“Mar, Umar, bangun…”
Sebuah suara membangunkan Umar dari mimpi yang tak ingin ia tinggalkan.
Bukan karena indah, tapi karena terlalu menyakitkan untuk ditinggal sendirian.
Matanya terbuka pelan,
menyambut dunia yang tak pernah benar-benar menyambutnya.
Nafasnya masih tercekat oleh mimpi—masa kecil yang kembali hadir tanpa permisi.
Ia masih bisa melihat dirinya, kecil, kurus, dan dibungkus cacian dan hujatan ayahnya.
Ditelantarkan begitu saja oleh ibunya, hanya dengan ditemani selembar surat yang tak pernah ia baca sendiri:
“Maafkan ibu.”