalam pertempuran, ternyata muncul kembali.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka sempat berkumpul.
Namun, pertemuan itu berlangsung terlalu singkat.
Saidi tahu ia harus kembali ke hutan. Ia tidak mungkin membawa seluruh keluarganya keluar dari kompleks militer dalam keadaan seperti itu. Kartini masih membutuhkan perawatan, sementara Muhana dan anak-anak lainnya berada di bawah pengawasan TNI.
Ia harus mencari jalan lain.
Dan untuk itu, ia membutuhkan pasukannya.
Ketika matahari mulai naik, Saidi tiba di sebuah jalur sempit yang biasa digunakan anggota gerilya untuk mencapai persembunyian di sekitar lembah Bangkeng Batu. Ia mengenali pohon besar yang batangnya terbelah dua, batu hitam di dekat aliran air, serta bekas tanda kecil pada akar yang menunjukkan jalur aman.
Namun, ketika ia tiba di titik penjagaan, dua orang bersenjata langsung menghadangnya.
“Berhenti!”
Saidi mengangkat kedua tangan.
“Ini aku.”
Kedua penjaga itu saling berpandangan.
“Siapa?”
“Saidi.”
Salah seorang dari mereka mengangkat senapan lebih tinggi.
“Jangan bergerak!”
Saidi mengernyit.
“Kau tidak mengenaliku?”
“Justru karena kami mengenalmu, kami harus berhati-hati.”
Saidi terdiam.
Beberapa detik kemudian, salah seorang penjaga mendekat, memeriksa wajah dan pakaian Saidi. Ia memperhatikan luka di pelipisnya, seragam TNI yang masih dikenakannya, serta kain penutup wajah yang tergantung robek di leher.
“Dari mana kau datang?”
“Malino.”
Kedua penjaga itu kembali bertukar pandang.
“Malino?”
“Aku harus bertemu komandan.”
“Siapa yang mengizinkanmu masuk?”
Saidi mulai kehilangan kesabaran.
“Aku anggota pasukan ini. Kalian tahu siapa aku.”
Penjaga yang lebih tua menatapnya tajam.
“Justru itu masalahnya.”
***
Berita kedatangan Saidi menyebar lebih cepat daripada langkahnya.
Di markas sementara, beberapa anggota pasukan berkumpul. Mereka telah mendengar bahwa Saidi menghilang setelah bentrokan di markas Momok, kemudian terlihat di Malino bersama keluarga yang berada dalam pengawasan TNI. Ada pula kabar bahwa Kapten Rasyid, mantan kawan seperjuangan Saidi, kini memimpin operasi militer di kawasan itu.
Kepulangan Saidi sendirian membuat semua kabar tersebut terasa semakin mencurigakan.
Ketika ia dibawa memasuki halaman markas, tidak ada seorang pun yang menyambutnya seperti seorang kawan yang baru kembali dari pelarian berbahaya.
Beberapa orang hanya memandang dengan wajah dingin. Yang lain berbisik sambil memperhatikan seragam TNI yang masih melekat pada tubuhnya.
Saidi melihat Bahar Mattaliu berdiri di depan sebuah bangunan kayu. Di sampingnya terdapat beberapa anggota staf dan penjaga bersenjata.
“Saidi,” kata Bahar.
Saidi mengangguk.
“Komandan.”
Bahar tidak segera membalas. Matanya menyapu tubuh Saidi, dari pakaian hingga wajahnya.
“Kau datang dari mana?”
“Malino.”
“Bagaimana kau bisa keluar?”
“Terjadi ledakan di kompleks militer. Aku memanfaatkan kekacauan itu.”
“Ledakan?”
“Gudang mesiu terbakar. Setelah itu, penjagaan mereka kacau.”
Bahar menyilangkan tangan.
“Dan kau berhasil keluar begitu saja?”
Saidi mengangguk.
“Ya.”
“Dari kompleks yang dijaga ketat?”
“Aku tahu jalur keluarnya.”
Bahar tersenyum tipis.
“Menarik.”
Saidi mulai merasakan sesuatu yang tidak beres.
“Ada apa, Komandan?”
Bahar tidak menjawab langsung. Ia justru menoleh kepada seorang anggota staf.
“Berapa laporan yang sudah kita terima tentang kegiatan Saidi?”
“Beberapa laporan, Komandan.”
“Bacakan.”
Anggota staf itu membuka catatan kecil.
“Pertama, laporan bahwa Saidi beberapa kali terlihat memasuki kawasan yang dikuasai TNI dengan penyamaran sebagai warga sipil. Kedua, laporan bahwa ia pernah memperoleh informasi mengenai pergerakan pasukan sebelum operasi berlangsung. Ketiga, laporan bahwa ia berhasil keluar dari pengawasan TNI di Manipi dan Malino.”
Saidi menatapnya.
“Semua itu sudah kalian ketahui.”
“Belum selesai,” kata Bahar.
Anggota staf itu melanjutkan.
“Keempat, pimpinan operasi TNI di Malino adalah Kapten Rasyid, mantan rekan seperjuangan Saidi ketika masih menjadi anggota Laskar Macan Putih.”
Suasana mendadak hening.
Bahar menatap Saidi.
“Benarkah?”
“Benar.”
“Sejak kapan kau mengenalnya?”